Strategi Digital yang Efektif Bagi Musisi Pendatang Baru Bersama Spotify

Strategi Digital yang Efektif Bagi Musisi Pendatang Baru Bersama Spotify

Strategi Digital yang Efektif Bagi Musisi Pendatang Baru Bersama Spotify

Strategi digital? Ya sebenarnya ini bukan suatu strategi, karena kalau judulnya membawa embel-embel “strategi…” seolah-olah saya merupakan orang yang ahli alias pakar yang memahami segala situasi. Karena saya hanya ingin sedikit beropini melalui blog ini, mungkin lebih tepat yang bisa dibaca dari judul diatas adalah “langkah-langkah…”

Bagaimana dan dimana harus memulainya?

Sedikit berkisah pada bulan Mei 2018 lalu Warner Music Group secara diam-diam juga bertindak sebagai digital distribution service, bersaing dengan layanan yang sama (distribusi digital) seperti: Tunecore, Distrokid, CD Baby, Ditto, dll. Melalui brand Level Music, Warner Music Group membuka pintu lebar-lebar bagi musisi independen (unsigned artists) dari belahan dunia manapun untuk bergabung dalam jalur distribusi digital mereka. Saat ini Level Music dalam versi beta masih gratis dan tanpa dikenakan biaya apapun. Sementara, hal yang sama juga telah dilakukan duluan oleh raksasa label Universal Music, dengan membuka jalur distribusi digital melalui Spinnup pada November 2016 lalu, dengan konsep berbayar.

Peran aggregator (Level Music & Spinnup) yang dimiliki oleh para ‘raksasa’ label ini, kalau saya melihatnya juga sebagai fungsional A&R (Artist & Repertoire) yang saat ini mungkin dianggap sudah kurang berperan. Sejak maraknya konsep musik digital dan berubahnya pola-pola di industri, kini musisi tidak perlu repot-repot datang ke perusahaan rekaman dengan membawa materi proposal dan menawarkan demo berupa kaset atau CD misalnya.

Kembali ke topik utama di atas, langkah efektif apa saja yang harus dilakukan bagi musisi pendatang baru supaya bisa lebih dikenal di era maraknya pengaliran musik (music streaming) saat ini? Cukup menggunakan Spotify! Spotify adalah layanan pengaliran musik (music streaming) yang berasal dari Swedia, dan pada bulan Oktober 2018 ini tepat menginjak berumur 10 tahun. Oya, tips ini bisa saja tidak hanya terkait dengan pendatang baru, mungkin saja ada solois atau band (superstar, established) yang mandiri dan terus ingin melakukan kegiatan pemasaran bisa memaksimalkan Spotify.

Mengapa harus Spotify?

Spotify Q3 2018

Spotify Q3 2018

Beberapa alasan dan faktor yang jadi pertimbangan menurut pendapat saya, Spotify yang per data 30 September 2018 ini melaporkan:

  • memiliki 191 juta pengguna aktif
  • memiliki 87 juta pelanggan berbayar
  • terdapat lebih dari 40 juta lagu
  • tersedia lebih dari 3 milyar playlist
  • diakses di 65 negara

Spotify juga memiliki berbagai layanan dan dukungan yang sangat menarik dan selalu penuh inovasi bagi musisi. Mengutip dari blog resmi For the Record yang selalu update dengan cepat, sebagai berikut:

Layanan ini baru tersedia secara terbatas untuk musisi-musisi independen di Amerika Serikat. Jadi kita bisa langsung mengunggah konten lagu secara langsung ke Spotify tanpa harus melalui pihak ketiga. Jika kalian mewakili artis langsung atau sebagai manager artis, cukup dengan melakukan klaim profil website artis, akun Twitter, dan akun Instagram. Untuk mendapatkan undangan Spotify for Artists bisa daftar disini.

Untuk keperluan mengunggah konten ke Spotify, pastikan dan siapkan juga kriteria sebagai berikut:

  1. Fail lagu dalam format: WAV, WAVE, atau FLAC (16- atau 24-bit, sample rates 44.1kHz)
  2. Format WAV dan WAVE adalah PCM
  3. Album art: 1600 x 1600px format PNG atau format JPEG
  4. Nama-nama kolaborator: pencipta lagu, artis pendukung, produser, dll.
  5. Data ISRC (International Standard Recording Code)

Oya, nantinya layanan Spotify for Artists juga bakal terintegrasi dengan layanan DistroKid, merupakan layanan distribusi musik digital. Jadi ketika mengunggah langsung konten ke Spotify secara bersamaan bakal terhubung juga dengan platform musik lainnya: Apple Music, Deezer, Amazon Music, Pandora, dll. Semua ini bisa terjadi karena Spotify telah membeli saham ‘minoritas’ di DistroKid.

Co.Lab adalah semacam serial event yang difasilitasi dan didesain oleh Spotify, menghubungkan antara talenta/artis dengan berbagai pihak terkait seperti perwakilan perusahaan rekaman, promotor musik, konsultan kreatif, dll., dimana dalam setiap pertemuan yang diadakan membahas tema-tema yang terkait dengan bisnis musik terkini.

Masih dalam tahap versi beta, adalah layanan yang diperuntukkan bagi para publisher, untuk analisa secara global untuk lagu, album, hingga pencipta lagu, daftar putar (playlist), dll.

Daftar putar atau playlist yang dimiliki Spotify ini menurut saya adalah paling fenomenal. Begitu ‘menusuk hati’ menurut saya atau istilahnya gue banget… berbagai genre dalam berbagai suasana dan gaya, mulai dari sajian bangun tidur hingga menjelang beranjak ke peraduan (Mager Parah, Songs to Sing in the Shower, IndieNesia, Late Night Jazz, Generasi Galau, Deep Focus, Kopikustik, Confidence Boost, Relax & Unwind, Old School Metal, Indofolk, dll.).

Bagaimana cara mengajukan lagu atau album kita masuk ke dalam daftar putar Spotify dan bisa diterima tim editorial? Simak dua video berikut ini:

 

 

Dengan adanya berbagai macam pilihan media, saat ini untuk menarik ‘perhatian’ bisa dibilang cukup sulit. Yang perlu kita lakukan adalah konsisten dan fokus di ‘satu tempat’, melakukan promosi efektif, dan selanjutnya biarkan karya lagu yang “berbicara”…

Dan sayapun sangat berharap ada layanan musik nasional alias dalam negeri yang nantinya bisa tumbuh berkembang seperti Spotify. Mimpi dan harapan saya, suatu saat layanan LangitMusik – Telkomsel yang menjelang berumur 9 tahun bisa mengikuti jejak-jejak kreatif Spotify yang penuh dengan inovasi dan bisa lebih berkembang dengan cepat.

Setuju kan kalau kita mendukung sepenuhnya layanan musik lokal yang sepenuhnya memberikan support bagi musisi dalam negeri? Oya, mungkin saja tulisan saya selanjutnya di blog ini bakal terkait dengan LangitMusik.

Foto: SG Creative

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik (PDDP Musik) judul yang saya berikan dalam tulisan blog kali ini, setelah saya terinspirasi membaca satu artikel minggu lalu yang merilis berita kerjasama antara layanan pengaliran musik (music streaming) Spotify dengan Nielsen yang merupakan perusahaan riset global.

