Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik (PDDP Musik) judul yang saya berikan dalam tulisan blog kali ini, setelah saya terinspirasi membaca satu artikel minggu lalu yang merilis berita kerjasama antara layanan pengaliran musik (music streaming) Spotify dengan Nielsen yang merupakan perusahaan riset global.

De.mo.gra.fi /démografi/ yang mengacu pada KBBI berarti: ilmu tentang susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk; ilmu yang memberikan uraian atau gambaran statistik mengenai suatu bangsa dilihat dari sudut sosial politik; ilmu kependudukan.

Informasi demografi dari penggemar musik ini mungkin kita belum melihatnya sebagai kesatuan “big data” yang sebenarnya merupakan ‘aset’ yang sangat berharga. Big data yang salah satunya bersumber dari konten media sosial, gambar digital dan video, pembelian dan transaksi daring, twit, telepon seluler, dll., semuanya bisa dimanfaatkan, diolah, disimpan serta bisa dianalisa dalam beragam bentuk format. Tentunya tidak hanya berkaitan dengan demografi.

Terkait dengan pengelolaan data fan atau penggemar ini, ternyata Metallica juga tidak mau ketinggalan untuk pemanfaatan-nya. Bekerjasama dengan Spotify, Metallica menggunakan data pengguna Spotify untuk menentukan ‘setlist’ lagu di tiap konsernya di masing-masing kota yang berbeda. Dengan membaca dan mengolah data ini sebelum mereka tampil di London, Paris, ataupun Swedia misalnya, pihak Metallica jadi lebih memahami lagu apa yang sering diputar dan paling diminati di tiap kota. Realisasinya adalah terdapat perbedaan ‘setlist’ lagu-lagu Metallica saat konser di tiga kota tersebut.

Jika kita melihat playlist Spotify “Top Tracks of 2017 Indonesia”, dari urutan 50 lagu tersebut terdapat: Payung Teduh – Akad, Armada – Asal Kau Bahagia, Rizky Febian – Cukup Tau, Payung Teduh – Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan, dan Jaz – Kasmaran. Saya tidak mengetahui apakah dari daftar artis-artis ‘top’ tersebut pihak label rekamannya, manajemen artis, atau si artisnya sendiri, sudah memanfaatkan data digital yang berhubungan dengan penggemar? Misal melihat pertimbangan dari sisi demografi si-user: faktor usia, lokasi, pendidikan, dll., yang kesemuanya bisa menjadi tolak ukur untuk melihat potensi daya beli atau besarnya pasar dari para penggemar musik tersebut.

Menurut data dari pihak Spotify Asia tahun 2017 lalu, orang Indonesia mendengarkan musik setidaknya tiga jam dalam sehari dan termasuk yang gemar membuat daftar putar (playlist). Dan terdapat tiga momen utama yang jadi puncak bagi banyak orang mengakses layanan pemutar musik daring, yaitu:

  • saat pagi hari ketika berada di jalan
  • setelah makan siang
  • di atas jam 9 malam saat hendak beristirahat di rumah

Dalam era kemajuan teknologi informasi saat ini, dengan modal data digital tersebut, selain urusan manajemen artis/label rekaman yang dituntut untuk lebih kreatif, menurut saya hal ini juga bisa menjadikan peluang bagi tumbuhnya “boutique agency”, semacam agensi kreatif atau konsultan skala kecil yang akan membantu musisi-musisi yang sudah mapan ataupun pendatang baru untuk menyasar penggemar (segmentasi – IMHO) agar lebih fokus dan untuk memberikan service ataupun content yang lebih pas bagi para penggemar. Hal yang juga penting adalah bagaimana dengan data yang diolah tadi si musisi beserta manajemen-nya tadi bisa menarik calon sponsor ataupun investor. Intinya musisi perlu terus berinovasi dan berkreasi dengan memanfaatkan data digital.

Dari semua hal ini, kesimpulan yang mau saya sampaikan adalah: memanfaatkan dan mengolah data untuk terus “jualan”. Saya bukanlah orang yang merupakan ahli strategi pemasaran ataupun pandai untuk ‘berjualan’, tapi saya mau terus belajar terkait pengelolaan big data ini.

Ayo kita kelola secara baik data yang ‘bertebaran’ ini…

 

Foto: William Krause

Video Vertikal

02-20180619-KS-pamelachen-IMG_0157-2160_lo

Kevin Systrom, CEO & Co-Founder Instagram

Dalam satu event yang digelar di San Fransisco pada hari Rabu tanggal 20 Juni 2018 kemarin, CEO & Co-Founder Instagram, Kevin Systrom, memberikan keterangan resmi terkait dengan dua hal yaitu: mengumumkan jumlah pengguna Instagram di seluruh dunia yang sudah mencapai angka 1 miliar, dan yang kedua adalah rilis aplikasi baru ‘IGTV’ platform konten video vertikal dengan durasi 1 jam.

Tentu saja bisa ditebak dengan dirilisnya IGTV ini berarti menandakan Instagram yang dimiliki Facebook siap ‘perang besar’ dengan YouTube yang dikuasai oleh Google. Tidak salah bagi Mark Zuckerberg/Facebook saat mengakuisisi Instagram pada April 2012 dengan ‘murah’ senilai USD 1 miliar atau hampir 13 trilyun (sementara WhatsApp diakuisisi lebih dari USD 19 miliar).

Berbicara soal konsep video vertikal di era kekinian saat ini, pastinya menjadikan daya tarik besar bagi generasi sekarang. Yang jelas kita sebagai pengguna tidak perlu repot-repot memutar layar smartphone, seperti halnya video dengan tampilan horizontal (YouTube).

instagram-800m-2017-09

Instagram mencapai 800 juta pengguna di bulan September 2017

Derasnya dan cepatnya arus informasi hingga konten sekarang ini, bagi generasi kekinian (Gen Y, Gen Z, hingga Gen C/YouTube Generation) yang merupakan konsumen ‘mobile’ setiap saat, format vertikal ini bakal menjadi satu kemudahan. Bagi para kreator konten video, konsep video vertikal dengan durasi panjang ini akan menjadikan peluang baru. Hal yang sama juga merupakan tantangan bagi digital agency/influencer marketing agency hingga digital marketers untuk terus berkreasi dan berkarya.

Untuk beberapa waktu kedepan… kita bakal terbiasa dengan video ‘tegak lurus’ alias full-screen di layar smartphone dan mungkin mulai mengurangi konsumsi konten video horisontal.

 

Foto & Grafis: Instagram Info Center

YouTube Music

Android_All_English

YouTube Music

Dalam keterangan blog resmi yang dirilis oleh YouTube pada tanggal 16 Mei 2018 lalu disebutkan bahwa pada tanggal 22 Mei 2018 akan diluncurkan layanan YouTube Music di beberapa negara: Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Meksiko, dan Korea Selatan.

Konsep YouTube Music ini adalah merupakan gabungan layanan aplikasi pengaliran musik (music streaming) dengan konsep konten video milik YouTube. Terdapat dua jenis layanan yaitu gratis (dengan sisipan iklan), dan layanan berbayar YouTube Music Premium sebesar $9.99 per bulan.

