Strategi Digital yang Efektif Bagi Musisi Pendatang Baru Bersama Spotify

Strategi Digital yang Efektif Bagi Musisi Pendatang Baru Bersama Spotify

Strategi Digital yang Efektif Bagi Musisi Pendatang Baru Bersama Spotify

Strategi digital? Ya sebenarnya ini bukan suatu strategi, karena kalau judulnya membawa embel-embel “strategi…” seolah-olah saya merupakan orang yang ahli alias pakar yang memahami segala situasi. Karena saya hanya ingin sedikit beropini melalui blog ini, mungkin lebih tepat yang bisa dibaca dari judul diatas adalah “langkah-langkah…”

Bagaimana dan dimana harus memulainya?

Sedikit berkisah pada bulan Mei 2018 lalu Warner Music Group secara diam-diam juga bertindak sebagai digital distribution service, bersaing dengan layanan yang sama (distribusi digital) seperti: Tunecore, Distrokid, CD Baby, Ditto, dll. Melalui brand Level Music, Warner Music Group membuka pintu lebar-lebar bagi musisi independen (unsigned artists) dari belahan dunia manapun untuk bergabung dalam jalur distribusi digital mereka. Saat ini Level Music dalam versi beta masih gratis dan tanpa dikenakan biaya apapun. Sementara, hal yang sama juga telah dilakukan duluan oleh raksasa label Universal Music, dengan membuka jalur distribusi digital melalui Spinnup pada November 2016 lalu, dengan konsep berbayar.

Peran aggregator (Level Music & Spinnup) yang dimiliki oleh para ‘raksasa’ label ini, kalau saya melihatnya juga sebagai fungsional A&R (Artist & Repertoire) yang saat ini mungkin dianggap sudah kurang berperan. Sejak maraknya konsep musik digital dan berubahnya pola-pola di industri, kini musisi tidak perlu repot-repot datang ke perusahaan rekaman dengan membawa materi proposal dan menawarkan demo berupa kaset atau CD misalnya.

Kembali ke topik utama di atas, langkah efektif apa saja yang harus dilakukan bagi musisi pendatang baru supaya bisa lebih dikenal di era maraknya pengaliran musik (music streaming) saat ini? Cukup menggunakan Spotify! Spotify adalah layanan pengaliran musik (music streaming) yang berasal dari Swedia, dan pada bulan Oktober 2018 ini tepat menginjak berumur 10 tahun. Oya, tips ini bisa saja tidak hanya terkait dengan pendatang baru, mungkin saja ada solois atau band (superstar, established) yang mandiri dan terus ingin melakukan kegiatan pemasaran bisa memaksimalkan Spotify.

Mengapa harus Spotify?

Spotify Q3 2018

Spotify Q3 2018

Beberapa alasan dan faktor yang jadi pertimbangan menurut pendapat saya, Spotify yang per data 30 September 2018 ini melaporkan:

  • memiliki 191 juta pengguna aktif
  • memiliki 87 juta pelanggan berbayar
  • terdapat lebih dari 40 juta lagu
  • tersedia lebih dari 3 milyar playlist
  • diakses di 65 negara

Spotify juga memiliki berbagai layanan dan dukungan yang sangat menarik dan selalu penuh inovasi bagi musisi. Mengutip dari blog resmi For the Record yang selalu update dengan cepat, sebagai berikut:

Layanan ini baru tersedia secara terbatas untuk musisi-musisi independen di Amerika Serikat. Jadi kita bisa langsung mengunggah konten lagu secara langsung ke Spotify tanpa harus melalui pihak ketiga. Jika kalian mewakili artis langsung atau sebagai manager artis, cukup dengan melakukan klaim profil website artis, akun Twitter, dan akun Instagram. Untuk mendapatkan undangan Spotify for Artists bisa daftar disini.

Untuk keperluan mengunggah konten ke Spotify, pastikan dan siapkan juga kriteria sebagai berikut:

  1. Fail lagu dalam format: WAV, WAVE, atau FLAC (16- atau 24-bit, sample rates 44.1kHz)
  2. Format WAV dan WAVE adalah PCM
  3. Album art: 1600 x 1600px format PNG atau format JPEG
  4. Nama-nama kolaborator: pencipta lagu, artis pendukung, produser, dll.
  5. Data ISRC (International Standard Recording Code)

Oya, nantinya layanan Spotify for Artists juga bakal terintegrasi dengan layanan DistroKid, merupakan layanan distribusi musik digital. Jadi ketika mengunggah langsung konten ke Spotify secara bersamaan bakal terhubung juga dengan platform musik lainnya: Apple Music, Deezer, Amazon Music, Pandora, dll. Semua ini bisa terjadi karena Spotify telah membeli saham ‘minoritas’ di DistroKid.

Co.Lab adalah semacam serial event yang difasilitasi dan didesain oleh Spotify, menghubungkan antara talenta/artis dengan berbagai pihak terkait seperti perwakilan perusahaan rekaman, promotor musik, konsultan kreatif, dll., dimana dalam setiap pertemuan yang diadakan membahas tema-tema yang terkait dengan bisnis musik terkini.

Masih dalam tahap versi beta, adalah layanan yang diperuntukkan bagi para publisher, untuk analisa secara global untuk lagu, album, hingga pencipta lagu, daftar putar (playlist), dll.

Daftar putar atau playlist yang dimiliki Spotify ini menurut saya adalah paling fenomenal. Begitu ‘menusuk hati’ menurut saya atau istilahnya gue banget… berbagai genre dalam berbagai suasana dan gaya, mulai dari sajian bangun tidur hingga menjelang beranjak ke peraduan (Mager Parah, Songs to Sing in the Shower, IndieNesia, Late Night Jazz, Generasi Galau, Deep Focus, Kopikustik, Confidence Boost, Relax & Unwind, Old School Metal, Indofolk, dll.).

Bagaimana cara mengajukan lagu atau album kita masuk ke dalam daftar putar Spotify dan bisa diterima tim editorial? Simak dua video berikut ini:

 

 

Dengan adanya berbagai macam pilihan media, saat ini untuk menarik ‘perhatian’ bisa dibilang cukup sulit. Yang perlu kita lakukan adalah konsisten dan fokus di ‘satu tempat’, melakukan promosi efektif, dan selanjutnya biarkan karya lagu yang “berbicara”…

Dan sayapun sangat berharap ada layanan musik nasional alias dalam negeri yang nantinya bisa tumbuh berkembang seperti Spotify. Mimpi dan harapan saya, suatu saat layanan LangitMusik – Telkomsel yang menjelang berumur 9 tahun bisa mengikuti jejak-jejak kreatif Spotify yang penuh dengan inovasi dan bisa lebih berkembang dengan cepat.