De.mo.gra.fi /démografi/ yang mengacu pada KBBI berarti: ilmu tentang susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk; ilmu yang memberikan uraian atau gambaran statistik mengenai suatu bangsa dilihat dari sudut sosial politik; ilmu kependudukan.

Informasi demografi dari penggemar musik ini mungkin kita belum melihatnya sebagai kesatuan “big data” yang sebenarnya merupakan ‘aset’ yang sangat berharga. Big data yang salah satunya bersumber dari konten media sosial, gambar digital dan video, pembelian dan transaksi daring, twit, telepon seluler, dll., semuanya bisa dimanfaatkan, diolah, disimpan serta bisa dianalisa dalam beragam bentuk format. Tentunya tidak hanya berkaitan dengan demografi.

Terkait dengan pengelolaan data fan atau penggemar ini, ternyata Metallica juga tidak mau ketinggalan untuk pemanfaatan-nya. Bekerjasama dengan Spotify, Metallica menggunakan data pengguna Spotify untuk menentukan ‘setlist’ lagu di tiap konsernya di masing-masing kota yang berbeda. Dengan membaca dan mengolah data ini sebelum mereka tampil di London, Paris, ataupun Swedia misalnya, pihak Metallica jadi lebih memahami lagu apa yang sering diputar dan paling diminati di tiap kota. Realisasinya adalah terdapat perbedaan ‘setlist’ lagu-lagu Metallica saat konser di tiga kota tersebut.

Jika kita melihat playlist Spotify “Top Tracks of 2017 Indonesia”, dari urutan 50 lagu tersebut terdapat: Payung Teduh – Akad, Armada – Asal Kau Bahagia, Rizky Febian – Cukup Tau, Payung Teduh – Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan, dan Jaz – Kasmaran. Saya tidak mengetahui apakah dari daftar artis-artis ‘top’ tersebut pihak label rekamannya, manajemen artis, atau si artisnya sendiri, sudah memanfaatkan data digital yang berhubungan dengan penggemar? Misal melihat pertimbangan dari sisi demografi si-user: faktor usia, lokasi, pendidikan, dll., yang kesemuanya bisa menjadi tolak ukur untuk melihat potensi daya beli atau besarnya pasar dari para penggemar musik tersebut.

Menurut data dari pihak Spotify Asia tahun 2017 lalu, orang Indonesia mendengarkan musik setidaknya tiga jam dalam sehari dan termasuk yang gemar membuat daftar putar (playlist). Dan terdapat tiga momen utama yang jadi puncak bagi banyak orang mengakses layanan pemutar musik daring, yaitu:

  • saat pagi hari ketika berada di jalan
  • setelah makan siang
  • di atas jam 9 malam saat hendak beristirahat di rumah

Dalam era kemajuan teknologi informasi saat ini, dengan modal data digital tersebut, selain urusan manajemen artis/label rekaman yang dituntut untuk lebih kreatif, menurut saya hal ini juga bisa menjadikan peluang bagi tumbuhnya “boutique agency”, semacam agensi kreatif atau konsultan skala kecil yang akan membantu musisi-musisi yang sudah mapan ataupun pendatang baru untuk menyasar penggemar (segmentasi – IMHO) agar lebih fokus dan untuk memberikan service ataupun content yang lebih pas bagi para penggemar. Hal yang juga penting adalah bagaimana dengan data yang diolah tadi si musisi beserta manajemen-nya tadi bisa menarik calon sponsor ataupun investor. Intinya musisi perlu terus berinovasi dan berkreasi dengan memanfaatkan data digital.

Dari semua hal ini, kesimpulan yang mau saya sampaikan adalah: memanfaatkan dan mengolah data untuk terus “jualan”. Saya bukanlah orang yang merupakan ahli strategi pemasaran ataupun pandai untuk ‘berjualan’, tapi saya mau terus belajar terkait pengelolaan big data ini.

Ayo kita kelola secara baik data yang ‘bertebaran’ ini…

 

Foto: William Krause

Video Vertikal

02-20180619-KS-pamelachen-IMG_0157-2160_lo

Kevin Systrom, CEO & Co-Founder Instagram

Dalam satu event yang digelar di San Fransisco pada hari Rabu tanggal 20 Juni 2018 kemarin, CEO & Co-Founder Instagram, Kevin Systrom, memberikan keterangan resmi terkait dengan dua hal yaitu: mengumumkan jumlah pengguna Instagram di seluruh dunia yang sudah mencapai angka 1 miliar, dan yang kedua adalah rilis aplikasi baru ‘IGTV’ platform konten video vertikal dengan durasi 1 jam.

Tentu saja bisa ditebak dengan dirilisnya IGTV ini berarti menandakan Instagram yang dimiliki Facebook siap ‘perang besar’ dengan YouTube yang dikuasai oleh Google. Tidak salah bagi Mark Zuckerberg/Facebook saat mengakuisisi Instagram pada April 2012 dengan ‘murah’ senilai USD 1 miliar atau hampir 13 trilyun (sementara WhatsApp diakuisisi lebih dari USD 19 miliar).

Berbicara soal konsep video vertikal di era kekinian saat ini, pastinya menjadikan daya tarik besar bagi generasi sekarang. Yang jelas kita sebagai pengguna tidak perlu repot-repot memutar layar smartphone, seperti halnya video dengan tampilan horizontal (YouTube).

instagram-800m-2017-09

Instagram mencapai 800 juta pengguna di bulan September 2017

Derasnya dan cepatnya arus informasi hingga konten sekarang ini, bagi generasi kekinian (Gen Y, Gen Z, hingga Gen C/YouTube Generation) yang merupakan konsumen ‘mobile’ setiap saat, format vertikal ini bakal menjadi satu kemudahan. Bagi para kreator konten video, konsep video vertikal dengan durasi panjang ini akan menjadikan peluang baru. Hal yang sama juga merupakan tantangan bagi digital agency/influencer marketing agency hingga digital marketers untuk terus berkreasi dan berkarya.

Untuk beberapa waktu kedepan… kita bakal terbiasa dengan video ‘tegak lurus’ alias full-screen di layar smartphone dan mungkin mulai mengurangi konsumsi konten video horisontal.

 

Foto & Grafis: Instagram Info Center

Pariwisata Musik

Pariwisata Musik

Pariwisata Musik

Dalam tulisan di blog kali ini saya berniat membahas mengenai konsep “pariwisata musik”. Satu hal yang ingin fokus saya pelajari dan dalami dalam kurun waktu ke depan, termasuk keinginan untuk bisa hadir di Music Tourism Convention yang akan diselenggarakan di Cologne, Jerman, pada tanggal 29 Agustus 2018 yang akan datang. Kegiatan konvensi pariwisata musik internasional ini akan mengambil tema The Importance of Music Genres in Tourism Identity. Gagasan atau ide “pariwisata musik” ini menurut pengamatan saya baru dibicarakan oleh segelintir orang, namun tanpa disadari di Indonesia sebenarnya sudah berjalan sekian waktu meski tidak memiliki ’embel-embel’ atau label resmi “pariwisata musik”.