Karena layanan ini masih eksklusif di beberapa negara tertentu, saya sendiri belum bisa banyak bercerita bagaimana keunggulan ataupun kelebihan dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan dari YouTube Music ini, dibandingkan dengan aplikasi pengaliran musik yang hampir sama seperti: Spotify, Deezer, TIDAL, dll. Sampai saat ini saya juga masih belum bisa menikmati layanan-layanan premium pendukung YouTube Music, seperti YouTube Red dan Google Play Music, yang masih terbatas tersedia di beberapa negara saja.

Dalam hitungan beberapa minggu kedepan, layanan YouTube Music ini juga akan menjangkau ke negara-negara: Austria, Kanada, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Irlandia, Italy, Norwegia, Russia, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Inggris. Indonesia? Mungkin tahun depan sebelum pilpres…

Berbicara mengenai aplikasi pengaliran musik, tentunya tidak bisa dilepaskan dengan adanya Spotify yang menurut data resmi kini memiliki pengguna berjumlah 75 juta pengguna berbayar (kuartal I/2018) dan hampir 170 juta pengguna yang aktif tiap bulan, serta telah tersedia di hampir 65 negara. Di bulan Mei 2015 Spotify pernah memperkenalkan layanan tambahan seperti podcasts dan video.

Saya pribadi merupakan pengguna Spotify cukup lumayan lama, sejak jaman mengakses dengan VPN di tahun 2012/2013, kemudian memiliki akun Spotify di AS dan membayar akses premium dengan Spotify Gift Card, hingga ‘terpaksa’ migrasi akun ke Spotify Indonesia begitu layanan ini mulai aktif dan bisa diakses disini. Bisa dibilang saya termasuk ‘addicted’ dengan Spotify, pilihan menggunakan fasilitas premium juga bukan tanpa alasan. Bagi saya ‘kesederhanaan’ tampilan, penggunaan yang mudah, pilihan playlist sesuai mood dan relevan dengan segala situasi, menjadikan Spotify layak untuk dicintai dan dipergunakan untuk ‘music discovery’ dan menjadi pelengkap kegiatan sehari-hari dimanapun/kapanpun.

Akankah layanan YouTube Music ini bakal sejajar dengan Spotify atapun Apple Music? Mungkin saja… Atau bisa saja dalam kurun waktu kedepan nantinya perusahaan induk Google, Alphabet Inc., bakal mengakuisisi Spotify seperti yang pernah dirumorkan di tahun-tahun sebelumnya? Atau bisa jadi Apple Inc. bakal mengakuisisi layanan pengaliran musik dari Perancis, Deezer, ataupun TIDAL, hingga yang akan terjadi kemudian adalah pemain pengaliran musik global hanya menyisakan dua raksasa teknologi & perusahaan media digital yang bakal bertarung: Google vs. Apple? 👻💰🙃

Bagaimana dengan Facebook? Setelah membereskan urusan lisensi untuk konten video dengan Universal Music Group, Sony / ATV Music Publishing, dan terakhir Warner Music Group pada Maret 2018 lalu, usai urusan Cambridge Analytica beres mungkin bisa saja Facebook Inc. bakal ikut meramaikan layanan pengaliran musik (music streaming), dengan merilis Facebook Music, kita tunggu saja…

Oiya, bagaimana dengan platform milik orang terkaya di dunia saat ini, Amazon? Apakah dengan mulai giatnya aneka lini bisnis Amazom ‘merangsek’ ke wilayah Asia Tenggara, bakal juga diikuti dengan memunculkan layanan pengaliran musik Amazon Music yang sudah tersedia di 46 negara? Ahh, banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi…

Sebagai Gen-X yang aktif dengan layanan digital, kini saya cukup menunggu kehadiran YouTube Music di Indonesia, sembari saya ‘tetap setia’ menghabiskan waktu 2-4 jam sehari bermain-main dan menemukan yang ‘baru’ di Spotify… Waktu sekarang saya sedang dan sering mendengarkan Waxahatchee.

Oiya, bagi kalian semuanya musisi/komposer/penerbit musik/perusahaan rekaman/aggregator konten yang memiliki konten lagu & video tentunya bersiap-siap memanfaatkan jalur distribusi musik digital baru ini, YouTube Music.

 

Sumber: YouTube Official Blog

Pariwisata Musik

Pariwisata Musik

Pariwisata Musik

Dalam tulisan di blog kali ini saya berniat membahas mengenai konsep “pariwisata musik”. Satu hal yang ingin fokus saya pelajari dan dalami dalam kurun waktu ke depan, termasuk keinginan untuk bisa hadir di Music Tourism Convention yang akan diselenggarakan di Cologne, Jerman, pada tanggal 29 Agustus 2018 yang akan datang. Kegiatan konvensi pariwisata musik internasional ini akan mengambil tema The Importance of Music Genres in Tourism Identity. Gagasan atau ide “pariwisata musik” ini menurut pengamatan saya baru dibicarakan oleh segelintir orang, namun tanpa disadari di Indonesia sebenarnya sudah berjalan sekian waktu meski tidak memiliki ’embel-embel’ atau label resmi “pariwisata musik”.

Melalui referensi seorang kawan, Fakhri Zakaria, yang banyak menulis soal musik, dan melalui beberapa pencarian di internet, saya juga bisa menemukan satu tesis dari mahasiswa S2 Kajian Pariwisata UGM yang bertemakan “pariwisata musik”. Tesis ditulis oleh Aunurrahman Wibisono sejak akhir tahun 2015, dan beberapa bagian dipublikasikan melalui situs Perpustakaan Pusat UGM.

Berikut mengutip intisari dari tesis berjudul “Potensi Pariwisata Musik Sebagai Alternatif Pariwisata Baru Di Indonesia (Contoh Kasus Java Jazz)” tersebut:


Pariwisata musik termasuk dalam kategori wisata minat khusus. Jenis pariwisata ini tumbuh pesat mulai setidaknya dua dekade terakhir, terutama di kawasan Britania Raya. Indonesia sebagai negara dengan jumlah kelas menengah yang bertumbuh drastis, berpotensi menjadikan pariwisata musik sebagai alternatif pariwisata baru. Saat ini sudah semakin banyak festival musik maupun konser di Indonesia. Hal ini juga didorong oleh kebosanan wisatawan terhadap pariwisata massal di Indonesia.

Sayangnya, hingga saat ini nyaris tidak ada kajian ilmiah terhadap potensi pariwisata musik di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi pariwisata musik di Indonesia. Dalam penelitian ini digunakan beberapa analisis kualitatif dan juga memasukkan beberapa data kuantitatif terkait dengan tingkat okupansi hotel.

Penelitian ini memakai contoh kasus festival Java Jazz. Festival yang pertama kali diadakan pada 2005 ini menjulang jadi salah satu festival jazz terbesar di dunia. Hasil dari penelitian ini adalah festival musik sangat berpotensi untuk jadi alternatif pariwisata baru. Secara konsep pariwisata, festival musik seperti Java Jazz telah memberikan efek terhadap pariwisata. Baik berupa dampak ekonomi, peningkatan okupansi hotel, hingga terciptanya lapangan pekerjaan. Diharapkan di masa depan, akan semakin banyak orang yang mengkaji tentang pariwisata musik. Juga diharapkan para pengampu kepentingan mulai memasukkan festival musik sebagai bentuk pariwisata baru di Indonesia.


