Strategi Digital yang Efektif Bagi Musisi Pendatang Baru Bersama Spotify

Strategi Digital yang Efektif Bagi Musisi Pendatang Baru Bersama Spotify

Strategi Digital yang Efektif Bagi Musisi Pendatang Baru Bersama Spotify

Strategi digital? Ya sebenarnya ini bukan suatu strategi, karena kalau judulnya membawa embel-embel “strategi…” seolah-olah saya merupakan orang yang ahli alias pakar yang memahami segala situasi. Karena saya hanya ingin sedikit beropini melalui blog ini, mungkin lebih tepat yang bisa dibaca dari judul diatas adalah “langkah-langkah…”

Bagaimana dan dimana harus memulainya?

Sedikit berkisah pada bulan Mei 2018 lalu Warner Music Group secara diam-diam juga bertindak sebagai digital distribution service, bersaing dengan layanan yang sama (distribusi digital) seperti: Tunecore, Distrokid, CD Baby, Ditto, dll. Melalui brand Level Music, Warner Music Group membuka pintu lebar-lebar bagi musisi independen (unsigned artists) dari belahan dunia manapun untuk bergabung dalam jalur distribusi digital mereka. Saat ini Level Music dalam versi beta masih gratis dan tanpa dikenakan biaya apapun. Sementara, hal yang sama juga telah dilakukan duluan oleh raksasa label Universal Music, dengan membuka jalur distribusi digital melalui Spinnup pada November 2016 lalu, dengan konsep berbayar.

Peran aggregator (Level Music & Spinnup) yang dimiliki oleh para ‘raksasa’ label ini, kalau saya melihatnya juga sebagai fungsional A&R (Artist & Repertoire) yang saat ini mungkin dianggap sudah kurang berperan. Sejak maraknya konsep musik digital dan berubahnya pola-pola di industri, kini musisi tidak perlu repot-repot datang ke perusahaan rekaman dengan membawa materi proposal dan menawarkan demo berupa kaset atau CD misalnya.

Kembali ke topik utama di atas, langkah efektif apa saja yang harus dilakukan bagi musisi pendatang baru supaya bisa lebih dikenal di era maraknya pengaliran musik (music streaming) saat ini? Cukup menggunakan Spotify! Spotify adalah layanan pengaliran musik (music streaming) yang berasal dari Swedia, dan pada bulan Oktober 2018 ini tepat menginjak berumur 10 tahun. Oya, tips ini bisa saja tidak hanya terkait dengan pendatang baru, mungkin saja ada solois atau band (superstar, established) yang mandiri dan terus ingin melakukan kegiatan pemasaran bisa memaksimalkan Spotify.

Mengapa harus Spotify?

Spotify Q3 2018

Spotify Q3 2018

Beberapa alasan dan faktor yang jadi pertimbangan menurut pendapat saya, Spotify yang per data 30 September 2018 ini melaporkan:

  • memiliki 191 juta pengguna aktif
  • memiliki 87 juta pelanggan berbayar
  • terdapat lebih dari 40 juta lagu
  • tersedia lebih dari 3 milyar playlist
  • diakses di 65 negara

Spotify juga memiliki berbagai layanan dan dukungan yang sangat menarik dan selalu penuh inovasi bagi musisi. Mengutip dari blog resmi For the Record yang selalu update dengan cepat, sebagai berikut:

Layanan ini baru tersedia secara terbatas untuk musisi-musisi independen di Amerika Serikat. Jadi kita bisa langsung mengunggah konten lagu secara langsung ke Spotify tanpa harus melalui pihak ketiga. Jika kalian mewakili artis langsung atau sebagai manager artis, cukup dengan melakukan klaim profil website artis, akun Twitter, dan akun Instagram. Untuk mendapatkan undangan Spotify for Artists bisa daftar disini.

Untuk keperluan mengunggah konten ke Spotify, pastikan dan siapkan juga kriteria sebagai berikut:

  1. Fail lagu dalam format: WAV, WAVE, atau FLAC (16- atau 24-bit, sample rates 44.1kHz)
  2. Format WAV dan WAVE adalah PCM
  3. Album art: 1600 x 1600px format PNG atau format JPEG
  4. Nama-nama kolaborator: pencipta lagu, artis pendukung, produser, dll.
  5. Data ISRC (International Standard Recording Code)

Oya, nantinya layanan Spotify for Artists juga bakal terintegrasi dengan layanan DistroKid, merupakan layanan distribusi musik digital. Jadi ketika mengunggah langsung konten ke Spotify secara bersamaan bakal terhubung juga dengan platform musik lainnya: Apple Music, Deezer, Amazon Music, Pandora, dll. Semua ini bisa terjadi karena Spotify telah membeli saham ‘minoritas’ di DistroKid.

Co.Lab adalah semacam serial event yang difasilitasi dan didesain oleh Spotify, menghubungkan antara talenta/artis dengan berbagai pihak terkait seperti perwakilan perusahaan rekaman, promotor musik, konsultan kreatif, dll., dimana dalam setiap pertemuan yang diadakan membahas tema-tema yang terkait dengan bisnis musik terkini.

Masih dalam tahap versi beta, adalah layanan yang diperuntukkan bagi para publisher, untuk analisa secara global untuk lagu, album, hingga pencipta lagu, daftar putar (playlist), dll.

Daftar putar atau playlist yang dimiliki Spotify ini menurut saya adalah paling fenomenal. Begitu ‘menusuk hati’ menurut saya atau istilahnya gue banget… berbagai genre dalam berbagai suasana dan gaya, mulai dari sajian bangun tidur hingga menjelang beranjak ke peraduan (Mager Parah, Songs to Sing in the Shower, IndieNesia, Late Night Jazz, Generasi Galau, Deep Focus, Kopikustik, Confidence Boost, Relax & Unwind, Old School Metal, Indofolk, dll.).