Melalui referensi seorang kawan, Fakhri Zakaria, yang banyak menulis soal musik, dan melalui beberapa pencarian di internet, saya juga bisa menemukan satu tesis dari mahasiswa S2 Kajian Pariwisata UGM yang bertemakan “pariwisata musik”. Tesis ditulis oleh Aunurrahman Wibisono sejak akhir tahun 2015, dan beberapa bagian dipublikasikan melalui situs Perpustakaan Pusat UGM.

Berikut mengutip intisari dari tesis berjudul “Potensi Pariwisata Musik Sebagai Alternatif Pariwisata Baru Di Indonesia (Contoh Kasus Java Jazz)” tersebut:


Pariwisata musik termasuk dalam kategori wisata minat khusus. Jenis pariwisata ini tumbuh pesat mulai setidaknya dua dekade terakhir, terutama di kawasan Britania Raya. Indonesia sebagai negara dengan jumlah kelas menengah yang bertumbuh drastis, berpotensi menjadikan pariwisata musik sebagai alternatif pariwisata baru. Saat ini sudah semakin banyak festival musik maupun konser di Indonesia. Hal ini juga didorong oleh kebosanan wisatawan terhadap pariwisata massal di Indonesia.

Sayangnya, hingga saat ini nyaris tidak ada kajian ilmiah terhadap potensi pariwisata musik di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi pariwisata musik di Indonesia. Dalam penelitian ini digunakan beberapa analisis kualitatif dan juga memasukkan beberapa data kuantitatif terkait dengan tingkat okupansi hotel.

Penelitian ini memakai contoh kasus festival Java Jazz. Festival yang pertama kali diadakan pada 2005 ini menjulang jadi salah satu festival jazz terbesar di dunia. Hasil dari penelitian ini adalah festival musik sangat berpotensi untuk jadi alternatif pariwisata baru. Secara konsep pariwisata, festival musik seperti Java Jazz telah memberikan efek terhadap pariwisata. Baik berupa dampak ekonomi, peningkatan okupansi hotel, hingga terciptanya lapangan pekerjaan. Diharapkan di masa depan, akan semakin banyak orang yang mengkaji tentang pariwisata musik. Juga diharapkan para pengampu kepentingan mulai memasukkan festival musik sebagai bentuk pariwisata baru di Indonesia.


Berbicara soal jazz, saya juga teringat dari update status mas Donny Hardono di Facebook pada 11 Maret 2018 lalu. Beliau merupakan pemilik dan vendor tata suara yang banyak menangani kegiatan ataupun event musik nasional/internasional, dan juga merupakan penggerak dan ‘aktivis’ jazz. Saya sendiri bukan merupakan sosok jazz-fanatic, tapi status yang beliau tulis adalah berbagai titel dan event jazz dari berbagai wilayah (yang tidak semuanya saya ketahui 🤩), seperti dibawah ini:

  • Java Jazz Fest
  • Jazz Traffic Fest
  • Jazz Goes To Campus
  • Kampoeng Jazz
  • Malang Jazz Fest
  • Boyjazz Fest
  • Prambanan Jazz Fest
  • Tangsel Jazz
  • Economic Jazz Live
  • Ramadhan Jazz
  • Jazz Gunung
  • Jazz Atas Awan
  • Ijen Summer Jazz
  • Banyuwangi Beach Jazz Fest
  • Ngayogjazz
  • Solo City Jazz
  • Jazz Marker By The Sea
  • ASEAN Jazz Fest
  • Ubud Village Jazz Fest
  • Loenpia Jazz Semarang
  • Makassar Jazz Festival
  • North Sumatra Jazz Festival

Sementara pada akhir Maret 2018 lalu, Christian Rijanto selaku Co-Founder dan Marketing Director Ismaya Group, mengumumkan ekspansi internasional pertamanya ke China yang akan diselenggarakan tahun ini. DWP atau Djakarta Warehouse Project adalah merupakan festival musik elektronik tahunan terbesar di Indonesia, yang tahun ini memasuki tahun ke-10. DWP China ini akan menjadi festival pertama dari rangkaian acara DWP yang diselenggarakan di luar Indonesia, yaitu DWP International.

Menurut saya sungguh sangat luar biasa langkah ekspansi internasional ini. Setelah cukup settled dan established di kampung halaman, saatnya ‘menjajah’ dan memperluas pasar ke luar. Oya, mengutip dari Wartakota, bahwa dari kegiatan DWP 2017 lalu, pihak promotor mematok angka Rp 350 miliar untuk pemasukan ke DKI Jakarta dari gelaran acara tersebut. Dengan perhitungan optimis, dari 100 ribu pengunjung, 35 persen atau 35 ribu di antaranya adalah orang asing. Sementara pada gelaran DWP 2016, menurut pihak penyelenggara acara dari event tersebut mampu mendulang devisa wisatawan asing sebesar Rp 200 miliar lewat paket kunjungan mereka ke Jakarta.

Pariwisata Musik

Pariwisata Musik

Nah, kembali lagi berbicara soal konsep “pariwisata musik” tadi, bahwa sesungguhnya kita memiliki potensi dan peluang sangat besar dari berbagai kegiatan ini. Bahkan kini pihak BUMN juga mulai ‘melirik’ menggarap event konser, seperti yang diselenggarakan di De Tjolomadoe, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah pada 24 Maret 2018 lalu. Lokasi bekas pabrik gula yang direvitalisasi oleh Enam Grup BUMN: PT PP (Persero), PT PP Properti, PT Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur, dan Ratu Boko (Persero), dan PT Jasa Marga Properti, disulap menjadi venue yang memiliki nilai komersil, concert hall. Konser perdana di tempat tersebut menghadirkan artis internasional dan nasional: David Foster, Brian McKnight, Anggun, Dira Sugandi, Sandy Sandhoro dan Yura Yunita, dihadiri ribuan orang. Oya berbicara sosok David Foster (sebelum jadi mainstream di Indonesia 😍), kami pernah berjumpa, ngobrol dan makan malam bersama di Jakarta pada 26 Oktober 2010 lalu, fotonya ada disini.

Menengok gelaran artis internasional lainnya, dalam rangkaian tour dunia yang akan datang juga akan hadir sosok diva internasional Mariah Carey yang akan menggelar konser di Taman Lumbini, Candi Borobudur, pada tanggal 6 November 2018. Konser yang dipromotori oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) ini menjual tiket mulai dari harga 1 juta, 2 juta, 3,5 juta, 7 juta, hingga harga khusus kelas Super VVIP. Konsep yang cukup simple: musik dan tempat wisata!

Masih kaitannya dengan “pariwisata musik”, jangan lupa bahkan pemerintah Kabupaten Boyolali juga akan menghadirkan band rock legendaris dunia “Europe” untuk konser pada tanggal 12 Mei 2018 mendatang di Stadion Pandan Arang Sonolayu, Boyolali. Dengan menjual tiket Festival A seharga Rp100.000 dan kelas Festival B seharga Rp75.000. Tiket mulai dijual perdana di Pendapa Alit Rumah Dinas Bupati Boyolali, pada hari Minggu 4 Maret 2018 lalu. Melalui pertunjukan konser band “Europe”, warga Boyolali ingin menunjukkan bahwa Kota Susu ini juga layak dikunjungi sebagai destinasi wisata.