Setuju kan kalau kita mendukung sepenuhnya layanan musik lokal yang sepenuhnya memberikan support bagi musisi dalam negeri? Oya, mungkin saja tulisan saya selanjutnya di blog ini bakal terkait dengan LangitMusik.

Foto: SG Creative

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik (PDDP Musik) judul yang saya berikan dalam tulisan blog kali ini, setelah saya terinspirasi membaca satu artikel minggu lalu yang merilis berita kerjasama antara layanan pengaliran musik (music streaming) Spotify dengan Nielsen yang merupakan perusahaan riset global.

De.mo.gra.fi /démografi/ yang mengacu pada KBBI berarti: ilmu tentang susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk; ilmu yang memberikan uraian atau gambaran statistik mengenai suatu bangsa dilihat dari sudut sosial politik; ilmu kependudukan.

Informasi demografi dari penggemar musik ini mungkin kita belum melihatnya sebagai kesatuan “big data” yang sebenarnya merupakan ‘aset’ yang sangat berharga. Big data yang salah satunya bersumber dari konten media sosial, gambar digital dan video, pembelian dan transaksi daring, twit, telepon seluler, dll., semuanya bisa dimanfaatkan, diolah, disimpan serta bisa dianalisa dalam beragam bentuk format. Tentunya tidak hanya berkaitan dengan demografi.

Terkait dengan pengelolaan data fan atau penggemar ini, ternyata Metallica juga tidak mau ketinggalan untuk pemanfaatan-nya. Bekerjasama dengan Spotify, Metallica menggunakan data pengguna Spotify untuk menentukan ‘setlist’ lagu di tiap konsernya di masing-masing kota yang berbeda. Dengan membaca dan mengolah data ini sebelum mereka tampil di London, Paris, ataupun Swedia misalnya, pihak Metallica jadi lebih memahami lagu apa yang sering diputar dan paling diminati di tiap kota. Realisasinya adalah terdapat perbedaan ‘setlist’ lagu-lagu Metallica saat konser di tiga kota tersebut.

Jika kita melihat playlist Spotify “Top Tracks of 2017 Indonesia”, dari urutan 50 lagu tersebut terdapat: Payung Teduh – Akad, Armada – Asal Kau Bahagia, Rizky Febian – Cukup Tau, Payung Teduh – Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan, dan Jaz – Kasmaran. Saya tidak mengetahui apakah dari daftar artis-artis ‘top’ tersebut pihak label rekamannya, manajemen artis, atau si artisnya sendiri, sudah memanfaatkan data digital yang berhubungan dengan penggemar? Misal melihat pertimbangan dari sisi demografi si-user: faktor usia, lokasi, pendidikan, dll., yang kesemuanya bisa menjadi tolak ukur untuk melihat potensi daya beli atau besarnya pasar dari para penggemar musik tersebut.

Menurut data dari pihak Spotify Asia tahun 2017 lalu, orang Indonesia mendengarkan musik setidaknya tiga jam dalam sehari dan termasuk yang gemar membuat daftar putar (playlist). Dan terdapat tiga momen utama yang jadi puncak bagi banyak orang mengakses layanan pemutar musik daring, yaitu:

  • saat pagi hari ketika berada di jalan
  • setelah makan siang
  • di atas jam 9 malam saat hendak beristirahat di rumah

Dalam era kemajuan teknologi informasi saat ini, dengan modal data digital tersebut, selain urusan manajemen artis/label rekaman yang dituntut untuk lebih kreatif, menurut saya hal ini juga bisa menjadikan peluang bagi tumbuhnya “boutique agency”, semacam agensi kreatif atau konsultan skala kecil yang akan membantu musisi-musisi yang sudah mapan ataupun pendatang baru untuk menyasar penggemar (segmentasi – IMHO) agar lebih fokus dan untuk memberikan service ataupun content yang lebih pas bagi para penggemar. Hal yang juga penting adalah bagaimana dengan data yang diolah tadi si musisi beserta manajemen-nya tadi bisa menarik calon sponsor ataupun investor. Intinya musisi perlu terus berinovasi dan berkreasi dengan memanfaatkan data digital.

Dari semua hal ini, kesimpulan yang mau saya sampaikan adalah: memanfaatkan dan mengolah data untuk terus “jualan”. Saya bukanlah orang yang merupakan ahli strategi pemasaran ataupun pandai untuk ‘berjualan’, tapi saya mau terus belajar terkait pengelolaan big data ini.

Ayo kita kelola secara baik data yang ‘bertebaran’ ini…

 

Foto: William Krause

Video Vertikal

02-20180619-KS-pamelachen-IMG_0157-2160_lo

Kevin Systrom, CEO & Co-Founder Instagram

Dalam satu event yang digelar di San Fransisco pada hari Rabu tanggal 20 Juni 2018 kemarin, CEO & Co-Founder Instagram, Kevin Systrom, memberikan keterangan resmi terkait dengan dua hal yaitu: mengumumkan jumlah pengguna Instagram di seluruh dunia yang sudah mencapai angka 1 miliar, dan yang kedua adalah rilis aplikasi baru ‘IGTV’ platform konten video vertikal dengan durasi 1 jam.

Tentu saja bisa ditebak dengan dirilisnya IGTV ini berarti menandakan Instagram yang dimiliki Facebook siap ‘perang besar’ dengan YouTube yang dikuasai oleh Google. Tidak salah bagi Mark Zuckerberg/Facebook saat mengakuisisi Instagram pada April 2012 dengan ‘murah’ senilai USD 1 miliar atau hampir 13 trilyun (sementara WhatsApp diakuisisi lebih dari USD 19 miliar).

Berbicara soal konsep video vertikal di era kekinian saat ini, pastinya menjadikan daya tarik besar bagi generasi sekarang. Yang jelas kita sebagai pengguna tidak perlu repot-repot memutar layar smartphone, seperti halnya video dengan tampilan horizontal (YouTube).

instagram-800m-2017-09

Instagram mencapai 800 juta pengguna di bulan September 2017

Derasnya dan cepatnya arus informasi hingga konten sekarang ini, bagi generasi kekinian (Gen Y, Gen Z, hingga Gen C/YouTube Generation) yang merupakan konsumen ‘mobile’ setiap saat, format vertikal ini bakal menjadi satu kemudahan. Bagi para kreator konten video, konsep video vertikal dengan durasi panjang ini akan menjadikan peluang baru. Hal yang sama juga merupakan tantangan bagi digital agency/influencer marketing agency hingga digital marketers untuk terus berkreasi dan berkarya.