Berbicara soal jazz, saya juga teringat dari update status mas Donny Hardono di Facebook pada 11 Maret 2018 lalu. Beliau merupakan pemilik dan vendor tata suara yang banyak menangani kegiatan ataupun event musik nasional/internasional, dan juga merupakan penggerak dan ‘aktivis’ jazz. Saya sendiri bukan merupakan sosok jazz-fanatic, tapi status yang beliau tulis adalah berbagai titel dan event jazz dari berbagai wilayah (yang tidak semuanya saya ketahui 🤩), seperti dibawah ini:

  • Java Jazz Fest
  • Jazz Traffic Fest
  • Jazz Goes To Campus
  • Kampoeng Jazz
  • Malang Jazz Fest
  • Boyjazz Fest
  • Prambanan Jazz Fest
  • Tangsel Jazz
  • Economic Jazz Live
  • Ramadhan Jazz
  • Jazz Gunung
  • Jazz Atas Awan
  • Ijen Summer Jazz
  • Banyuwangi Beach Jazz Fest
  • Ngayogjazz
  • Solo City Jazz
  • Jazz Marker By The Sea
  • ASEAN Jazz Fest
  • Ubud Village Jazz Fest
  • Loenpia Jazz Semarang
  • Makassar Jazz Festival
  • North Sumatra Jazz Festival

Sementara pada akhir Maret 2018 lalu, Christian Rijanto selaku Co-Founder dan Marketing Director Ismaya Group, mengumumkan ekspansi internasional pertamanya ke China yang akan diselenggarakan tahun ini. DWP atau Djakarta Warehouse Project adalah merupakan festival musik elektronik tahunan terbesar di Indonesia, yang tahun ini memasuki tahun ke-10. DWP China ini akan menjadi festival pertama dari rangkaian acara DWP yang diselenggarakan di luar Indonesia, yaitu DWP International.

Menurut saya sungguh sangat luar biasa langkah ekspansi internasional ini. Setelah cukup settled dan established di kampung halaman, saatnya ‘menjajah’ dan memperluas pasar ke luar. Oya, mengutip dari Wartakota, bahwa dari kegiatan DWP 2017 lalu, pihak promotor mematok angka Rp 350 miliar untuk pemasukan ke DKI Jakarta dari gelaran acara tersebut. Dengan perhitungan optimis, dari 100 ribu pengunjung, 35 persen atau 35 ribu di antaranya adalah orang asing. Sementara pada gelaran DWP 2016, menurut pihak penyelenggara acara dari event tersebut mampu mendulang devisa wisatawan asing sebesar Rp 200 miliar lewat paket kunjungan mereka ke Jakarta.

Pariwisata Musik

Pariwisata Musik

Nah, kembali lagi berbicara soal konsep “pariwisata musik” tadi, bahwa sesungguhnya kita memiliki potensi dan peluang sangat besar dari berbagai kegiatan ini. Bahkan kini pihak BUMN juga mulai ‘melirik’ menggarap event konser, seperti yang diselenggarakan di De Tjolomadoe, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah pada 24 Maret 2018 lalu. Lokasi bekas pabrik gula yang direvitalisasi oleh Enam Grup BUMN: PT PP (Persero), PT PP Properti, PT Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur, dan Ratu Boko (Persero), dan PT Jasa Marga Properti, disulap menjadi venue yang memiliki nilai komersil, concert hall. Konser perdana di tempat tersebut menghadirkan artis internasional dan nasional: David Foster, Brian McKnight, Anggun, Dira Sugandi, Sandy Sandhoro dan Yura Yunita, dihadiri ribuan orang. Oya berbicara sosok David Foster (sebelum jadi mainstream di Indonesia 😍), kami pernah berjumpa, ngobrol dan makan malam bersama di Jakarta pada 26 Oktober 2010 lalu, fotonya ada disini.

Menengok gelaran artis internasional lainnya, dalam rangkaian tour dunia yang akan datang juga akan hadir sosok diva internasional Mariah Carey yang akan menggelar konser di Taman Lumbini, Candi Borobudur, pada tanggal 6 November 2018. Konser yang dipromotori oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) ini menjual tiket mulai dari harga 1 juta, 2 juta, 3,5 juta, 7 juta, hingga harga khusus kelas Super VVIP. Konsep yang cukup simple: musik dan tempat wisata!

Masih kaitannya dengan “pariwisata musik”, jangan lupa bahkan pemerintah Kabupaten Boyolali juga akan menghadirkan band rock legendaris dunia “Europe” untuk konser pada tanggal 12 Mei 2018 mendatang di Stadion Pandan Arang Sonolayu, Boyolali. Dengan menjual tiket Festival A seharga Rp100.000 dan kelas Festival B seharga Rp75.000. Tiket mulai dijual perdana di Pendapa Alit Rumah Dinas Bupati Boyolali, pada hari Minggu 4 Maret 2018 lalu. Melalui pertunjukan konser band “Europe”, warga Boyolali ingin menunjukkan bahwa Kota Susu ini juga layak dikunjungi sebagai destinasi wisata.

Masa lalu saya yang lebih dari 20 tahun banyak berurusan dengan musik, mulai dari merintis bekerja sebagai freelancer di event panggung musik kecil, kemudian urusan band-management, hingga bisa duduk jadi manajer eksekutif di salah satu perusahan rekaman internasional; membuat saya terus ingin belajar dan berkembang mengikuti kemajuan musik/industri, khususnya memperdalam mengenai konsep “pariwisata musik” ini. Saya berniat belajar kepada seorang kawan lama yang kini bermukim di Amerika Serikat, Robin Malau (veteran musik rock, pengamat teknologi terkini, dosen pengajar, pembicara musik internasional), yang telah banyak melanglang ke luar negeri dan banyak berkutat mengenai “Kota Musik”.

Menurutnya definisi “Kota Musik” yang paling mendasar adalah “tempat di mana ekonomi musik dapat hidup dan berkembang“. Semakin banyak pemerintah dan pemangku kepentingan dari seluruh penjuru dunia yang melihat strategi membuat kota yang ramah musik dapat memberikan keuntungan yang signifikan. Apakah kota Anda ingin dikunjungi turis? Menjadi tempat tinggal anak muda berbakat? Membangun merk kota? Coba gunakan musik.

Strategi apa yang bisa diterapkan kota-kota Indonesia untuk menerapkan strategi “Kota Musik”? Menurut Robin Malau, yang kini menjabat sebagai Asia-Pacific Business Development Consultant – Sound Diplomacy, beberapa strategi mendasar yang bisa diadopsi dan diterapkan di Indonesia, salah satunya adalah “pariwisata musik”.

Di tahun 2015, sektor live musik di kota Bristol-Inggris memberikan kontribusi £123 juta atau hampir 2,5 trilyun rupiah pada ekonomi lokal. Ini sama nilainya dengan nilai industri Indonesia tahun 2013. Sementrara itu di tahun lalu, pariwisata musik menghasilkan £3,2 milyar atau sekitar 60 trilyun ke ekonomi di UK dan memberikan pekerjaan tetap pada setidaknya 50 ribu orang. Aset pariwisata musik kota tidak hanya lokasi live musik, tapi juga bisa termasuk gedung pusat musik, festival, tempat belanja merchandise, hingga lokasi-lokasi musik yang bersejarah.