Masa lalu saya yang lebih dari 20 tahun banyak berurusan dengan musik, mulai dari merintis bekerja sebagai freelancer di event panggung musik kecil, kemudian urusan band-management, hingga bisa duduk jadi manajer eksekutif di salah satu perusahan rekaman internasional; membuat saya terus ingin belajar dan berkembang mengikuti kemajuan musik/industri, khususnya memperdalam mengenai konsep “pariwisata musik” ini. Saya berniat belajar kepada seorang kawan lama yang kini bermukim di Amerika Serikat, Robin Malau (veteran musik rock, pengamat teknologi terkini, dosen pengajar, pembicara musik internasional), yang telah banyak melanglang ke luar negeri dan banyak berkutat mengenai “Kota Musik”.

Menurutnya definisi “Kota Musik” yang paling mendasar adalah “tempat di mana ekonomi musik dapat hidup dan berkembang“. Semakin banyak pemerintah dan pemangku kepentingan dari seluruh penjuru dunia yang melihat strategi membuat kota yang ramah musik dapat memberikan keuntungan yang signifikan. Apakah kota Anda ingin dikunjungi turis? Menjadi tempat tinggal anak muda berbakat? Membangun merk kota? Coba gunakan musik.

Strategi apa yang bisa diterapkan kota-kota Indonesia untuk menerapkan strategi “Kota Musik”? Menurut Robin Malau, yang kini menjabat sebagai Asia-Pacific Business Development Consultant – Sound Diplomacy, beberapa strategi mendasar yang bisa diadopsi dan diterapkan di Indonesia, salah satunya adalah “pariwisata musik”.

Di tahun 2015, sektor live musik di kota Bristol-Inggris memberikan kontribusi £123 juta atau hampir 2,5 trilyun rupiah pada ekonomi lokal. Ini sama nilainya dengan nilai industri Indonesia tahun 2013. Sementrara itu di tahun lalu, pariwisata musik menghasilkan £3,2 milyar atau sekitar 60 trilyun ke ekonomi di UK dan memberikan pekerjaan tetap pada setidaknya 50 ribu orang. Aset pariwisata musik kota tidak hanya lokasi live musik, tapi juga bisa termasuk gedung pusat musik, festival, tempat belanja merchandise, hingga lokasi-lokasi musik yang bersejarah.

Mari kita tengok highlight dari tulisan Shain Shapiro, PhD selaku Founder & CEO Sound Diplomacy / Co-Founder Music Cities Convention & Music Tourism Convention, dalam rangka 5 tahun keberadaan Sound Diplomacy, di platform Medium pada 3 April 2018 lalu:

Remember, Music Tourism is a Thing: We created a conference to explore music and tourism last year, we’ve since held 2 editions and had over 300 businesses, cities and tour operators attend. Many cities rely on music heritage to entice tourists, but music heritage is everywhere. You don’t need to be Nashville, Vienna or New Orleans to capitalise on music tourists. There’s a Depeche Mode bar in Tallinn that welcomes thousands of tourists a year. There’s a statue of Frank Zappa in Lithuania that is a tourist attraction. The corner of Winslow, Arizona drives the economy of the town, due to the Eagles. Music is everywhere, more places will begin to recognise their music.

Dan melalui tulisan di blog ini saya juga memiliki satu keinginan untuk menemukan dan melakukan pitching ke beberapa investor potensial yang memiliki ‘jiwa seni dan musikalitas’ terkait dengan konsep “pariwisata musik”. Sudah ada beberapa konsep “pariwisata musik” yang siap untuk diagendakan dan digelar usai Lebaran 2018 nanti hingga masuk menjelang masa kampanye Pilpres 2019. Dimulai dari Lampung dan sekitarnya, kemudian kota-kota lain di pulau Sumatera, dan bahkan berkeinginan untuk menggelar program “pariwisata musik” ini secara nasional.

Mari bersinergi secara positif untuk kemajuan musik Indonesia dan pariwisata Indonesia!

Foto: Hanny Naibaho, Ariel Santos

Asuransi Musisi

black-and-white-music-headphones-life

Image: Pexels

Asuransi khusus untuk musisi? Ya, kenapa tidak…

Melihat masih belum terangkatnya “nasib” seorang musisi, entah sebagai pencipta lagu, pemain band, vokalis, gitaris, dll. atau bahkan mereka yang bekerja untuk musisi/manajemen artis (orang-orang dibalik layar), kebutuhan akan asuransi bagi musisi itu sendiri semestinya layak untuk dipikirkan mulai sekarang. Meski agenda dari program BPJS tetap berjalan dan gencar, saya yakin tidak serta merta mereka yang terjun dan hidup dari kegiatan bermusik sadar akan kebutuhan (asuransi) ini.

Saat ini kegiatan industri kreatif khususnya dengan sekian belas sub sektor, yang sudah dirancang dan dikerjakan oleh BEKRAF, memang sedang ramai digalakkan dan mendapat sambutan yang antusias dari berbagai kalangan pelakunya, baik komunitas, pebisnis, dan media. Musik sebagai salah satunya, tanpa harus berbicara dalam lingkup “industri” yang sebenarnya, merupakan peluang besar dan kesempatan emas apabila mampu diolah dan di-manage secara serius, transparan dan profesional.

Melihat pengalaman-pengalaman dari musisi senior kita (yang telah berpulang), tentunya agak miris bila melihat dan membaca kisah dulu di saat masa populer dan jayanya, namun di hari tuanya nampak terlunta dan “terbuang”, dan tidak ada hal yang cukup berarti untuk diwariskan kepada anggota keluarganya ataupun hak waris. Kita harus mampu belajar dari sejarah dan kisah-kisah pahit itu.

Bukannya berpromosi, selain memikirkan aset-aset karya kita, saat ini kita sebagai musisi mulai harus memikirkan tiga hal ini: asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dan asuransi kecelakaan, ataupun kebutuhan asuransi lainnya. Mungkin ada startup + venture capital yang berminat untuk handle program/platform terkait ini?

QQ Music

20130824030806183

Image: xiaomi.cn

Mungkin belum banyak dari kita yang mengakses layanan musik streaming QQ Music, tapi tentunya tidak asing bila kita mendengar WeChat yang merupakan sister company milik grup Tencent, yang dalam beberapa hari lalu dinobatkan sebagai the most valuable company in Asia. Tencent/Tencent Holdings Ltd. adalah sebuah perusahaan yang berpusat di kota Shenzhen, perusahaan ‘raksasa’ yang memiliki bisnis portal website, jejaring sosial, online game, aplikasi chat, software antivirus,  online adbrowserentertainment, dll.

Saya ingin sedikit membahas soal QQ Music, dimana model bisnis yang ditawarkan oleh QQ Music adalah kurang lebih sama dengan yang ditawarkan layanan global musik streaming populer lainnya: Spotify, Pandora, dll., yaitu berbayar dan freemium.