Untuk beberapa waktu kedepan… kita bakal terbiasa dengan video ‘tegak lurus’ alias full-screen di layar smartphone dan mungkin mulai mengurangi konsumsi konten video horisontal.

 

Foto & Grafis: Instagram Info Center

YouTube Music

Android_All_English

YouTube Music

Dalam keterangan blog resmi yang dirilis oleh YouTube pada tanggal 16 Mei 2018 lalu disebutkan bahwa pada tanggal 22 Mei 2018 akan diluncurkan layanan YouTube Music di beberapa negara: Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Meksiko, dan Korea Selatan.

Konsep YouTube Music ini adalah merupakan gabungan layanan aplikasi pengaliran musik (music streaming) dengan konsep konten video milik YouTube. Terdapat dua jenis layanan yaitu gratis (dengan sisipan iklan), dan layanan berbayar YouTube Music Premium sebesar $9.99 per bulan.

Karena layanan ini masih eksklusif di beberapa negara tertentu, saya sendiri belum bisa banyak bercerita bagaimana keunggulan ataupun kelebihan dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan dari YouTube Music ini, dibandingkan dengan aplikasi pengaliran musik yang hampir sama seperti: Spotify, Deezer, TIDAL, dll. Sampai saat ini saya juga masih belum bisa menikmati layanan-layanan premium pendukung YouTube Music, seperti YouTube Red dan Google Play Music, yang masih terbatas tersedia di beberapa negara saja.

Dalam hitungan beberapa minggu kedepan, layanan YouTube Music ini juga akan menjangkau ke negara-negara: Austria, Kanada, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Irlandia, Italy, Norwegia, Russia, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Inggris. Indonesia? Mungkin tahun depan sebelum pilpres…

Berbicara mengenai aplikasi pengaliran musik, tentunya tidak bisa dilepaskan dengan adanya Spotify yang menurut data resmi kini memiliki pengguna berjumlah 75 juta pengguna berbayar (kuartal I/2018) dan hampir 170 juta pengguna yang aktif tiap bulan, serta telah tersedia di hampir 65 negara. Di bulan Mei 2015 Spotify pernah memperkenalkan layanan tambahan seperti podcasts dan video.

Saya pribadi merupakan pengguna Spotify cukup lumayan lama, sejak jaman mengakses dengan VPN di tahun 2012/2013, kemudian memiliki akun Spotify di AS dan membayar akses premium dengan Spotify Gift Card, hingga ‘terpaksa’ migrasi akun ke Spotify Indonesia begitu layanan ini mulai aktif dan bisa diakses disini. Bisa dibilang saya termasuk ‘addicted’ dengan Spotify, pilihan menggunakan fasilitas premium juga bukan tanpa alasan. Bagi saya ‘kesederhanaan’ tampilan, penggunaan yang mudah, pilihan playlist sesuai mood dan relevan dengan segala situasi, menjadikan Spotify layak untuk dicintai dan dipergunakan untuk ‘music discovery’ dan menjadi pelengkap kegiatan sehari-hari dimanapun/kapanpun.

Akankah layanan YouTube Music ini bakal sejajar dengan Spotify atapun Apple Music? Mungkin saja… Atau bisa saja dalam kurun waktu kedepan nantinya perusahaan induk Google, Alphabet Inc., bakal mengakuisisi Spotify seperti yang pernah dirumorkan di tahun-tahun sebelumnya? Atau bisa jadi Apple Inc. bakal mengakuisisi layanan pengaliran musik dari Perancis, Deezer, ataupun TIDAL, hingga yang akan terjadi kemudian adalah pemain pengaliran musik global hanya menyisakan dua raksasa teknologi & perusahaan media digital yang bakal bertarung: Google vs. Apple? 👻💰🙃

Bagaimana dengan Facebook? Setelah membereskan urusan lisensi untuk konten video dengan Universal Music Group, Sony / ATV Music Publishing, dan terakhir Warner Music Group pada Maret 2018 lalu, usai urusan Cambridge Analytica beres mungkin bisa saja Facebook Inc. bakal ikut meramaikan layanan pengaliran musik (music streaming), dengan merilis Facebook Music, kita tunggu saja…

Oiya, bagaimana dengan platform milik orang terkaya di dunia saat ini, Amazon? Apakah dengan mulai giatnya aneka lini bisnis Amazom ‘merangsek’ ke wilayah Asia Tenggara, bakal juga diikuti dengan memunculkan layanan pengaliran musik Amazon Music yang sudah tersedia di 46 negara? Ahh, banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi…

Sebagai Gen-X yang aktif dengan layanan digital, kini saya cukup menunggu kehadiran YouTube Music di Indonesia, sembari saya ‘tetap setia’ menghabiskan waktu 2-4 jam sehari bermain-main dan menemukan yang ‘baru’ di Spotify… Waktu sekarang saya sedang dan sering mendengarkan Waxahatchee.

Oiya, bagi kalian semuanya musisi/komposer/penerbit musik/perusahaan rekaman/aggregator konten yang memiliki konten lagu & video tentunya bersiap-siap memanfaatkan jalur distribusi musik digital baru ini, YouTube Music.

 

Sumber: YouTube Official Blog

Pariwisata Musik

Pariwisata Musik

Pariwisata Musik

Dalam tulisan di blog kali ini saya berniat membahas mengenai konsep “pariwisata musik”. Satu hal yang ingin fokus saya pelajari dan dalami dalam kurun waktu ke depan, termasuk keinginan untuk bisa hadir di Music Tourism Convention yang akan diselenggarakan di Cologne, Jerman, pada tanggal 29 Agustus 2018 yang akan datang. Kegiatan konvensi pariwisata musik internasional ini akan mengambil tema The Importance of Music Genres in Tourism Identity. Gagasan atau ide “pariwisata musik” ini menurut pengamatan saya baru dibicarakan oleh segelintir orang, namun tanpa disadari di Indonesia sebenarnya sudah berjalan sekian waktu meski tidak memiliki ’embel-embel’ atau label resmi “pariwisata musik”.