Mari kita tengok highlight dari tulisan Shain Shapiro, PhD selaku Founder & CEO Sound Diplomacy / Co-Founder Music Cities Convention & Music Tourism Convention, dalam rangka 5 tahun keberadaan Sound Diplomacy, di platform Medium pada 3 April 2018 lalu:

Remember, Music Tourism is a Thing: We created a conference to explore music and tourism last year, we’ve since held 2 editions and had over 300 businesses, cities and tour operators attend. Many cities rely on music heritage to entice tourists, but music heritage is everywhere. You don’t need to be Nashville, Vienna or New Orleans to capitalise on music tourists. There’s a Depeche Mode bar in Tallinn that welcomes thousands of tourists a year. There’s a statue of Frank Zappa in Lithuania that is a tourist attraction. The corner of Winslow, Arizona drives the economy of the town, due to the Eagles. Music is everywhere, more places will begin to recognise their music.

Dan melalui tulisan di blog ini saya juga memiliki satu keinginan untuk menemukan dan melakukan pitching ke beberapa investor potensial yang memiliki ‘jiwa seni dan musikalitas’ terkait dengan konsep “pariwisata musik”. Sudah ada beberapa konsep “pariwisata musik” yang siap untuk diagendakan dan digelar usai Lebaran 2018 nanti hingga masuk menjelang masa kampanye Pilpres 2019. Dimulai dari Lampung dan sekitarnya, kemudian kota-kota lain di pulau Sumatera, dan bahkan berkeinginan untuk menggelar program “pariwisata musik” ini secara nasional.

Mari bersinergi secara positif untuk kemajuan musik Indonesia dan pariwisata Indonesia!

Foto: Hanny Naibaho, Ariel Santos

Layanan Distribusi Musik Digital Terkini: FreshTunes

FreshTunes, sebuah layanan distribusi musik digital terbaru, mulai diperkenalkan ke pasar umum pada minggu lalu dan diharapkan mampu mendobrak dari layanan sejenis yang sudah ada, khususnya diperuntukkan bagi musisi independen di seluruh dunia – sebuah layanan gratis untuk mendistribusikan lagu-lagu dan karya musik ke hampir semua platform musik streaming yang ada dan hampir ke semua toko digital, yang bisa diakses langsung di www.freshtunes.com.

Beberapa fitur unggulan dari tampilan FreshTunes yang terkesan simpel dan mudah dipergunakan ini adalah sebagai berikut:

  • Pendaftaran secara gratis dan dalam kurun waktu 24 jam lagu-lagu langsung ter upload ke seluruh layanan digital – melalui menu yang mudah diakses artis bisa mengatur dan menyusun lagu-lagu yang ada, artwork, menambahkan deskripsi lagu dan memonitor langsung penjualan serta data statistik.
  • Seluruh lagu akan didistribusikan ke seluruh platform musik yang ada saat ini seperti: Spotify, Apple Music, iTunes, Deezer, GoogleMusic, Amazon music, Shazam, YouTube, SAAVN, Guvera dll.
  • Pihak FreshTunes tidak akan mengambil prosentase atau bagian dari pendapatan yang diperoleh artis, 100% seluruhnya menjadi hak milik artis.
  • Layanan tambahan juga tersedia seperti produksi artwork, produksi video lirik, ringtone, layanan promosi dari video-video milik artis ke dalam channel YouTube FreshTunes, layanan mastering LANDR dan layanan MFiT yang tersedia untuk memenuhi kualitas standar iTunes.

Model bisnis yang ditawarkan FreshTunes adalah transparan, mudah dan unik – karena FreshTunes mengandalkan pendapatan dari layanan tambahan yang ditawarkan dan dari bunga sisa pendapatan yang diperoleh tiap akun, dimana pengguna/artis dapat mengambil revenue yang diperoleh dalam kelipatan £25. Dengan cara ini bisa dipahami bahwa layanan yang tersedia akan selalu gratis untuk selamanya dan bagi siapapun.

FreshTunes mulai masuk ke pasar tepatnya pada musim semi 2016, dan layanan ini langsung melesat melampaui target, dengan pengguna ada di 84 negara, termasuk di Inggris, Amerika Serikat, Rusia, India dan Brazil.

Dalam kurun waktu enam bulan, FreshTunes telah meraih dan mengumpulkan hampir 50.000 lagu. Termasuk membawa salah satu bintang independen hip hop Oxxxymiron menjadi album nomor 1 di tangga lagu Hip Hop versi iTunes Russia, dan juga mendistribusikan karya musik milik Jamala, pemenang Eurovision Song Contest 2016 asal Ukrainia.

FreshTunes didirikan salah satunya oleh Nikolay Okorokov, yang berpusat dan berkantor di Dubai dengan didukung operasional dan teknis yang berkantor di Moskow, sebuah kota yang menjadi penghubung global bagi kepentingan teknologi dan kreatifitas. Startup ini juga telah menyiapkan kantor di Brazil dan Inggris.

Nikolay Okorokov mengatakan “Aku percaya kami telah menciptakan sebuah model bisnis baru yang cukup adil dan memberikan nilai tambah terbaik yang sangat menguntungkan bagi para musisi independen. Ini merupakan satu hal yang kami percaya akan menciptakan satu bentuk baru bagi distribusi musik digital. Begitu banyak artis saat ini memilih untuk menjadi artis independen, bahkan setelah meraih sukses dan popularitas global. Ini merupakan sebuah tren yang tidak akan hilang begitu saja dan FreshTunes secara total memberdayakan dan mendukung komunitas musisi independen di seluruh dunia untuk menjalani karir mereka sesuai dengan yang mereka harapkan.”

Okorokov yang saat ini berusia 38 tahun, dimana telah berkarir hampir lebih dari 20 tahun, memiliki catatan yang sangat mengesankan dalam dunia konten musik digital, teknologi dan bisnis komunikasi melalui beberapa perusahaan beragam yang dimiliki seperti Iricom, Rightscom, Kedoo, Sparrow studio animasi 3D dan label NDA. Pola pendekatan bisnis dari Okorokov yang cukup visioner, jiwa kepemimpinan dan kepekaannya terhadap kemajuan dunia digital, telah membawanya menjadi sosok yang sangat handal di pasar konten digital Rusia.