Konsumsi musik di dunia saat ini memang sedang mengalami perubahan besar, dari konsep downloading dan kini yang kian marak tentunya adalah streaming, baik gratisan ataupun berbayar (tanpa kita melupakan ‘raksasa’ YouTube, tentunya!). Mungkin jika selama ini kita hanya fokus melihat kreasi berbasis teknologi banyak berasal dari daratan Eropa dan Amerika saja, kini saatnya ‘mewaspadai’ kemajuan dan perkembangan teknologi dari daratan China ini yang memang sudah terbukti established, salah satunya QQ Music ini.

QQ Music telah mengklaim sebagai perusahaan music streaming yang telah menangguk untung dari layanannya. Sementara Spotify yang telah eksis sejak September 2008 , saat ini pun masih “berdarah-darah”, bahkan terancam rugi. Lebih dari 70% revenue Spotify digunakan untuk membayar royalti kepada pihak perusahaan rekaman dan copyright owner. Dari laporan yang saya baca ini dalam bahasa China ini kemudian di Google Translate kan, semoga saja saya tidak salah menangkap hal-hal yang dimaksud. Ada beberapa hal yang menarik untuk disampaikan dan perlu kita lihat, yaitu sebagai berikut:

  • Menurut beberapa data yang terpublikasikan, tanpa adanya pernyataan resmi, QQ Music dinyatakan telah meraih keuntungan. Dalam satu pertemuan QQ Music Industry Forum Media Sharing, menurut Wu Wei Lin selaku General Manager of Digital Music Banquet Tencent kepada media menyatakan “ya telah untung”.
  • Hal ini merupakan kejadian yang sangat luar biasa, karena dalam sejarah industri musik dunia, karena baru QQ Music yang menjadi satu-satunya perusahaan yang berhasil mengumumkan keuntungan atas layanan musik streaming.
  •  Model bisnis QQ Music adalah sama dengan kombinasi antara Spotify + iTunes Store, freemium dan berbayar untuk men-download.
  • Konsep digital album menjadi satu inovasi khususnya bagi platform musik di China. Meski konsep digital album ini hampir sama dengan konsep iTunes Store yaitu pengguna membayar kemudian men-download file dalam format MP3 ke komputernya, ternyata digital album lagu-lagu China lebih disukai karena memiliki lebih banyak value-added service.
  • Dengan memiliki WeChat dimana di dalamnya terdapat 762 juta pengguna aktif, Tencent secara mudah mampu meyakinkan dan bernegosiasi dengan perusahaan-perusahaan rekaman besar yang ada seperti Sony, Warner Music, dan YG Entertainment dari Korea Selatan. Konsep kerjasama distribusi secara eksklusif bisa dilakukan. Dan rata-rata user di China sudah sadar akan kemudahan ec0mmerce system, mereka membeli tiket konser dan memesan taxi cukup dari aplikasi WeChat.
  • Jumlah pengguna yang terus bertambah membuat posisi QQ Music terus meroket. Setiap harinya terdapat 100 juta pengguna aktif dan 400 juta pengguna aktif tiap bulannya. Dibandingkan dengan pengguna Spotify yang berjumlah 30 juta subsciber dan 100 juta pengguna aktif tiap bulannya.
  • Perusahaan analis iResearch dari China menyatakan bahwa, meski porsi pengguna QQ Music masih ‘sedikit’, mereka meramalkan bahwa separo user di China akan mau membayar apapun melalui aplikasi musiknya tahun ini. Baik untuk membeli digital album secara satuan/bukan berlangganan, ataupun membeli tiket konser. Kemauan untuk membayar adalah merupakan kunci utama.

Sebagai kesimpulan, pada bulan Juli 2016 lalu Tencent mengakuisisi mayoritas saham China Music Corporation, dan bermaksud menggabungkan layanan musik populer yang dimiliki China Music Corporation yaitu Kugou dan Kuwo. Penggabungan ini dimaksudkan untuk memperkuat dan memperluas layanan QQ Music tentunya. Dari penggabungan tiga unit ini akan menargetkan hampir lebih dari 800 juta pengguna.

Sungguh kita berbicara menyangkut angka-angka yang fantastik! Dan dalam lingkup ‘industri musik’ ini saya menanti gebrakan dari kompetitor terdekat Tencent, yaitu Alibaba, dimana sang big boss-nya telah ‘diminta’ untuk menjadi advisor dalam steering committee e-commerce Indonesia, yang disampaikan saat kedatangan Presiden Jokowi ke China untuk menghadiri pertemuan negara G20 beberapa waktu lalu.

Ref.: Mashable

Isyana Sarasvati Luncurkan Hit Single Terbaru “Mimpi”

Gadis cantik multi talenta, Isyana Sarasvati sedang dalam puncak popularitas. Dari ajang Indonesian Choice Awards 2016 yang diselenggarakan oleh NET TV, Isyana meraih dua penghargaan yaitu sebagai “Female Artist of The Year” dan “Album of The Year”untuk album Explore.

Penyanyi yang bercita-cita menjadi maestro musik ini kembali merilis single terbarunya yang berjudul “MIMPI”. Lagu ini adalah single keempat Isyana setelah sebelumnya sukses dengan hit single Keep Being You, yang dirilis pada bulan Oktober 2014, dimana YouTube Vevo mencapai lebih dari 11 juta viewer. Disusul dengan kesuksesan single kedua Tetap Dalam Jiwa yang dirilis pada Maret 2015 dan mencapai lebih dari 42 juta viewer di YouTube Vevo dan menjadi lagu yang paling banyak di putar di radio-radio. Single duet pertamanya Kau Adalah dengan Rayi yang dirilis pada November 2015 juga mendulang sukses dan mencapai lebih dari 13 juta viewer di Youtube Vevo.

“Mimpi adalah salah satu lagu di dalam album Explore yang benar-benar dibuat dengan hati. Karena semua elemennya bener-bener Isyana banget. Dari melodi, lirik, dan aransemennya, semua aku yang memikirkan. Boleh dikata ini adalah masterpiece di album perdanaku,” jelas Isyana.

Mimpi ditulis Isyana pada tahun 2014. Lagu ini merupakan pengalaman pribadi Isyana Sarasvati yang ditumpahkan dalam sebuah lagu. Saat itu Isyana sedang merasakan kesedihan mendalam dan menyalurkannya lewat piano. Dari situ Isyana mulai memainkan melodi, mengalir begitu saja. Baru kemudian dikembangkan menjadi sebuah lagu, dengan menggunakan tema yang berstruktur.

“Komposisi ini aku ciptakan seperti aku membuat sebuah ilustrasi film. Semuanya mengalir. Lagu ini didominasi oleh sentuhan piano dengan latar string, yang memberi warna klasikal, sesuatu yang menjadi ciri musikalitasku,” ungkap Isyana.

Video klip Mimpi dibuat istimewa dengan latar belakang keindahan panorama Lombok dengan pantai dan bukitnya yang menawan. Isyana tampil cantik natural dengan busana etnik dari sejumlah designer Indonesia. Video klip Mimpi diunggah di Vevo pada tanggal 27 Mei 2016 dan langsung disambut antusias oleh para penggemar Isyana. Hingga hari ini (31 Mei 2016), video klip Mimpi sudah diakses lebih dari 184 ribu dan akan terus bertambah.

Lewat lagu Mimpi, Isyana berharap dapat berbagi emosi dengan semua orang yang memiliki pengalaman yang serupa dengannya.