Melalui referensi seorang kawan, Fakhri Zakaria, yang banyak menulis soal musik, dan melalui beberapa pencarian di internet, saya juga bisa menemukan satu tesis dari mahasiswa S2 Kajian Pariwisata UGM yang bertemakan “pariwisata musik”. Tesis ditulis oleh Aunurrahman Wibisono sejak akhir tahun 2015, dan beberapa bagian dipublikasikan melalui situs Perpustakaan Pusat UGM.

Berikut mengutip intisari dari tesis berjudul “Potensi Pariwisata Musik Sebagai Alternatif Pariwisata Baru Di Indonesia (Contoh Kasus Java Jazz)” tersebut:


Pariwisata musik termasuk dalam kategori wisata minat khusus. Jenis pariwisata ini tumbuh pesat mulai setidaknya dua dekade terakhir, terutama di kawasan Britania Raya. Indonesia sebagai negara dengan jumlah kelas menengah yang bertumbuh drastis, berpotensi menjadikan pariwisata musik sebagai alternatif pariwisata baru. Saat ini sudah semakin banyak festival musik maupun konser di Indonesia. Hal ini juga didorong oleh kebosanan wisatawan terhadap pariwisata massal di Indonesia.

Sayangnya, hingga saat ini nyaris tidak ada kajian ilmiah terhadap potensi pariwisata musik di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi pariwisata musik di Indonesia. Dalam penelitian ini digunakan beberapa analisis kualitatif dan juga memasukkan beberapa data kuantitatif terkait dengan tingkat okupansi hotel.

Penelitian ini memakai contoh kasus festival Java Jazz. Festival yang pertama kali diadakan pada 2005 ini menjulang jadi salah satu festival jazz terbesar di dunia. Hasil dari penelitian ini adalah festival musik sangat berpotensi untuk jadi alternatif pariwisata baru. Secara konsep pariwisata, festival musik seperti Java Jazz telah memberikan efek terhadap pariwisata. Baik berupa dampak ekonomi, peningkatan okupansi hotel, hingga terciptanya lapangan pekerjaan. Diharapkan di masa depan, akan semakin banyak orang yang mengkaji tentang pariwisata musik. Juga diharapkan para pengampu kepentingan mulai memasukkan festival musik sebagai bentuk pariwisata baru di Indonesia.


Berbicara soal jazz, saya juga teringat dari update status mas Donny Hardono di Facebook pada 11 Maret 2018 lalu. Beliau merupakan pemilik dan vendor tata suara yang banyak menangani kegiatan ataupun event musik nasional/internasional, dan juga merupakan penggerak dan ‘aktivis’ jazz. Saya sendiri bukan merupakan sosok jazz-fanatic, tapi status yang beliau tulis adalah berbagai titel dan event jazz dari berbagai wilayah (yang tidak semuanya saya ketahui 🤩), seperti dibawah ini:

  • Java Jazz Fest
  • Jazz Traffic Fest
  • Jazz Goes To Campus
  • Kampoeng Jazz
  • Malang Jazz Fest
  • Boyjazz Fest
  • Prambanan Jazz Fest
  • Tangsel Jazz
  • Economic Jazz Live
  • Ramadhan Jazz
  • Jazz Gunung
  • Jazz Atas Awan
  • Ijen Summer Jazz
  • Banyuwangi Beach Jazz Fest
  • Ngayogjazz
  • Solo City Jazz
  • Jazz Marker By The Sea
  • ASEAN Jazz Fest
  • Ubud Village Jazz Fest
  • Loenpia Jazz Semarang
  • Makassar Jazz Festival
  • North Sumatra Jazz Festival

Sementara pada akhir Maret 2018 lalu, Christian Rijanto selaku Co-Founder dan Marketing Director Ismaya Group, mengumumkan ekspansi internasional pertamanya ke China yang akan diselenggarakan tahun ini. DWP atau Djakarta Warehouse Project adalah merupakan festival musik elektronik tahunan terbesar di Indonesia, yang tahun ini memasuki tahun ke-10. DWP China ini akan menjadi festival pertama dari rangkaian acara DWP yang diselenggarakan di luar Indonesia, yaitu DWP International.

Menurut saya sungguh sangat luar biasa langkah ekspansi internasional ini. Setelah cukup settled dan established di kampung halaman, saatnya ‘menjajah’ dan memperluas pasar ke luar. Oya, mengutip dari Wartakota, bahwa dari kegiatan DWP 2017 lalu, pihak promotor mematok angka Rp 350 miliar untuk pemasukan ke DKI Jakarta dari gelaran acara tersebut. Dengan perhitungan optimis, dari 100 ribu pengunjung, 35 persen atau 35 ribu di antaranya adalah orang asing. Sementara pada gelaran DWP 2016, menurut pihak penyelenggara acara dari event tersebut mampu mendulang devisa wisatawan asing sebesar Rp 200 miliar lewat paket kunjungan mereka ke Jakarta.

Pariwisata Musik

Pariwisata Musik

Nah, kembali lagi berbicara soal konsep “pariwisata musik” tadi, bahwa sesungguhnya kita memiliki potensi dan peluang sangat besar dari berbagai kegiatan ini. Bahkan kini pihak BUMN juga mulai ‘melirik’ menggarap event konser, seperti yang diselenggarakan di De Tjolomadoe, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah pada 24 Maret 2018 lalu. Lokasi bekas pabrik gula yang direvitalisasi oleh Enam Grup BUMN: PT PP (Persero), PT PP Properti, PT Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur, dan Ratu Boko (Persero), dan PT Jasa Marga Properti, disulap menjadi venue yang memiliki nilai komersil, concert hall. Konser perdana di tempat tersebut menghadirkan artis internasional dan nasional: David Foster, Brian McKnight, Anggun, Dira Sugandi, Sandy Sandhoro dan Yura Yunita, dihadiri ribuan orang. Oya berbicara sosok David Foster (sebelum jadi mainstream di Indonesia 😍), kami pernah berjumpa, ngobrol dan makan malam bersama di Jakarta pada 26 Oktober 2010 lalu, fotonya ada disini.

Menengok gelaran artis internasional lainnya, dalam rangkaian tour dunia yang akan datang juga akan hadir sosok diva internasional Mariah Carey yang akan menggelar konser di Taman Lumbini, Candi Borobudur, pada tanggal 6 November 2018. Konser yang dipromotori oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) ini menjual tiket mulai dari harga 1 juta, 2 juta, 3,5 juta, 7 juta, hingga harga khusus kelas Super VVIP. Konsep yang cukup simple: musik dan tempat wisata!