Sebagai tambahan, menurut Okorokov: “Semuanya akan menjadi gratis, karena setiap layanan tersebut mampu menjangkau semua orang, termasuk berkaitan dengan musik. FreshTunes memiliki model ‘freemium’, sementara layanan distribusi musik digital yang ditawarkan adalah gratis, dan jika pengguna menginginkan satu layanan tambahan, cukup mengeluarkan sedikit biaya. Kami memercayai bahwa setiap orang berhak untuk membagi karya seni yang dimiliki, membangun komunitasnya dan menjangkau seluruh audiens global tanpa mengeluarkan biaya.”
Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi: Indy Vidyalankara, indy@indypendentpr.com, 07881 822571

*Setelah melalui beberapa pengalaman langsung, saya memberikan penilaian untuk tidak merekomendasikan layanan distribusi digital ini. (Anton, Nov. 2016)

Koperasi Digital Indonesia Mandiri

mastel-20160520

Koperasi Digital Indonesia Mandiri

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, MASTEL dan APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) hari ini (20/5) mengadakan Public Expose Koperasi Digital Indonesia Mandiri (Koperasi Digital) dengan tema “Membangun Ekonomi Digital Yang Mandiri dan Berdaulat Melalui Koperasi, di Auditorium lt.2 Gedung Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI (Kemenkop UKM). Disamping mendapat dukungan dari Kemenkop UKM, acara ini turut mendapat atensi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Acara diawali dengan introduction speech dari Hermawan Kartajaya yang merupakan co-founder Koperasi Digital dan sekaligus Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM RI, dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Umum MASTEL Kristiono. Pada sambutannya Kristiono menjelaskan latar belakang dibentuknya Koperasi Digital. Dimana berawal dari pembicaraan antara MASTEL dan APJII pada saat MASTEL roadshow ke berbagai asosiasi yang menjadi anggota MASTEL. Dalam roadshow tersebut, tercetuslah ajakan mengenai pembentukan koperasi digital dari APJII. Dengan semakin maraknya produk asing yang menguasai industri di Indonesia MASTEL dan APJII sepakat untuk mendorong hadirnya Koperasi Digital sebagai solusi untuk mencapai kebangkitan kedaulatan ekonomi digital Indonesia.

Kristiono menambahkan bahwa pembentukan koperasi ini tidak lepas dari tiga pilar yaitu pasar, talenta, dan entrepreneurship. Untuk pasar Indonesia memiliki potensi yang dapat dijadikan sebuah kekuatan. Sementara untuk talenta Indonesia masih memiliki kekurangan tenaga yang dapat membantu merealisasikannya. Entrepreneurship sendiri saat ini pertumbuhannya di Indonesia sedang berkembang dengan pesat.

Kepala Balitbang SDM Kemkominfo Basuki Yusuf Iskandar dalam sambutannya mewakili Menkominfo menjelaskan bahwa program satu juta domain dari Kemkominfo akan membantu para UKM mendapatkan lebih banyak peluang untuk usaha mereka. Program ini akan diluncurkan secara bersamaan dengan publikasi Koperasi Digital secara nasional pada tanggal 12 Juli 2016.

“Kenapa harus koperasi digital?” tegas Sekretaris Menteri Koperasi dan UKM Agus Muharam. “Karena saat ini Indonesia telah memasuki era informasi namun masih tertinggal. Untuk itu perlu diadakan revolusi mental koperasi, dimana koperasi harus didukung oleh teknologi digital”, lanjutnya. Ia menambahkan, “pengembangan koperasi menggunakan teknologi akan membuat proses kerjanya lebih efektif dan efisien”. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Menteri Koperasi dan UKM Agus Muharam pada sambutannya mewakili Menteri Koperasi dan UKM.

Sebagaimana diketahui, pengguna internet di Indonesia terus bertambah. Indonesia adalah merupakan pangsa pasar yang besar. Sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan oleh para pelaku usaha lokal. Banyak startup yang berhasil dalam mengembangkan dirinya, sehingga mampu memanfaatkan pengguna internet lokal. Namun, tidak banyak investor lokal yang mau mendukung para startup yang berhasil, sehingga para investor asing memanfaatkan kesempatan itu.

Sumber: MASTEL

Ben Sihombing: Set Me Free

Print

Ben Sihombing: Set Me Free

Sudah hampir sebulan lewat mendengarkan via Spotify Premium single baru dari pendatang baru di musik tanah air ini, Ben Sihombing, dengan single perdananya “Set Me Free”.  Saya menyempatkan untuk sedikit menuliskannya di blog ini.

Tidak banyak komentar yang akan saya berikan, tapi gaya pop ballad minimalis ini sedikit ‘menggugah’ hati saya. Ditambah dengan karakter vokal Ben Sihombing yang memang agak ‘unik’ dan memiliki daya tarik, menurut saya.

Lagu “Set Me Free” meski berbahasa asing, cukup hanya diperdengarkan 2-3 kali langsung bisa nyantol di kepala. Materi yang cukup simpel tapi berbobot. Kalau pihak label rekamannya jeli dan jitu, materi ‘kuat’ ini bisa memiliki peluang untuk diekspansi dan dieskpor ke negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand bahkan Filipina. Ohhh, kenapa tiba-tiba saya langsung teringat dengan lagu yang lumayan populer 20 tahun lalu ini ya: Nice Stupid Playground – Bedroom Window, hi… hi… hi…

Saya berharap nantinya ada (banyak) lagu Ben Sihombing yang berlirik bahasa (Indonesia). Supaya karakter, positioning dan brand-nya bisa lebih terbangun. Selamat datang Ben Sihombing di musik tanah air, Sabang sampai Merauke siap menyambutmu…

 

Ben Sihombing: Set Me Free (Media Release)

Indonesia kini memiliki penyanyi solo pendatang baru bertalenta tinggi bernama Ben Sihombing. Pemilik nama lengkap Christopher Ben Joshua Sihombing merilis single perdana bertajuk ‘Set Me Free’ yang menceritakan tentang arti sebuah ikatan yang di interpretasikan sebagai pernyataan atas sebuah hubungan kuat di dalam kehidupan manusia yang hanya relatif singkat.

Di single ini Ben menyajikan suatu warna pop folk ballad yang tidak banyak menggunakan instrumen. Hanya gitar yang ia mainkan yang mengiringi suara emas Ben dalam lagu yang bernuansa sendu ini. Single ini nantinya yang akan merepresentasikan bagaimana Ben akan mengambil jalur musik yang akan dimainkan dan ditawarkan kepada pencinta musik Tanah Air.

Dalam single tersebut, Ben yang juga adik kandung dari musisi Petra Sihombing tersebut ingin menciptakan kesan easy on ears dan lights, serta direct statement yang menjadi tujuan dari lagu ini dijadikan single perdana dari Ben Sihombing yang dipersembahkan kepada seluruh pencinta musik tanah air Indonesia demi terciptanya apresiasi personality terhadap musik Indonesia yang lebih signifikan di masa yang akan datang.

Ben, yang juga kerap terlibat dalam pembuatan lagu-lagu sang kakak Petra Sihombing, mengatakan bahwa tema simplicity ia bawa dalam menciptakan lagu-lagu dengan memberikan sentuhan yang bersifat hidup dan natural pada setiap bagian lagu yang dianggap inti dari suasana lagu.

“Gue ingin orang enggak hanya mendengarkan lagunya doang tapi juga ingin mereka merasakan perasaan gue saat itu yang coba disampaikan lewat lagu,” ujar Ben tentang single-nya tersebut.

Info: E-Motion Entertainment

Senyawa: Dari Yogyakarta Menuju Amerika

Screen Shot 2016-01-30 at 4.38.39 pm

Senyawa, Cafe Oto, London – England

Akhirnya setelah melalui beberapa waktu, pada minggu ini saya berkesempatan untuk melakukan wawancara jarak jauh dengan Senyawa, duo eksperimentalis yang berasal dari Yogyakarta. Wawancara ini untuk menindaklanjuti pemberitaan dari situs billboard.com pada Februari 2016 lalu, bahwa Senyawa akan tampil di Eaux Claires Festival yang diselenggarakan di 443 Crescent Avenue, Eau Claire, Wisconsin, 12-13 Agustus 2016 nanti.