Bagaimana cara mengajukan lagu atau album kita masuk ke dalam daftar putar Spotify dan bisa diterima tim editorial? Simak dua video berikut ini:

 

 

Dengan adanya berbagai macam pilihan media, saat ini untuk menarik ‘perhatian’ bisa dibilang cukup sulit. Yang perlu kita lakukan adalah konsisten dan fokus di ‘satu tempat’, melakukan promosi efektif, dan selanjutnya biarkan karya lagu yang “berbicara”…

Dan sayapun sangat berharap ada layanan musik nasional alias dalam negeri yang nantinya bisa tumbuh berkembang seperti Spotify. Mimpi dan harapan saya, suatu saat layanan LangitMusik – Telkomsel yang menjelang berumur 9 tahun bisa mengikuti jejak-jejak kreatif Spotify yang penuh dengan inovasi dan bisa lebih berkembang dengan cepat.

Setuju kan kalau kita mendukung sepenuhnya layanan musik lokal yang sepenuhnya memberikan support bagi musisi dalam negeri? Oya, mungkin saja tulisan saya selanjutnya di blog ini bakal terkait dengan LangitMusik.

Foto: SG Creative

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik (PDDP Musik) judul yang saya berikan dalam tulisan blog kali ini, setelah saya terinspirasi membaca satu artikel minggu lalu yang merilis berita kerjasama antara layanan pengaliran musik (music streaming) Spotify dengan Nielsen yang merupakan perusahaan riset global.

De.mo.gra.fi /démografi/ yang mengacu pada KBBI berarti: ilmu tentang susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk; ilmu yang memberikan uraian atau gambaran statistik mengenai suatu bangsa dilihat dari sudut sosial politik; ilmu kependudukan.

Informasi demografi dari penggemar musik ini mungkin kita belum melihatnya sebagai kesatuan “big data” yang sebenarnya merupakan ‘aset’ yang sangat berharga. Big data yang salah satunya bersumber dari konten media sosial, gambar digital dan video, pembelian dan transaksi daring, twit, telepon seluler, dll., semuanya bisa dimanfaatkan, diolah, disimpan serta bisa dianalisa dalam beragam bentuk format. Tentunya tidak hanya berkaitan dengan demografi.

Terkait dengan pengelolaan data fan atau penggemar ini, ternyata Metallica juga tidak mau ketinggalan untuk pemanfaatan-nya. Bekerjasama dengan Spotify, Metallica menggunakan data pengguna Spotify untuk menentukan ‘setlist’ lagu di tiap konsernya di masing-masing kota yang berbeda. Dengan membaca dan mengolah data ini sebelum mereka tampil di London, Paris, ataupun Swedia misalnya, pihak Metallica jadi lebih memahami lagu apa yang sering diputar dan paling diminati di tiap kota. Realisasinya adalah terdapat perbedaan ‘setlist’ lagu-lagu Metallica saat konser di tiga kota tersebut.

Jika kita melihat playlist Spotify “Top Tracks of 2017 Indonesia”, dari urutan 50 lagu tersebut terdapat: Payung Teduh – Akad, Armada – Asal Kau Bahagia, Rizky Febian – Cukup Tau, Payung Teduh – Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan, dan Jaz – Kasmaran. Saya tidak mengetahui apakah dari daftar artis-artis ‘top’ tersebut pihak label rekamannya, manajemen artis, atau si artisnya sendiri, sudah memanfaatkan data digital yang berhubungan dengan penggemar? Misal melihat pertimbangan dari sisi demografi si-user: faktor usia, lokasi, pendidikan, dll., yang kesemuanya bisa menjadi tolak ukur untuk melihat potensi daya beli atau besarnya pasar dari para penggemar musik tersebut.

Menurut data dari pihak Spotify Asia tahun 2017 lalu, orang Indonesia mendengarkan musik setidaknya tiga jam dalam sehari dan termasuk yang gemar membuat daftar putar (playlist). Dan terdapat tiga momen utama yang jadi puncak bagi banyak orang mengakses layanan pemutar musik daring, yaitu:

  • saat pagi hari ketika berada di jalan
  • setelah makan siang
  • di atas jam 9 malam saat hendak beristirahat di rumah

Dalam era kemajuan teknologi informasi saat ini, dengan modal data digital tersebut, selain urusan manajemen artis/label rekaman yang dituntut untuk lebih kreatif, menurut saya hal ini juga bisa menjadikan peluang bagi tumbuhnya “boutique agency”, semacam agensi kreatif atau konsultan skala kecil yang akan membantu musisi-musisi yang sudah mapan ataupun pendatang baru untuk menyasar penggemar (segmentasi – IMHO) agar lebih fokus dan untuk memberikan service ataupun content yang lebih pas bagi para penggemar. Hal yang juga penting adalah bagaimana dengan data yang diolah tadi si musisi beserta manajemen-nya tadi bisa menarik calon sponsor ataupun investor. Intinya musisi perlu terus berinovasi dan berkreasi dengan memanfaatkan data digital.

Dari semua hal ini, kesimpulan yang mau saya sampaikan adalah: memanfaatkan dan mengolah data untuk terus “jualan”. Saya bukanlah orang yang merupakan ahli strategi pemasaran ataupun pandai untuk ‘berjualan’, tapi saya mau terus belajar terkait pengelolaan big data ini.

Ayo kita kelola secara baik data yang ‘bertebaran’ ini…

 

Foto: William Krause