Strategi Digital yang Efektif Bagi Musisi Pendatang Baru Bersama Spotify

Strategi Digital yang Efektif Bagi Musisi Pendatang Baru Bersama Spotify

Strategi Digital yang Efektif Bagi Musisi Pendatang Baru Bersama Spotify

Strategi digital? Ya sebenarnya ini bukan suatu strategi, karena kalau judulnya membawa embel-embel “strategi…” seolah-olah saya merupakan orang yang ahli alias pakar yang memahami segala situasi. Karena saya hanya ingin sedikit beropini melalui blog ini, mungkin lebih tepat yang bisa dibaca dari judul diatas adalah “langkah-langkah…”

Bagaimana dan dimana harus memulainya?

Sedikit berkisah pada bulan Mei 2018 lalu Warner Music Group secara diam-diam juga bertindak sebagai digital distribution service, bersaing dengan layanan yang sama (distribusi digital) seperti: Tunecore, Distrokid, CD Baby, Ditto, dll. Melalui brand Level Music, Warner Music Group membuka pintu lebar-lebar bagi musisi independen (unsigned artists) dari belahan dunia manapun untuk bergabung dalam jalur distribusi digital mereka. Saat ini Level Music dalam versi beta masih gratis dan tanpa dikenakan biaya apapun. Sementara, hal yang sama juga telah dilakukan duluan oleh raksasa label Universal Music, dengan membuka jalur distribusi digital melalui Spinnup pada November 2016 lalu, dengan konsep berbayar.

Peran aggregator (Level Music & Spinnup) yang dimiliki oleh para ‘raksasa’ label ini, kalau saya melihatnya juga sebagai fungsional A&R (Artist & Repertoire) yang saat ini mungkin dianggap sudah kurang berperan. Sejak maraknya konsep musik digital dan berubahnya pola-pola di industri, kini musisi tidak perlu repot-repot datang ke perusahaan rekaman dengan membawa materi proposal dan menawarkan demo berupa kaset atau CD misalnya.

Kembali ke topik utama di atas, langkah efektif apa saja yang harus dilakukan bagi musisi pendatang baru supaya bisa lebih dikenal di era maraknya pengaliran musik (music streaming) saat ini? Cukup menggunakan Spotify! Spotify adalah layanan pengaliran musik (music streaming) yang berasal dari Swedia, dan pada bulan Oktober 2018 ini tepat menginjak berumur 10 tahun. Oya, tips ini bisa saja tidak hanya terkait dengan pendatang baru, mungkin saja ada solois atau band (superstar, established) yang mandiri dan terus ingin melakukan kegiatan pemasaran bisa memaksimalkan Spotify.

Mengapa harus Spotify?

Spotify Q3 2018

Spotify Q3 2018

Beberapa alasan dan faktor yang jadi pertimbangan menurut pendapat saya, Spotify yang per data 30 September 2018 ini melaporkan:

  • memiliki 191 juta pengguna aktif
  • memiliki 87 juta pelanggan berbayar
  • terdapat lebih dari 40 juta lagu
  • tersedia lebih dari 3 milyar playlist
  • diakses di 65 negara

Spotify juga memiliki berbagai layanan dan dukungan yang sangat menarik dan selalu penuh inovasi bagi musisi. Mengutip dari blog resmi For the Record yang selalu update dengan cepat, sebagai berikut:

Layanan ini baru tersedia secara terbatas untuk musisi-musisi independen di Amerika Serikat. Jadi kita bisa langsung mengunggah konten lagu secara langsung ke Spotify tanpa harus melalui pihak ketiga. Jika kalian mewakili artis langsung atau sebagai manager artis, cukup dengan melakukan klaim profil website artis, akun Twitter, dan akun Instagram. Untuk mendapatkan undangan Spotify for Artists bisa daftar disini.

Untuk keperluan mengunggah konten ke Spotify, pastikan dan siapkan juga kriteria sebagai berikut:

  1. Fail lagu dalam format: WAV, WAVE, atau FLAC (16- atau 24-bit, sample rates 44.1kHz)
  2. Format WAV dan WAVE adalah PCM
  3. Album art: 1600 x 1600px format PNG atau format JPEG
  4. Nama-nama kolaborator: pencipta lagu, artis pendukung, produser, dll.
  5. Data ISRC (International Standard Recording Code)

Oya, nantinya layanan Spotify for Artists juga bakal terintegrasi dengan layanan DistroKid, merupakan layanan distribusi musik digital. Jadi ketika mengunggah langsung konten ke Spotify secara bersamaan bakal terhubung juga dengan platform musik lainnya: Apple Music, Deezer, Amazon Music, Pandora, dll. Semua ini bisa terjadi karena Spotify telah membeli saham ‘minoritas’ di DistroKid.

Co.Lab adalah semacam serial event yang difasilitasi dan didesain oleh Spotify, menghubungkan antara talenta/artis dengan berbagai pihak terkait seperti perwakilan perusahaan rekaman, promotor musik, konsultan kreatif, dll., dimana dalam setiap pertemuan yang diadakan membahas tema-tema yang terkait dengan bisnis musik terkini.