Eaux Claires Festival adalah festival musik yang dikurasi oleh Justin Vernon (Bon Iver) dan Aaron Dessner (The National). Dalam event ini akan tampil pula Bon Iver, James Blake, Jenny Lewis, Erykah Badu, dll. Berikut beberapa tanya jawab saya secara ringan dengan Senyawa (Rully Shabara dan Wukir Suryadi), beserta manajernya Kristi Maya Dewi Monfries. Simak pula berita terkini: ‘penolakan’ Senyawa atas tawaran kontrak dari label rekaman Sub Pop (label Nirvana, Soundgarden, dll.)!!

Saya mendengar kabar dari salah satu artikel di Billboard pada Februari 2016 lalu, bahwa Senyawa diundang oleh Justin Vernon (Bon Iver) untuk tampil di festival musik yang dikurasi olehnya. Bisa diceritakan secara rinci bagaimana awal mulanya dan sepertinya undangan ini sangat personal?

Kristi Monfries: Awalnya dimulai saat Justin Vernon (Bon Iver) sedang berada di kota Paris dalam rangkaian tour Bon Iver. Pada satu malam saat Justin Vernon menyaksikan acara di satu televisi yang menayangkan film dokumenter pendek Senyawa, Calling the New Gods, yang disutradarai oleh Vincent Moon, dari situ Justin Vernon langsung jatuh hati dengan musik Senyawa. Dari satu moment yang serba kebetulan ini, Justin langsung memutuskan untuk mengundang Senyawa tampil di festival musik yang dikurasinya, Eaux Claires Festival, dan dalam beberapa bulan terakhir antara Justin Vernon dan Senyawa telah melakukan pembicaraan dan menyelesaikan beberapa hal. Dengan sepenuh hati Justin Vernon juga memberikan dukungan kepada Senyawa, mulai dari bantuan untuk mengurus pengajuan visa di kedutaan Amerika Serikat.

Ada kabar juga selain tampil di Eaux Claires Festival ini, Senyawa juga bakal menggelar tour di beberapa kota di Amerika Serikat? Rencana tampil di kota mana saja?

Kristi Monfries: Eaux Claires Festival akan menjadi agenda penting dalam rangkaian tour Amerika Serikat nantinya. Saat ini beberapa jadwal yang telah memberikan konfirmasi untuk penampilan Senyawa adalah di kota-kota berikut: Olympia, Seattle, San Francisco dan New York.

Bisa dikisahkan mengapa sampai ada ‘immigration lawyer’ yang didatangkan secara khusus untuk mengurus keberangkatan kalian ke Eaux Claires Festival nanti?

Kristi Monfries: Sehubungan dengan proses pengajuan visa di kedutaan Amerika, tentunya bukan hal yang mudah untuk mengikuti semua alur prosesnya, apalagi ini juga berkaitan dengan instrumen-instrumen musik yang akan kami bawa, yang nampak terlihat berbeda dengan instrumen biasanya. Dari pihak Senyawa & management sendiri mencoba mengantisipasi dan tidak mau mengambil resiko, misalnya ketika sudah tiba di Amerika Serikat harus ribet dan repot berurusan dengan bea cukai serta imigrasi disana. Justin Vernon sebagai salah satu kurator Eaux Claires Festival sangat memahami hal ini, dan bahkan dia membantu mendatangkan ‘immigration lawyer’ untuk membantu menyelesaikan semua proses dokumen di kedutaan. Semuanya bisa dibereskan.

Bagaimana kabar Rully Shabara dan Wukir Suryadi akhir-akhir ini? Ada project apa mereka saat ini?

Rully Shabara: Selain sibuk dengan Senyawa, saya juga menjalankan kelas workshop paduan suara eksperimental “Raung Jagat”, yang hingga kini sudah mencapai 7 kelas di Indonesia dan beberapa negara lain. Saya juga masih terus menjalankan Zoo (band), meskipun fokusnya kini hanya lebih ke penggarapan album.

Wukir Suryadi: Disela-sela dengan Senyawa, saya sedang berusaha merealisasikan gagasan membuat instalasi hidup. Instalasi yang fungsional, secara fungsi juga sekaligus sebagai statement menyikapi perkembangan kota Yogyakarta pada khususnya. Sudah berjalan setahun dan karya tersebut masih berkisar 60 persen penggarapannya. Berkaitan dengan instrumen, sekarang sedang dalam pengerjaan arrow music instruments  yang sudah hampir 2 tahun ini berjalan. Juga saat ini sedang membentuk gagasan album “Terbang” yang secara instrumen musikalnya memanfaatkan terbang/rebana sebagai obyek eksplorasi. Dan juga sedang dalam proses merekonstruksi ulang karya instrumen Tenun, Sisir & Topi Toraja. Saat ini instrumen tersebut saya titipkan di Weltkulturen Museum, Frankfurt.

Kalian sudah berkeliling ke Asia, Australia, dan Eropa, dan bulan Agustus nanti kalian akan ‘menjajah’ Amerika. Bagaimana menurut kalian apresiasi antara pecinta musik di luar dan di dalam negeri?

Wukir Suryadi: Sejauh ini yang saya rasakan pada saat main di luar negeri, di manapun, mereka (audience) selalu berharap bahwa kami akan kembali bermain disana. Dan banyak sekali pendapat jujur dari mereka setelah menonton Senyawa live, mereka memberikan komentar: “ini konser yang memberikan energi dan wacana baru bagi kami”. Sementara disini, kami masih selalu mencoba mencari ruang-ruang untuk menyampaikan musik kami. Memang benar tidak ada promotor musik yang berani gambling mensosialisasikan musik-musik seperti Senyawa, pun diluar itu. Mungkin juga karena mindset para promotor musik tersebut. Mengenai musik Senyawa yang mungkin sedikit berbeda dibandingkan jenis musik lainnya.

Rully Shabara: Sejauh ini memang apresiasi penonton di luar lebih besar, baik minat maupun pemahaman mereka. Tapi penonton di Indonesia juga semakin menunjukkan ketertarikan dan apresiasi yang jauh lebih besar belakangan ini. Jujur, memang musik Senyawa tidak ditargetkan untuk mudah diterima siapa saja. Dan menurut saya, sekarang masyarakat Indonesia sebenarnya sudah siap dengan jenis musik apa pun. Tinggal media dan promotor lokal saja yang perlu lebih membantu mereka untuk mengakses dan menemukan berbagai musik yang tersedia.

Saya mendapat kabar santer seputar ‘penolakan’ dari Senyawa atas tawaran kontrak dari label rekaman Sub Pop (label Nirvana, Soundgarden, Mudhoney, The Postal Service, dll)? Bisa diberikan klarifikasinya?

Kristi Monfries: Ya sebenarnya kami sungguh merasa sangat terhormat ketika “diminta” oleh pihak Sub Pop, perusahaan rekaman yang cukup ternama, tapi nampaknya saat itu (dan sekarang) bukan waktu yang tepat bagi Senyawa untuk memulainya. Kondisi Senyawa saat sekarang adalah merupakan kondisi yang paling prima. Jadi biarkan kami berjalan seperti ini. Mungkin saja di saat yang akan datang ada kesempatan untuk bekerjasama…

Bagaimana menurut kalian ekosistem musik di Indonesia di era kemajuan teknologi dan digital seperti saat ini?