Tentang Isyana Sarasvati

Isyana Sarasvati lahir dan dibesarkan di Kota Bandung pada 2 Mei 1993 dari lingkungan keluarga pendidik. Sempat bermukim di Belgia mengikuti sang ayah yang bersekolah disana, Isyana yang kala itu berusia 3 tahun sudah menunjukkan ketertarikan pada piano. Ibunya yang merupakan guru electone, piano dan vocal mengarahkan bakatnya. Isyana kecil juga terbiasa mendengarkan musik-musik jazz dan klasik kegemaran ayahnya. Sejak di kelas 1 SD sudah mantap mengatakan ingin menjadi maestro, yaitu seorang komposer sekaligus menjadi konduktor orkestra. Gadis multi talenta ini piawai memainkan sejumlah instrumen musik, antara lain piano, electone, flute, dan saxophone. Demikian juga kemampuan vokalnya yang unik, terutama di genre opera dan pop.

Musik menjadi wahana eksplorasi Isyana. Umur 7 tahun dia sudah membuat komposisi lagu. Umur 11 tahun ia membuat proyek album bersama kakaknya, Rara Sekar Larasati dengan judul Rara & Isyana.

Sejumlah prestasi yang telah diraih, antara lain 3 kali Juara Grand Prix Asia Pasific Electone Festival (2005, 2008, 2011); Penampilannya yang cemerlang membawanya terpilih menjadi salah satu dari 15 Composer Electone Dunia, yang tampil di Yamaha Electone Concours (YEC) 2012 di Tokyo, Jepang.

Pada usia 16 tahun Isyana mendapatkan scholarship dari Pemerintah Singapore untuk menempuh pendidikan Music Performance di Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA), Singapore, dan pada tahun 2013 telah berhasil meraih Diploma in Music Performance (2013). Dengan prestasi akademiknya, Isyana mendapatkan kembali full scholarship untuk studi lanjutan Bachelor of Music with Honours Funded Degree Programme in collaboration with RCM –London UK.

Isyana lulus dengan predikat Cumlaude (first class) sebagai Bachelor of Music (Honours) dari Royal College of Music (RCM) London, serta memperoleh Best Graduate Award 2015 dari Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) Singapore dan juga Award dari Embassy of Peru.

DISKOGRAFI:

ALBUM Explore! (Album 2015)

SINGLES

– Keep Being You – Oktober 2014

– Paseban Café (Fariz RM & Dian PP in Collaboration With) – 2014

– Tetap Dalam Jiwa – Maret 2015

PENGHARGAAN

Indonesian Choice Award 2016 Female Singer of The Year

Indonesian Choice Award 2016 Album of The Year “Explore”

Anugerah Musik Indonesia 2015 Penyanyi Pendatang Baru Terbaik

Anugerah Musik Indonesia 2015 Best Soul/R&B Male/Female Solo Artist (“Keep Being You”)

Inbox Awards 2015 Most Inbox Newcomer

Insert Awards 2015 The Hottest Newcomer

Showbiz Indonesia Awards 2015 Rising Star of the Year

NOMINASI

Indonesian Choice Awards 2015 Female Singer of the Year

Indonesian Choice Awards 2015 Breakthrough Artist of the Year

Selebrita Awards 2015 Most Celeb Newcomer

Most Inbox 2015 Darling Social Media Artist

Anugerah Planet Muzik 2015 Best New Artist (Female)

Silet Awards 2015 Razored New Idol

Yang ingin tahu lebih banyak tentang Isyana Sarasvati dapat mengikuti:

YouTube Page : IsyanaSarasvati

Twitter : https://twitter.com/isyanasarasvati

Instagram : instagram.com/isyanasarasvati

Untuk informasi lebih lanjut:

Sundari Mardjuki – Senior Marketing & Communication Manager

Email : sundari.mardjuki@sonymusic.com

@ SonyMusicID

Ben Sihombing: Set Me Free

Print

Ben Sihombing: Set Me Free

Sudah hampir sebulan lewat mendengarkan via Spotify Premium single baru dari pendatang baru di musik tanah air ini, Ben Sihombing, dengan single perdananya “Set Me Free”.  Saya menyempatkan untuk sedikit menuliskannya di blog ini.

Tidak banyak komentar yang akan saya berikan, tapi gaya pop ballad minimalis ini sedikit ‘menggugah’ hati saya. Ditambah dengan karakter vokal Ben Sihombing yang memang agak ‘unik’ dan memiliki daya tarik, menurut saya.

Lagu “Set Me Free” meski berbahasa asing, cukup hanya diperdengarkan 2-3 kali langsung bisa nyantol di kepala. Materi yang cukup simpel tapi berbobot. Kalau pihak label rekamannya jeli dan jitu, materi ‘kuat’ ini bisa memiliki peluang untuk diekspansi dan dieskpor ke negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand bahkan Filipina. Ohhh, kenapa tiba-tiba saya langsung teringat dengan lagu yang lumayan populer 20 tahun lalu ini ya: Nice Stupid Playground – Bedroom Window, hi… hi… hi…

Saya berharap nantinya ada (banyak) lagu Ben Sihombing yang berlirik bahasa (Indonesia). Supaya karakter, positioning dan brand-nya bisa lebih terbangun. Selamat datang Ben Sihombing di musik tanah air, Sabang sampai Merauke siap menyambutmu…

 

Ben Sihombing: Set Me Free (Media Release)

Indonesia kini memiliki penyanyi solo pendatang baru bertalenta tinggi bernama Ben Sihombing. Pemilik nama lengkap Christopher Ben Joshua Sihombing merilis single perdana bertajuk ‘Set Me Free’ yang menceritakan tentang arti sebuah ikatan yang di interpretasikan sebagai pernyataan atas sebuah hubungan kuat di dalam kehidupan manusia yang hanya relatif singkat.

Di single ini Ben menyajikan suatu warna pop folk ballad yang tidak banyak menggunakan instrumen. Hanya gitar yang ia mainkan yang mengiringi suara emas Ben dalam lagu yang bernuansa sendu ini. Single ini nantinya yang akan merepresentasikan bagaimana Ben akan mengambil jalur musik yang akan dimainkan dan ditawarkan kepada pencinta musik Tanah Air.

Dalam single tersebut, Ben yang juga adik kandung dari musisi Petra Sihombing tersebut ingin menciptakan kesan easy on ears dan lights, serta direct statement yang menjadi tujuan dari lagu ini dijadikan single perdana dari Ben Sihombing yang dipersembahkan kepada seluruh pencinta musik tanah air Indonesia demi terciptanya apresiasi personality terhadap musik Indonesia yang lebih signifikan di masa yang akan datang.

Ben, yang juga kerap terlibat dalam pembuatan lagu-lagu sang kakak Petra Sihombing, mengatakan bahwa tema simplicity ia bawa dalam menciptakan lagu-lagu dengan memberikan sentuhan yang bersifat hidup dan natural pada setiap bagian lagu yang dianggap inti dari suasana lagu.

“Gue ingin orang enggak hanya mendengarkan lagunya doang tapi juga ingin mereka merasakan perasaan gue saat itu yang coba disampaikan lewat lagu,” ujar Ben tentang single-nya tersebut.