Masih kaitannya dengan “pariwisata musik”, jangan lupa bahkan pemerintah Kabupaten Boyolali juga akan menghadirkan band rock legendaris dunia “Europe” untuk konser pada tanggal 12 Mei 2018 mendatang di Stadion Pandan Arang Sonolayu, Boyolali. Dengan menjual tiket Festival A seharga Rp100.000 dan kelas Festival B seharga Rp75.000. Tiket mulai dijual perdana di Pendapa Alit Rumah Dinas Bupati Boyolali, pada hari Minggu 4 Maret 2018 lalu. Melalui pertunjukan konser band “Europe”, warga Boyolali ingin menunjukkan bahwa Kota Susu ini juga layak dikunjungi sebagai destinasi wisata.

Masa lalu saya yang lebih dari 20 tahun banyak berurusan dengan musik, mulai dari merintis bekerja sebagai freelancer di event panggung musik kecil, kemudian urusan band-management, hingga bisa duduk jadi manajer eksekutif di salah satu perusahan rekaman internasional; membuat saya terus ingin belajar dan berkembang mengikuti kemajuan musik/industri, khususnya memperdalam mengenai konsep “pariwisata musik” ini. Saya berniat belajar kepada seorang kawan lama yang kini bermukim di Amerika Serikat, Robin Malau (veteran musik rock, pengamat teknologi terkini, dosen pengajar, pembicara musik internasional), yang telah banyak melanglang ke luar negeri dan banyak berkutat mengenai “Kota Musik”.

Menurutnya definisi “Kota Musik” yang paling mendasar adalah “tempat di mana ekonomi musik dapat hidup dan berkembang“. Semakin banyak pemerintah dan pemangku kepentingan dari seluruh penjuru dunia yang melihat strategi membuat kota yang ramah musik dapat memberikan keuntungan yang signifikan. Apakah kota Anda ingin dikunjungi turis? Menjadi tempat tinggal anak muda berbakat? Membangun merk kota? Coba gunakan musik.

Strategi apa yang bisa diterapkan kota-kota Indonesia untuk menerapkan strategi “Kota Musik”? Menurut Robin Malau, yang kini menjabat sebagai Asia-Pacific Business Development Consultant – Sound Diplomacy, beberapa strategi mendasar yang bisa diadopsi dan diterapkan di Indonesia, salah satunya adalah “pariwisata musik”.

Di tahun 2015, sektor live musik di kota Bristol-Inggris memberikan kontribusi £123 juta atau hampir 2,5 trilyun rupiah pada ekonomi lokal. Ini sama nilainya dengan nilai industri Indonesia tahun 2013. Sementrara itu di tahun lalu, pariwisata musik menghasilkan £3,2 milyar atau sekitar 60 trilyun ke ekonomi di UK dan memberikan pekerjaan tetap pada setidaknya 50 ribu orang. Aset pariwisata musik kota tidak hanya lokasi live musik, tapi juga bisa termasuk gedung pusat musik, festival, tempat belanja merchandise, hingga lokasi-lokasi musik yang bersejarah.

Mari kita tengok highlight dari tulisan Shain Shapiro, PhD selaku Founder & CEO Sound Diplomacy / Co-Founder Music Cities Convention & Music Tourism Convention, dalam rangka 5 tahun keberadaan Sound Diplomacy, di platform Medium pada 3 April 2018 lalu:

Remember, Music Tourism is a Thing: We created a conference to explore music and tourism last year, we’ve since held 2 editions and had over 300 businesses, cities and tour operators attend. Many cities rely on music heritage to entice tourists, but music heritage is everywhere. You don’t need to be Nashville, Vienna or New Orleans to capitalise on music tourists. There’s a Depeche Mode bar in Tallinn that welcomes thousands of tourists a year. There’s a statue of Frank Zappa in Lithuania that is a tourist attraction. The corner of Winslow, Arizona drives the economy of the town, due to the Eagles. Music is everywhere, more places will begin to recognise their music.

Dan melalui tulisan di blog ini saya juga memiliki satu keinginan untuk menemukan dan melakukan pitching ke beberapa investor potensial yang memiliki ‘jiwa seni dan musikalitas’ terkait dengan konsep “pariwisata musik”. Sudah ada beberapa konsep “pariwisata musik” yang siap untuk diagendakan dan digelar usai Lebaran 2018 nanti hingga masuk menjelang masa kampanye Pilpres 2019. Dimulai dari Lampung dan sekitarnya, kemudian kota-kota lain di pulau Sumatera, dan bahkan berkeinginan untuk menggelar program “pariwisata musik” ini secara nasional.

Mari bersinergi secara positif untuk kemajuan musik Indonesia dan pariwisata Indonesia!

Foto: Hanny Naibaho, Ariel Santos

Kembali ke WordPress

wordpress-923188_1920_1600

WordPress

Setelah melalui beberapa pertimbangan dan keefektifan, maka per hari ini Jumat 30 Maret 2018 tepat di tanggal 12 Rajab 1439 H, saya menghentikan semua aktivitas blog di Medium dan kembali lagi aktif menggunakan platform WordPress ini… he… he…

Beberapa faktor yang menjadi alasan utama adalah:

1. Mengenai jumlah traffic

Saat ini dari total jumlah seluruh website yang ada di dunia ini, hampir 30%-nya menggunakan platform WordPress, suatu bukti bahwa platform ini tidak bisa dianggap sebelah mata, dan nampaknya bakal terus tumbuh berkembang. Saya sendiri tidak pandai untuk melihat dan menganalisa statistik atau hal-hal analytic lainnya. Tapi sejak terakhir tulisan saya di WordPress pada 19 Oktober 2016 dan hingga per Maret 2018 kemarin, cukup lumayan ada sekian puluh ribu pengunjung yang sering dan masih berkunjung ke blog ini.

2. Kustom domain

Saat ini ternyata Medium sudah menghentikan layanan kustom domain, alias penggunaan domain pribadi. Saya menyadarinya setelah beberapa waktu lalu sempat ada terkendala saat penggunaan domain dot.id (antonkurniawan.id) yang sudah expired, hingga akhirnya membuat blog di Medium tersebut tidak bisa diakses. Setelah meminta reset ke pihak Medium, akhirnya blog bisa kembali aktif namun dengan catatan saat ini pihak Medium sudah tidak bisa lagi menyediakan layanan personalisasi domainJadi untuk tautan publikasi kita hanya dikenal seperti ini: medium.com/publication-name URL. Oya, yang dulu awalnya gratis, saya baru tahu kalau untuk kustom domain Medium sekarang ini ada dikenakan biaya $75.