Rully Shabara: Bergerak ke arah yang lebih baik, bagi musisi maupun penikmat. Sekarang dengan internet, siapa pun bisa menyebarkan karya atau mendengarkan karya tanpa batas. Strategi pemasaran juga semakin canggih karena memiliki banyak opsi juga murah, tak melulu harus mengandalkan toko musik atau video klip. Ini juga ‘mematikan’ istilah underground karena tak ada lagi yang di bawah tanah, semuanya muncul ke permukaan, kecuali scene yang memang memilih untuk tetap mengakar pada tradisinya, seperti punk, hardcore, hiphop, atau sebagian scene metal. Sisanya, semuanya langsung bisa diakses publik. Yang merasa mampu akan berjuang sendiri dan jika bagus pasti akan bertahan serta menemukan atau membentuk pasarnya sendiri, dan jika kurang mampu pasti akan mengeluh soal pembajakan dan tetap berjuang dengan cara konvensional seperti beriklan di TV untuk gencar menyuap audience yang pasif.

Mungkin saja saat Senyawa berkeliling Amerika nanti akan mendapatkan tawaran kontrak rekaman, mungkin oleh label lain dengan penawaran yang lebih bagus. Bagaimana reaksi kalian?

Kristi Monfries: Kami tidak mau berandai-andai akan kontrak rekaman tersebut. Pastinya semua tergantung dari keadaan dan kondisinya. Dan pastinya, pihak yang akan bekerjasama dengan Senyawa adalah pihak yang tepat. Pihak yang bisa memahami dan mendukung sepenuhnya keberadaan Senyawa dengan lintasan musiknya.

Hingga saat ini kalian masih banyak menghabiskan waktu dan berinteraksi di Yogyakarta, kan? Bagaimana menurut kalian komunitas musik di Yogyakarta yang ada sekarang dibandingkan beberapa tahun lalu?

Rully Shabara: Menurut saya, Yogyakarta sangat baik bagi scene musik karena setiap komunitas begitu mudah terhubung satu sama lain. Sejak dulu sih… Asyiknya, di Yogyakarta acara musik semakin ramai, segala jenis pula. Bukan cuma konser, tapi juga aspek lain seperti acara diskusi, workshop, festival, dan macam-macam. Semuanya pun punya massa masing-masing dan terus bertambah. Energinya semakin baik.

Last, ada rencana project ataupun merilis materi baru hingga akhir tahun 2016 ini?

Rully Shabara: Tahun ini Senyawa mencoba merambah wilayah baru yang lebih luas, yakni teater. Kami tahun ini terlibat dalam tiga proyek teater. Di Yogyakarta, Australia, dan Jepang. Akan ada juga setidaknya dua album yang kemungkinan dirilis tahun ini, materinya sudah direkam dari tahun lalu, dengan dua label yang berbeda. (*)

Kredit Foto: Senyawa

Bisnis Penerbit Musik

Refe_56a4d763571cd_HX6YSHGXRB

Music + Publishing

Sudah ada rencana beberapa waktu lalu untuk menulis soal music publishing alias penerbit musik. Hingga akhirnya pada tanggal 15 Maret kemarin membaca tautan artikel dari PR Newswire dan majalah Forbes yang memberitakan Michael Jackson (almarhum) melalui The Estate of Michael Jackson (The Estate) dan Sony Corporation telah bersepakat untuk menjual separuh (50%) hak kepemilikan Michael Jackson di Sony/ATV Music Publishing untuk diberikan secara penuh kepada Sony Corporation. Perjanjian ini senilai 750 juta dollar Amerika yang pastinya akan diterima oleh ahli waris Michael Jackson. Berapa rupiahkah nilai tersebut? Mungkin sekitar 9.825.000.000.000 rupiah atau pastinya bisa dihitung disini.

Saya pernah membaca kisah awal mengenai Michael Jackson yang pada waktu itu mulai naik daun ‘booming’ saat album Thriller mulai menghangat, belum paham mengenai apapun soal konsep music publishing, hingga akhirnya Michael bertemu Paul McCartney pada tahun 1982 di London saat keduanya melakukan rekaman untuk duet lagu Say, Say, Say. Paul menunjukkan kepada Michael satu buku yang berisi catatan mengenai hak/kuasa atas lagu-lagu yang dia beli dalam dekade sebelumnya, dan dia juga menunjukkan serta meyakinkan Michael hasil perolehan royaltinya hanya dalam kurun waktu setahun mampu meraup hampir 40 juta dollar (saat itu).

Begitu Paul selesai berbicara menjelaskan mengenai music publishing ini, Michael pun memandang ke arah Paul dan mengungkapkan: “Some day I’m gonna own your songs”. Paul pun tertawa dan berkomentar: “Great, good joke!”. Dan bagaimana juga kisah Michael Jackson yang mampu mengakuisisi ATV, memiliki hak penuh atas katalog lagu-lagu The Beatles dan kemudian akhirnya berkongsi dengan Sony membentuk Sony/ATV? Laporan lengkapnya ditulis oleh situs Celebrity Net Worth.

Oya, berkisah soal Sony/ATV yang memiliki kontrol atas lagu-lagu terbaik yang pernah ditulis, seperti: “New York, New York”, “Hallelujah”, “All You Need Is Love”, “You’ve Got a Friend”, “Moon River”, “Jailhouse Rock”, “The Mission Impossible Theme”, “Ain’t No Mountain High Enough”, “Over the Rainbow”, “Stand By Me”, “I Heard It Through The Grapevine” dan “Singin’ in the Rain.”

Sebagai tambahan, Sony/ATV juga mewakili kuasa hak cipta atas artis-artis legendaris  seperti: The Beatles, Leonard Cohen, Bob Dylan, Marvin Gaye, Michael Jackson, Carole King, Kraftwerk, Joni Mitchell, Willie Nelson, Roy Orbison, Queen, The Rolling Stones, Richie Sambora, Sting, The Supremes, Wyclef Jean, Hank Williams dan Stevie Wonder. Termasuk mereka juga yang sering merajai tangga lagu dunia, penulis lagu dan produser: Akon, Avicii, Calvin Harris, Jessie J, Alicia Keys, Lady Gaga, P!nk, RedOne, Shakira, Ed Sheeran, Sam Smith, Stargate, Taylor Swift, Kanye West dan Pharrell Williams.

Di tulisan ini saya tidak akan menjelaskan detail mengenai apakah itu sebenarnya penerbit musik atau publisher. Bagaimana juga soal perjalanan ataupun kisah sepak terjang para penerbit musik di Indonesia dari dulu hingga sekarang, dan mulai kapan istilah music publishing ini dikenal di Indonesia? Silahkan cari sendiri via Google atau Bing.

Bisnis yang masih ‘awam’ ini, bahkan bagi kalangan dan pelaku musik-nya sendiri, merupakan bisnis yang sangat menjanjikan dan investasi besar/jangka panjang (IMHO). Mungkin ke depan saya juga ada niatan untuk membangun satu bentuk usaha music publishing ini. Dengan gaya serta konsep yang lebih simpel dan sistem administrasi yang transparan, untuk menjembatani para pencipta lagu dan mereka yang memiliki keterlibatan langsung dengan bidang usaha ini.