Info: E-Motion Entertainment

Lima Seniman Jogja Beraksi Di Indonesian Day Pada Zushi Beach Film Festival Jepang

Flyer-Indonesian-Day-di-Zushi-Beach-Film-Festival-2016-896x1024

Indonesian Day @ The Zushi Beach Film Festival (ZBFF)

Musim panas di Tokyo bisa menjadi hal yang sangat mengganggu. Hal tersebut yang membuat para penghuni kota metropolitan Jepang ini mencoba melarikan diri ke pantai, dan pantai Zushi di Kanagawa menjadi salah satu tempat pelarian musim panas paling populer. Sayangnya pantai ini melarang pemutaran musik keras, tattoo dan barbecue, tapi diantara semua larangan tadi terselip sebuah event yang harus dihadiri terutama pada saat Golden Week, The Zushi Beach Film Festival (ZBFF).

ZBFF adalah sebuah festival film tahunan yang diorganisir oleh Cinema Caravan, sebuah kolektif seniman Jepang yang mempergunakan video/film sebagai media. Dengan konsep Play With The Earth, kolektif ini sering mengadakan pemutaran film secara interaktif melalui format bioskop keliling dengan tempat yang dekat dengan alam semisal di atas bukit atau tepi pantai yang sepi.

ZBFF tahun ini adalah yang ke tujuh kalinya digelar, dan kali ini akan berlangsung mulai 28 April sampai 8 Mei 2016. ZBFF sendiri secara ironis menawarkan semua hal yang dilarang di pantai tersebut mulai dari pemutaran bermacam jenis film, pertunjukkan musik keras, tattoo serta pesta makanan tradisional setiap harinya. Selain itu, festival ini juga menyajikan pergelaran seni, budaya serta olahraga ekstrem dari berbagai negara yang ditunjuk sebagai tema harian, termasuk Indonesian Day. Untuk informasi lain mengenai ZBFF, silahkan cek: http://www.zushifilm.com.

Pada ZBFF 2016 kali ini, Cinema Caravan mengundang lima seniman Indonesia untuk mengkurasi Indonesian Day yang tidak hanya menyajikan unsur film dan seni rupa tetapi juga musik, makanan serta budaya lokal lainnya. Indonesian Day di ZBFF 2016 yang diselenggarakan pada 7 Mei 2016 nanti akan menggelar permainan interaktif lomba ala tujuh belasan semisal Lomba Makan Krupuk, Balap Karung, Voli, Lari Bakiak serta memasak masakan Indonesia. Selain itu ada screening film berjudul ‘Siti” yang disutradarai oleh Eddie Cahyono, produksi FourColours Films. Sebagai perwakilan Ace House Collective, Uji “Hahan” Handoko berperan sebagai penata artistik di Indonesian Day selain memamerkan karya-karya dari anggota Ace House Collective. Sementara itu, dua seniman lainnya yaitu Aga dan Gotha Antasena dari Whaton Studio akan membangun sebuah karya instalasi sebagai representasi dari gerobak kaki lima yang khas kita temui sehari-hari di Indonesia.

Pada sesi musik, Indonesian Day akan menampilkan group Electronic yang sempat merilis single kolaborasi bersama Masia One melalui DoggyHouse Records, DubYouth Soundsystem. Group yang tahun lalu merayakan ulang tahun-nya ke sepuluh ini dikomandani oleh PoppaTee (Heru Wahyono “Shaggydog“) sebagai produser dan arranger serta dibantu Metzdub (Andy Zulfan) pada mixing console.

Sumber: DoggyHouse Records

Senyawa: Dari Yogyakarta Menuju Amerika

Screen Shot 2016-01-30 at 4.38.39 pm

Senyawa, Cafe Oto, London – England

Akhirnya setelah melalui beberapa waktu, pada minggu ini saya berkesempatan untuk melakukan wawancara jarak jauh dengan Senyawa, duo eksperimentalis yang berasal dari Yogyakarta. Wawancara ini untuk menindaklanjuti pemberitaan dari situs billboard.com pada Februari 2016 lalu, bahwa Senyawa akan tampil di Eaux Claires Festival yang diselenggarakan di 443 Crescent Avenue, Eau Claire, Wisconsin, 12-13 Agustus 2016 nanti.

Eaux Claires Festival adalah festival musik yang dikurasi oleh Justin Vernon (Bon Iver) dan Aaron Dessner (The National). Dalam event ini akan tampil pula Bon Iver, James Blake, Jenny Lewis, Erykah Badu, dll. Berikut beberapa tanya jawab saya secara ringan dengan Senyawa (Rully Shabara dan Wukir Suryadi), beserta manajernya Kristi Maya Dewi Monfries. Simak pula berita terkini: ‘penolakan’ Senyawa atas tawaran kontrak dari label rekaman Sub Pop (label Nirvana, Soundgarden, dll.)!!

Saya mendengar kabar dari salah satu artikel di Billboard pada Februari 2016 lalu, bahwa Senyawa diundang oleh Justin Vernon (Bon Iver) untuk tampil di festival musik yang dikurasi olehnya. Bisa diceritakan secara rinci bagaimana awal mulanya dan sepertinya undangan ini sangat personal?

Kristi Monfries: Awalnya dimulai saat Justin Vernon (Bon Iver) sedang berada di kota Paris dalam rangkaian tour Bon Iver. Pada satu malam saat Justin Vernon menyaksikan acara di satu televisi yang menayangkan film dokumenter pendek Senyawa, Calling the New Gods, yang disutradarai oleh Vincent Moon, dari situ Justin Vernon langsung jatuh hati dengan musik Senyawa. Dari satu moment yang serba kebetulan ini, Justin langsung memutuskan untuk mengundang Senyawa tampil di festival musik yang dikurasinya, Eaux Claires Festival, dan dalam beberapa bulan terakhir antara Justin Vernon dan Senyawa telah melakukan pembicaraan dan menyelesaikan beberapa hal. Dengan sepenuh hati Justin Vernon juga memberikan dukungan kepada Senyawa, mulai dari bantuan untuk mengurus pengajuan visa di kedutaan Amerika Serikat.

Ada kabar juga selain tampil di Eaux Claires Festival ini, Senyawa juga bakal menggelar tour di beberapa kota di Amerika Serikat? Rencana tampil di kota mana saja?

Kristi Monfries: Eaux Claires Festival akan menjadi agenda penting dalam rangkaian tour Amerika Serikat nantinya. Saat ini beberapa jadwal yang telah memberikan konfirmasi untuk penampilan Senyawa adalah di kota-kota berikut: Olympia, Seattle, San Francisco dan New York.

Bisa dikisahkan mengapa sampai ada ‘immigration lawyer’ yang didatangkan secara khusus untuk mengurus keberangkatan kalian ke Eaux Claires Festival nanti?