3. Kesederhanaan

Hal penting lainnya yang membuat saya memutuskan untuk kembali ke WordPress adalah kesederhanaan. Bagi orang awam seperti saya, simpel-nya platform blog WordPress mudah dipergunakan, sementara Medium agak rumit dan memerlukan waktu untuk belajar meski sebenarnya Medium memiliki kesan lebih eksklusif dan bisa juga ‘dibayar’ melalui konsep Partner Program. Sementara yang diperlukan oleh saya saat ini sebenarnya adalah mumpung ada terlintas ide maka saatnya disegerakan untuk menulis, menulis, dan menulis, tanpa harus memikirkan kerumitan… he… he…

Berikut beberapa tulisan-tulisan ringkas saya di Medium yang masih bisa diakses adalah:

Oke, semoga melalui platform WordPress ini saya bisa lebih giat lagi untuk membuat tulisan-tulisan yang bisa dijadikan pemikiran, ide dasar, dan tentunya bisa memberikan inspirasi positif bagi banyak pihak.

Happy WordPressing!

 

Foto: Pixabay

Layanan Distribusi Musik Digital Terkini: FreshTunes

FreshTunes, sebuah layanan distribusi musik digital terbaru, mulai diperkenalkan ke pasar umum pada minggu lalu dan diharapkan mampu mendobrak dari layanan sejenis yang sudah ada, khususnya diperuntukkan bagi musisi independen di seluruh dunia – sebuah layanan gratis untuk mendistribusikan lagu-lagu dan karya musik ke hampir semua platform musik streaming yang ada dan hampir ke semua toko digital, yang bisa diakses langsung di www.freshtunes.com.

Beberapa fitur unggulan dari tampilan FreshTunes yang terkesan simpel dan mudah dipergunakan ini adalah sebagai berikut:

  • Pendaftaran secara gratis dan dalam kurun waktu 24 jam lagu-lagu langsung ter upload ke seluruh layanan digital – melalui menu yang mudah diakses artis bisa mengatur dan menyusun lagu-lagu yang ada, artwork, menambahkan deskripsi lagu dan memonitor langsung penjualan serta data statistik.
  • Seluruh lagu akan didistribusikan ke seluruh platform musik yang ada saat ini seperti: Spotify, Apple Music, iTunes, Deezer, GoogleMusic, Amazon music, Shazam, YouTube, SAAVN, Guvera dll.
  • Pihak FreshTunes tidak akan mengambil prosentase atau bagian dari pendapatan yang diperoleh artis, 100% seluruhnya menjadi hak milik artis.
  • Layanan tambahan juga tersedia seperti produksi artwork, produksi video lirik, ringtone, layanan promosi dari video-video milik artis ke dalam channel YouTube FreshTunes, layanan mastering LANDR dan layanan MFiT yang tersedia untuk memenuhi kualitas standar iTunes.

Model bisnis yang ditawarkan FreshTunes adalah transparan, mudah dan unik – karena FreshTunes mengandalkan pendapatan dari layanan tambahan yang ditawarkan dan dari bunga sisa pendapatan yang diperoleh tiap akun, dimana pengguna/artis dapat mengambil revenue yang diperoleh dalam kelipatan £25. Dengan cara ini bisa dipahami bahwa layanan yang tersedia akan selalu gratis untuk selamanya dan bagi siapapun.

FreshTunes mulai masuk ke pasar tepatnya pada musim semi 2016, dan layanan ini langsung melesat melampaui target, dengan pengguna ada di 84 negara, termasuk di Inggris, Amerika Serikat, Rusia, India dan Brazil.

Dalam kurun waktu enam bulan, FreshTunes telah meraih dan mengumpulkan hampir 50.000 lagu. Termasuk membawa salah satu bintang independen hip hop Oxxxymiron menjadi album nomor 1 di tangga lagu Hip Hop versi iTunes Russia, dan juga mendistribusikan karya musik milik Jamala, pemenang Eurovision Song Contest 2016 asal Ukrainia.

FreshTunes didirikan salah satunya oleh Nikolay Okorokov, yang berpusat dan berkantor di Dubai dengan didukung operasional dan teknis yang berkantor di Moskow, sebuah kota yang menjadi penghubung global bagi kepentingan teknologi dan kreatifitas. Startup ini juga telah menyiapkan kantor di Brazil dan Inggris.

Nikolay Okorokov mengatakan “Aku percaya kami telah menciptakan sebuah model bisnis baru yang cukup adil dan memberikan nilai tambah terbaik yang sangat menguntungkan bagi para musisi independen. Ini merupakan satu hal yang kami percaya akan menciptakan satu bentuk baru bagi distribusi musik digital. Begitu banyak artis saat ini memilih untuk menjadi artis independen, bahkan setelah meraih sukses dan popularitas global. Ini merupakan sebuah tren yang tidak akan hilang begitu saja dan FreshTunes secara total memberdayakan dan mendukung komunitas musisi independen di seluruh dunia untuk menjalani karir mereka sesuai dengan yang mereka harapkan.”

Okorokov yang saat ini berusia 38 tahun, dimana telah berkarir hampir lebih dari 20 tahun, memiliki catatan yang sangat mengesankan dalam dunia konten musik digital, teknologi dan bisnis komunikasi melalui beberapa perusahaan beragam yang dimiliki seperti Iricom, Rightscom, Kedoo, Sparrow studio animasi 3D dan label NDA. Pola pendekatan bisnis dari Okorokov yang cukup visioner, jiwa kepemimpinan dan kepekaannya terhadap kemajuan dunia digital, telah membawanya menjadi sosok yang sangat handal di pasar konten digital Rusia.