Keinginan dan cita-citanya sih ingin mengumpulkan semua katalog dari berbagai artis ataupun musisi independen (pop, rock, metal, dangdut, keroncong, lagu daerah, dll.) mulai dari era tahun 1990’an sampai dengan era saat ini. Tidak muluk-muluk untuk membangun dan berkeinginan untuk menjadi besar. Namun dengan rencana konsep small business ini mudah-mudahan mampu memberikan solusi, alternatif pilihan dan bisa menyesuaikan dengan era kemajuan teknologi sekarang. Namun masih banyak hal yang masih harus saya pelajari dan persiapkan. Dan hal ini pastinya banyak berkaitan dengan aspek legal/hukum. Apakah ada entertainment lawyer maupun advokat/konsultan HKI yang mau berpartner dengan saya? 😉

Kredit Foto: Refe

Referensi: PR Newswire, Forbes

Teknologi Blockchain untuk Industri Musik

10211902263_495d100503_b

Dalam satu artikel di situs WEF (World Economic Forum) pada 23 Februari 2016 lalu, ada ulasan menarik mengenai teknologi blockchain yang bakal dianggap mampu merevolusi industri musik. Blockchain ataupun bitcoin semuanya adalah hal yang saling berkaitan.

Mengutip penjelasan dari blog Bitcoin Indonesia: “Bitcoin telah melahirkan sebuah metode unik untuk mencatat semua transaksi keuangan yang terjadi tanpa perlu mengandalkan sistem perbankan yang ada. Teknologi tersebut dikenal dengan nama ‘Blockchain’. Tidak peduli seberapa berhasilnya mata uang digital ini, teknologi yang menggerakkannya itulah yang sangat penting. Salah satu menteri di dunia bahkan menyatakan bahwa Blockchain dapat membuat bank sentral dianggap sebagai sesuatu yang kuno atau tidak dibutuhkan lagi.”

Apakah blockchain itu? Berikut penjelasannya… Bank mencatat semua transaksi finansial yang mereka lakukan di dalam sebuah ‘buku besar’ (atau ‘ledger’). Berpuluh-puluh tahun yang lalu, buku besar ini mungkin berbentuk ratusan buku tua yang sudah berdebu. Setiap kalimat baru yang muncul di dalam buku besar merupakan catatan transaksi yang baru terjadi. Catatan-catatan ini sekarang sudah didigitalkan, namun buku besar tersebut masih dimiliki dan dikontrol oleh suatu bank.

Blockchain itu unik karena buku besar yang ini tidak dikelola oleh satu organisasi atau pihak tertentu. Sebaliknya, catatan buku besar ini disebarluaskan secara publik dan dikelola oleh ribuan komputer di dunia dalam waktu yang bersamaan. Anda dapat melihat seluruh catatan transaksinya disini — coba cek, isinya sangat menakjubkan.

Buku besar yang dapat diakses dan dikelola oleh publik ini adalah kekuatan utama Blockchain. Setiap komputer yang terdapat di dalam jaringan dapat membuat catatan baru tentang transaksi yang baru terjadi, jelas Oscar Darmawan, Direktur Utama dari Bitcoin Indonesia. Ketika transaksi sudah dicatat di dalam buku besar global ini, sangat mustahil bagi siapapun untuk menghapus catatan transaksi tersebut.

Dan mengapa blockchain itu dianggap hal penting? Berikut rinciannya… Blockchain membuat transaksi pembayaran dapat terjadi dan tercatat tanpa menggunakan buku besar yang dikelola oleh sebuah bank. Awalnya, hal ini memang penting bagi Bitcoin (mata uang pertama yang beredar menggunakan teknologi tersebut) saja, namun kini teknologi buku besar tersebut mulai dapat digunakan dan diaplikasikan untuk apapun.

Seperti yang ditulis oleh seorang venture capitalist terkenal yang bernama Marc Andreessen: “Untuk pertama kalinya, Blockchain memberikan kesempatan kepada seorang pengguna Internet untuk mengirimkan sebuah properti digital yang unik ke pengguna internet yang lain. Transaksi yang terjadi dapat dijamin aman, dan semua orang dapat mengetahui bahwa suatu transaksi telah terjadi dan tidak ada seorangpun yang dapat melawan fakta tersebut.”

Kembali merujuk pada artikel di situs World Economic Forum tadi, penyanyi pop dan penulis lagu asal Inggris Imogen Heap sedang merintis konsep “fair trade” yang ditujukan bagi industri musik yang bertujuan untuk ‘menyingkirkan’ media perantara semacam iTunes dan Spotify, dengan memberikan hak kepemilikan yang lebih bagi musisi terkait dengan uang dan data yang tercipta dari hasil karya.

Single terkini Imogen Heap berjudul “Tiny Human”, yang dirilis tahun lalu melalui situs Ujo Music, dimana konsumen dapat membeli lagu tersebut, berikut data lagu secara lengkap, menggunakan cryptocurrency yang dinamakan Ether. Hasil penjualan lagu langsung didistribusikan kepada produser, pencipta lagu dan engineer yang terlibat di dalam produksi lagu tersebut.

Melalui single “Tiny Human” adalah merupakan awal mula bagi Imogen Heap yang sebenarnya sedang melakukan eksperimen, yaitu dengan membangun sebuah ekosistem musik secara menyeluruh yang disebut “Mycelia”. Heap ingin menciptakan satu platform gratis dimana musisi mampu melakukan kontrol terhadap data dari lagu-lagu mereka, dimana lagu tersebut beredar diantara penggemar dan musisi lain, termasuk berkaitan dengan kredit lagu, kapan dan dimana lagu itu diputar, dan transaksi apapun yang berkaitan dengan lagu tersebut. Semua informasi ini terlacak dengan menggunakan teknologi blockchain.

blockchain

Infografis yang menjelaskan cara kerja Blockchain

Bagi saya pribadi yang bukan merupakan ahli ekonomi dan keuangan serta bukan pengamat teknologi terkini, kesimpulan sederhana dari semua bahasan ini adalah bahwa satu kemajuan teknologi ala blockchain pada dasarnya adalah bertujuan untuk mengurangi atau menghapus keterlibatan pihak ketiga, keempat dst. Musisi atau pencipta lagu akan lebih diuntungkan serta memiliki lebih banyak kontrol, dan konsumen akan secara lebih mudah mengakses dan mendapatkan musik yang diinginkan. Mungkinkah model bisnis ini bisa diterapkan disini? Dan mampukah industri musik kita untuk mengadopsi? 💤💤💤

Oiya, saya juga baru tahu kalau saat ini nilai 1 BTC adalah sama dengan Rp 5.797.700,- (per 29 Februari 2016). Sewaktu awal-awal dulu baca artikel seputar Bitcoin sepertinya masih senilai sekian ratus/ribu rupiah saja… mungkin saya agak terlambat untuk mengenal dan memahami Bitcoin 🤑.

Dan masih panjang perjalanan dan kisah untuk Bitcoin… di Indonesia.

 

Kredit Foto: Photopin

Referensi: Bitcoin Indonesia, World Economic Forum, Financial Times