Kristi Monfries: Sehubungan dengan proses pengajuan visa di kedutaan Amerika, tentunya bukan hal yang mudah untuk mengikuti semua alur prosesnya, apalagi ini juga berkaitan dengan instrumen-instrumen musik yang akan kami bawa, yang nampak terlihat berbeda dengan instrumen biasanya. Dari pihak Senyawa & management sendiri mencoba mengantisipasi dan tidak mau mengambil resiko, misalnya ketika sudah tiba di Amerika Serikat harus ribet dan repot berurusan dengan bea cukai serta imigrasi disana. Justin Vernon sebagai salah satu kurator Eaux Claires Festival sangat memahami hal ini, dan bahkan dia membantu mendatangkan ‘immigration lawyer’ untuk membantu menyelesaikan semua proses dokumen di kedutaan. Semuanya bisa dibereskan.

Bagaimana kabar Rully Shabara dan Wukir Suryadi akhir-akhir ini? Ada project apa mereka saat ini?

Rully Shabara: Selain sibuk dengan Senyawa, saya juga menjalankan kelas workshop paduan suara eksperimental “Raung Jagat”, yang hingga kini sudah mencapai 7 kelas di Indonesia dan beberapa negara lain. Saya juga masih terus menjalankan Zoo (band), meskipun fokusnya kini hanya lebih ke penggarapan album.

Wukir Suryadi: Disela-sela dengan Senyawa, saya sedang berusaha merealisasikan gagasan membuat instalasi hidup. Instalasi yang fungsional, secara fungsi juga sekaligus sebagai statement menyikapi perkembangan kota Yogyakarta pada khususnya. Sudah berjalan setahun dan karya tersebut masih berkisar 60 persen penggarapannya. Berkaitan dengan instrumen, sekarang sedang dalam pengerjaan arrow music instruments  yang sudah hampir 2 tahun ini berjalan. Juga saat ini sedang membentuk gagasan album “Terbang” yang secara instrumen musikalnya memanfaatkan terbang/rebana sebagai obyek eksplorasi. Dan juga sedang dalam proses merekonstruksi ulang karya instrumen Tenun, Sisir & Topi Toraja. Saat ini instrumen tersebut saya titipkan di Weltkulturen Museum, Frankfurt.

Kalian sudah berkeliling ke Asia, Australia, dan Eropa, dan bulan Agustus nanti kalian akan ‘menjajah’ Amerika. Bagaimana menurut kalian apresiasi antara pecinta musik di luar dan di dalam negeri?

Wukir Suryadi: Sejauh ini yang saya rasakan pada saat main di luar negeri, di manapun, mereka (audience) selalu berharap bahwa kami akan kembali bermain disana. Dan banyak sekali pendapat jujur dari mereka setelah menonton Senyawa live, mereka memberikan komentar: “ini konser yang memberikan energi dan wacana baru bagi kami”. Sementara disini, kami masih selalu mencoba mencari ruang-ruang untuk menyampaikan musik kami. Memang benar tidak ada promotor musik yang berani gambling mensosialisasikan musik-musik seperti Senyawa, pun diluar itu. Mungkin juga karena mindset para promotor musik tersebut. Mengenai musik Senyawa yang mungkin sedikit berbeda dibandingkan jenis musik lainnya.

Rully Shabara: Sejauh ini memang apresiasi penonton di luar lebih besar, baik minat maupun pemahaman mereka. Tapi penonton di Indonesia juga semakin menunjukkan ketertarikan dan apresiasi yang jauh lebih besar belakangan ini. Jujur, memang musik Senyawa tidak ditargetkan untuk mudah diterima siapa saja. Dan menurut saya, sekarang masyarakat Indonesia sebenarnya sudah siap dengan jenis musik apa pun. Tinggal media dan promotor lokal saja yang perlu lebih membantu mereka untuk mengakses dan menemukan berbagai musik yang tersedia.

Saya mendapat kabar santer seputar ‘penolakan’ dari Senyawa atas tawaran kontrak dari label rekaman Sub Pop (label Nirvana, Soundgarden, Mudhoney, The Postal Service, dll)? Bisa diberikan klarifikasinya?

Kristi Monfries: Ya sebenarnya kami sungguh merasa sangat terhormat ketika “diminta” oleh pihak Sub Pop, perusahaan rekaman yang cukup ternama, tapi nampaknya saat itu (dan sekarang) bukan waktu yang tepat bagi Senyawa untuk memulainya. Kondisi Senyawa saat sekarang adalah merupakan kondisi yang paling prima. Jadi biarkan kami berjalan seperti ini. Mungkin saja di saat yang akan datang ada kesempatan untuk bekerjasama…

Bagaimana menurut kalian ekosistem musik di Indonesia di era kemajuan teknologi dan digital seperti saat ini?

Rully Shabara: Bergerak ke arah yang lebih baik, bagi musisi maupun penikmat. Sekarang dengan internet, siapa pun bisa menyebarkan karya atau mendengarkan karya tanpa batas. Strategi pemasaran juga semakin canggih karena memiliki banyak opsi juga murah, tak melulu harus mengandalkan toko musik atau video klip. Ini juga ‘mematikan’ istilah underground karena tak ada lagi yang di bawah tanah, semuanya muncul ke permukaan, kecuali scene yang memang memilih untuk tetap mengakar pada tradisinya, seperti punk, hardcore, hiphop, atau sebagian scene metal. Sisanya, semuanya langsung bisa diakses publik. Yang merasa mampu akan berjuang sendiri dan jika bagus pasti akan bertahan serta menemukan atau membentuk pasarnya sendiri, dan jika kurang mampu pasti akan mengeluh soal pembajakan dan tetap berjuang dengan cara konvensional seperti beriklan di TV untuk gencar menyuap audience yang pasif.

Mungkin saja saat Senyawa berkeliling Amerika nanti akan mendapatkan tawaran kontrak rekaman, mungkin oleh label lain dengan penawaran yang lebih bagus. Bagaimana reaksi kalian?

Kristi Monfries: Kami tidak mau berandai-andai akan kontrak rekaman tersebut. Pastinya semua tergantung dari keadaan dan kondisinya. Dan pastinya, pihak yang akan bekerjasama dengan Senyawa adalah pihak yang tepat. Pihak yang bisa memahami dan mendukung sepenuhnya keberadaan Senyawa dengan lintasan musiknya.

Hingga saat ini kalian masih banyak menghabiskan waktu dan berinteraksi di Yogyakarta, kan? Bagaimana menurut kalian komunitas musik di Yogyakarta yang ada sekarang dibandingkan beberapa tahun lalu?

Rully Shabara: Menurut saya, Yogyakarta sangat baik bagi scene musik karena setiap komunitas begitu mudah terhubung satu sama lain. Sejak dulu sih… Asyiknya, di Yogyakarta acara musik semakin ramai, segala jenis pula. Bukan cuma konser, tapi juga aspek lain seperti acara diskusi, workshop, festival, dan macam-macam. Semuanya pun punya massa masing-masing dan terus bertambah. Energinya semakin baik.

Last, ada rencana project ataupun merilis materi baru hingga akhir tahun 2016 ini?

Rully Shabara: Tahun ini Senyawa mencoba merambah wilayah baru yang lebih luas, yakni teater. Kami tahun ini terlibat dalam tiga proyek teater. Di Yogyakarta, Australia, dan Jepang. Akan ada juga setidaknya dua album yang kemungkinan dirilis tahun ini, materinya sudah direkam dari tahun lalu, dengan dua label yang berbeda. (*)

Kredit Foto: Senyawa