Sebagai tambahan, menurut Okorokov: “Semuanya akan menjadi gratis, karena setiap layanan tersebut mampu menjangkau semua orang, termasuk berkaitan dengan musik. FreshTunes memiliki model ‘freemium’, sementara layanan distribusi musik digital yang ditawarkan adalah gratis, dan jika pengguna menginginkan satu layanan tambahan, cukup mengeluarkan sedikit biaya. Kami memercayai bahwa setiap orang berhak untuk membagi karya seni yang dimiliki, membangun komunitasnya dan menjangkau seluruh audiens global tanpa mengeluarkan biaya.”
Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi: Indy Vidyalankara, indy@indypendentpr.com, 07881 822571

*Setelah melalui beberapa pengalaman langsung, saya memberikan penilaian untuk tidak merekomendasikan layanan distribusi digital ini. (Anton, Nov. 2016)

Asuransi Musisi

black-and-white-music-headphones-life

Image: Pexels

Asuransi khusus untuk musisi? Ya, kenapa tidak…

Melihat masih belum terangkatnya “nasib” seorang musisi, entah sebagai pencipta lagu, pemain band, vokalis, gitaris, dll. atau bahkan mereka yang bekerja untuk musisi/manajemen artis (orang-orang dibalik layar), kebutuhan akan asuransi bagi musisi itu sendiri semestinya layak untuk dipikirkan mulai sekarang. Meski agenda dari program BPJS tetap berjalan dan gencar, saya yakin tidak serta merta mereka yang terjun dan hidup dari kegiatan bermusik sadar akan kebutuhan (asuransi) ini.

Saat ini kegiatan industri kreatif khususnya dengan sekian belas sub sektor, yang sudah dirancang dan dikerjakan oleh BEKRAF, memang sedang ramai digalakkan dan mendapat sambutan yang antusias dari berbagai kalangan pelakunya, baik komunitas, pebisnis, dan media. Musik sebagai salah satunya, tanpa harus berbicara dalam lingkup “industri” yang sebenarnya, merupakan peluang besar dan kesempatan emas apabila mampu diolah dan di-manage secara serius, transparan dan profesional.

Melihat pengalaman-pengalaman dari musisi senior kita (yang telah berpulang), tentunya agak miris bila melihat dan membaca kisah dulu di saat masa populer dan jayanya, namun di hari tuanya nampak terlunta dan “terbuang”, dan tidak ada hal yang cukup berarti untuk diwariskan kepada anggota keluarganya ataupun hak waris. Kita harus mampu belajar dari sejarah dan kisah-kisah pahit itu.

Bukannya berpromosi, selain memikirkan aset-aset karya kita, saat ini kita sebagai musisi mulai harus memikirkan tiga hal ini: asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dan asuransi kecelakaan, ataupun kebutuhan asuransi lainnya. Mungkin ada startup + venture capital yang berminat untuk handle program/platform terkait ini?

QQ Music

20130824030806183

Image: xiaomi.cn

Mungkin belum banyak dari kita yang mengakses layanan musik streaming QQ Music, tapi tentunya tidak asing bila kita mendengar WeChat yang merupakan sister company milik grup Tencent, yang dalam beberapa hari lalu dinobatkan sebagai the most valuable company in Asia. Tencent/Tencent Holdings Ltd. adalah sebuah perusahaan yang berpusat di kota Shenzhen, perusahaan ‘raksasa’ yang memiliki bisnis portal website, jejaring sosial, online game, aplikasi chat, software antivirus,  online adbrowserentertainment, dll.

Saya ingin sedikit membahas soal QQ Music, dimana model bisnis yang ditawarkan oleh QQ Music adalah kurang lebih sama dengan yang ditawarkan layanan global musik streaming populer lainnya: Spotify, Pandora, dll., yaitu berbayar dan freemium.

Konsumsi musik di dunia saat ini memang sedang mengalami perubahan besar, dari konsep downloading dan kini yang kian marak tentunya adalah streaming, baik gratisan ataupun berbayar (tanpa kita melupakan ‘raksasa’ YouTube, tentunya!). Mungkin jika selama ini kita hanya fokus melihat kreasi berbasis teknologi banyak berasal dari daratan Eropa dan Amerika saja, kini saatnya ‘mewaspadai’ kemajuan dan perkembangan teknologi dari daratan China ini yang memang sudah terbukti established, salah satunya QQ Music ini.

QQ Music telah mengklaim sebagai perusahaan music streaming yang telah menangguk untung dari layanannya. Sementara Spotify yang telah eksis sejak September 2008 , saat ini pun masih “berdarah-darah”, bahkan terancam rugi. Lebih dari 70% revenue Spotify digunakan untuk membayar royalti kepada pihak perusahaan rekaman dan copyright owner. Dari laporan yang saya baca ini dalam bahasa China ini kemudian di Google Translate kan, semoga saja saya tidak salah menangkap hal-hal yang dimaksud. Ada beberapa hal yang menarik untuk disampaikan dan perlu kita lihat, yaitu sebagai berikut:

  • Menurut beberapa data yang terpublikasikan, tanpa adanya pernyataan resmi, QQ Music dinyatakan telah meraih keuntungan. Dalam satu pertemuan QQ Music Industry Forum Media Sharing, menurut Wu Wei Lin selaku General Manager of Digital Music Banquet Tencent kepada media menyatakan “ya telah untung”.
  • Hal ini merupakan kejadian yang sangat luar biasa, karena dalam sejarah industri musik dunia, karena baru QQ Music yang menjadi satu-satunya perusahaan yang berhasil mengumumkan keuntungan atas layanan musik streaming.
  •  Model bisnis QQ Music adalah sama dengan kombinasi antara Spotify + iTunes Store, freemium dan berbayar untuk men-download.
  • Konsep digital album menjadi satu inovasi khususnya bagi platform musik di China. Meski konsep digital album ini hampir sama dengan konsep iTunes Store yaitu pengguna membayar kemudian men-download file dalam format MP3 ke komputernya, ternyata digital album lagu-lagu China lebih disukai karena memiliki lebih banyak value-added service.
  • Dengan memiliki WeChat dimana di dalamnya terdapat 762 juta pengguna aktif, Tencent secara mudah mampu meyakinkan dan bernegosiasi dengan perusahaan-perusahaan rekaman besar yang ada seperti Sony, Warner Music, dan YG Entertainment dari Korea Selatan. Konsep kerjasama distribusi secara eksklusif bisa dilakukan. Dan rata-rata user di China sudah sadar akan kemudahan ec0mmerce system, mereka membeli tiket konser dan memesan taxi cukup dari aplikasi WeChat.
  • Jumlah pengguna yang terus bertambah membuat posisi QQ Music terus meroket. Setiap harinya terdapat 100 juta pengguna aktif dan 400 juta pengguna aktif tiap bulannya. Dibandingkan dengan pengguna Spotify yang berjumlah 30 juta subsciber dan 100 juta pengguna aktif tiap bulannya.
  • Perusahaan analis iResearch dari China menyatakan bahwa, meski porsi pengguna QQ Music masih ‘sedikit’, mereka meramalkan bahwa separo user di China akan mau membayar apapun melalui aplikasi musiknya tahun ini. Baik untuk membeli digital album secara satuan/bukan berlangganan, ataupun membeli tiket konser. Kemauan untuk membayar adalah merupakan kunci utama.

Sebagai kesimpulan, pada bulan Juli 2016 lalu Tencent mengakuisisi mayoritas saham China Music Corporation, dan bermaksud menggabungkan layanan musik populer yang dimiliki China Music Corporation yaitu Kugou dan Kuwo. Penggabungan ini dimaksudkan untuk memperkuat dan memperluas layanan QQ Music tentunya. Dari penggabungan tiga unit ini akan menargetkan hampir lebih dari 800 juta pengguna.

Sungguh kita berbicara menyangkut angka-angka yang fantastik! Dan dalam lingkup ‘industri musik’ ini saya menanti gebrakan dari kompetitor terdekat Tencent, yaitu Alibaba, dimana sang big boss-nya telah ‘diminta’ untuk menjadi advisor dalam steering committee e-commerce Indonesia, yang disampaikan saat kedatangan Presiden Jokowi ke China untuk menghadiri pertemuan negara G20 beberapa waktu lalu.

Ref.: Mashable

Album Perdana Paduan Suara Dialita “Dunia Milik Kita”

Print

Daftar Lagu:
1. Ujian, diaransemen dan dimainkan bersama Frau
2. Salam Harapan, diaransemen dan dimainkan bersama Cholil Mahmud
3. Di Kaki-Kaki Tangkuban Perahu, diaransemen dan dimainkan bersama Sisir Tanah, Frau dan Lintang Radittya
4. Padi Untuk India, diaransemen dan dimainkan bersama Sisir Tanah
5. Taman Bunga Plantungan, diaransemen dan dimainkan bersama Kroncongan Agawe Santosa
6. Viva GANEFO, diaransemen dan dimainkan bersama Sisir Tanah
7. Lagu Untuk Anakku, diaransemen dan dimainkan bersama Cholil Mahmud
8. Kupandang Langit, diaransemen dan dimainkan bersama Frau dan Lintang Radittya
9. Dunia Milik Kita, diaransemen dan dimainkan bersama Cholil Mahmud dan Lintang Radittya
10. Asia Afrika Bersatu, diaransemen dan dimainkan bersama Nadya Hatta, Prihatmoko Catur dan Lintang Radittya

“Dunia Milik Kita” yang merupakan judul album perdana Paduan Suara Dialita akan dirilis secara digital dan dapat diunduh bebas pada hari peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia, 17 Agustus 2016. Album ini bertujuan sebagai “silent monument tragedi 1965”, yaitu sebuah monumen yang akan mengingatkan kita untuk menyampaikan kepada publik tentang kebenaran sejarah masa lalu dan mencegah terjadinya peristiwa serupa oleh karena ketidaktahuan sejarah. Semangat kemerdekaan bangsa Indonesia dijadikan sebagai momen tepat untuk mendistribusikan lagu-lagu Dialita yang direkam pada bulan Maret lalu dengan dukungan dari Indonesia Visual Art Archive (IVAA).

Lagu-lagu Dialita diciptakan oleh tahanan politik saat dipenjara dan ada juga yang diciptakan saat sudah bebas di masa rezim Orde Baru. Pada masa Orde Baru situasi politik berada dalam tekanan dan keterbatasan, sehingga para eks-tapol tidak dapat dengan mudah hidup dalam sistem yang seperti itu. Peristiwa-peristiwa politik seperti ini yang dimulai dari penggulingan paksa masa pemerintahan Soekarno pada 1965, pergantian pemerintahan dengan rezim Orde Baru, dan munculnya kekerasan yang menyertai semakin bertumpuk tanpa adanya penyelesaian oleh Negara. Musik sebagai bentuk dari seni budaya popular dipilih untuk menyampaikan peristiwa-peristiwa yang terbatas diceritakan tersebut. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan oleh Paduan Suara Dialita yang terdiri dari para penyintas dan keluarganya. Pilihan lagu yang dinyanyikan Dialita adalah lagu-lagu bersejarah. Getaran syair kehidupan dari lagu yang dinyanyikan, berisi pujaan kepada tanah air Indonesia, kerinduan seorang Ibu di dalam kamp pada anak-anak yang mereka tinggalkan, perjuangan hidup dalam kekangan, semangat keragaman dalam perbedaan, solidaritas hingga impian dan harapan akan kehidupan yang harmonis tanpa penindasan.

Dilita bersama musisi muda berkolaborasi menciptakan aransemen ulang lagu-lagu tersebut dan merekamnya untuk didistribusikan secara gratis melalui situs web http://yesnowave.com/. Musisi tersebut antara lain Frau, Sisir Tanah, Cholil Mahmud, Nadya Hatta, Prihatmoko Catur, Kroncongan Agawe Santosa dan Lintang Radittya. Lagu-lagu yang direkam adalah “Asia Afrika Bersatu”, “Dunia Milik Kita”, “Kupandang Langit”, “Lagu Untuk Anakku”, “Padi Untuk India”, “Di Kaki-kaki Tangkuban Perahu”, “Taman Bunga Plantungan”, “Salam Harapan”, “Viva GANEFO”, dan “Ujian”. Aransemen lagu-lagu tersebut dimaksudkan untuk memberikan nuansa baru yang sesuai dengan selera musik generasi muda di masa sekarang, yakni generasi muda yang tidak mengetahui peristiwa kekerasan 1965 yang jumlah-nya semakin bertambah dan juga memberikan perspektif lain atas korban peristiwa tersebut. Album ini dipublikasikan dengan menggunakan lisensi Creative Commons yang memberikan akses terbuka bagi publik untuk menyebarkan, menyalin, menggunakan dan menggubahnya secara bebas sehingga mampu mengembangkan aset karya seni budaya kita ke bentuk-bentuk baru. Album ini juga dibuat dalam bentuk CD bersama dengan booklet bersisi sejarah dibalik terciptanya lagu-lagu tersebut yang akan dirilis mendatang. Desain sampul album didesain oleh Wok The Rock dengan ilustrasi tanaman pangan liar yang digambar oleh Wedhar Riyadi.

Yes No Wave Music adalah sebuah label rekaman non-profit yang mendistribusikan musik
secara unduh bebas melalui jaringan internet dengan tujuan memberikan akses informasi dan karya seni secara terbuka dengan menggunakan lisensi Creative Commons.

Informasi lanjut: kontak Venti Wijayanti +6285 634 224 30, venti.wijayanti@gmail.com