Masih dalam tahap versi beta, adalah layanan yang diperuntukkan bagi para publisher, untuk analisa secara global untuk lagu, album, hingga pencipta lagu, daftar putar (playlist), dll.

Daftar putar atau playlist yang dimiliki Spotify ini menurut saya adalah paling fenomenal. Begitu ‘menusuk hati’ menurut saya atau istilahnya gue banget… berbagai genre dalam berbagai suasana dan gaya, mulai dari sajian bangun tidur hingga menjelang beranjak ke peraduan (Mager Parah, Songs to Sing in the Shower, IndieNesia, Late Night Jazz, Generasi Galau, Deep Focus, Kopikustik, Confidence Boost, Relax & Unwind, Old School Metal, Indofolk, dll.).

Bagaimana cara mengajukan lagu atau album kita masuk ke dalam daftar putar Spotify dan bisa diterima tim editorial? Simak dua video berikut ini:

 

 

Dengan adanya berbagai macam pilihan media, saat ini untuk menarik ‘perhatian’ bisa dibilang cukup sulit. Yang perlu kita lakukan adalah konsisten dan fokus di ‘satu tempat’, melakukan promosi efektif, dan selanjutnya biarkan karya lagu yang “berbicara”…

Dan sayapun sangat berharap ada layanan musik nasional alias dalam negeri yang nantinya bisa tumbuh berkembang seperti Spotify. Mimpi dan harapan saya, suatu saat layanan LangitMusik – Telkomsel yang menjelang berumur 9 tahun bisa mengikuti jejak-jejak kreatif Spotify yang penuh dengan inovasi dan bisa lebih berkembang dengan cepat.

Setuju kan kalau kita mendukung sepenuhnya layanan musik lokal yang sepenuhnya memberikan support bagi musisi dalam negeri? Oya, mungkin saja tulisan saya selanjutnya di blog ini bakal terkait dengan LangitMusik.

Foto: SG Creative

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik (PDDP Musik) judul yang saya berikan dalam tulisan blog kali ini, setelah saya terinspirasi membaca satu artikel minggu lalu yang merilis berita kerjasama antara layanan pengaliran musik (music streaming) Spotify dengan Nielsen yang merupakan perusahaan riset global.

De.mo.gra.fi /démografi/ yang mengacu pada KBBI berarti: ilmu tentang susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk; ilmu yang memberikan uraian atau gambaran statistik mengenai suatu bangsa dilihat dari sudut sosial politik; ilmu kependudukan.

Informasi demografi dari penggemar musik ini mungkin kita belum melihatnya sebagai kesatuan “big data” yang sebenarnya merupakan ‘aset’ yang sangat berharga. Big data yang salah satunya bersumber dari konten media sosial, gambar digital dan video, pembelian dan transaksi daring, twit, telepon seluler, dll., semuanya bisa dimanfaatkan, diolah, disimpan serta bisa dianalisa dalam beragam bentuk format. Tentunya tidak hanya berkaitan dengan demografi.

Terkait dengan pengelolaan data fan atau penggemar ini, ternyata Metallica juga tidak mau ketinggalan untuk pemanfaatan-nya. Bekerjasama dengan Spotify, Metallica menggunakan data pengguna Spotify untuk menentukan ‘setlist’ lagu di tiap konsernya di masing-masing kota yang berbeda. Dengan membaca dan mengolah data ini sebelum mereka tampil di London, Paris, ataupun Swedia misalnya, pihak Metallica jadi lebih memahami lagu apa yang sering diputar dan paling diminati di tiap kota. Realisasinya adalah terdapat perbedaan ‘setlist’ lagu-lagu Metallica saat konser di tiga kota tersebut.

Jika kita melihat playlist Spotify “Top Tracks of 2017 Indonesia”, dari urutan 50 lagu tersebut terdapat: Payung Teduh – Akad, Armada – Asal Kau Bahagia, Rizky Febian – Cukup Tau, Payung Teduh – Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan, dan Jaz – Kasmaran. Saya tidak mengetahui apakah dari daftar artis-artis ‘top’ tersebut pihak label rekamannya, manajemen artis, atau si artisnya sendiri, sudah memanfaatkan data digital yang berhubungan dengan penggemar? Misal melihat pertimbangan dari sisi demografi si-user: faktor usia, lokasi, pendidikan, dll., yang kesemuanya bisa menjadi tolak ukur untuk melihat potensi daya beli atau besarnya pasar dari para penggemar musik tersebut.

Menurut data dari pihak Spotify Asia tahun 2017 lalu, orang Indonesia mendengarkan musik setidaknya tiga jam dalam sehari dan termasuk yang gemar membuat daftar putar (playlist). Dan terdapat tiga momen utama yang jadi puncak bagi banyak orang mengakses layanan pemutar musik daring, yaitu:

  • saat pagi hari ketika berada di jalan
  • setelah makan siang
  • di atas jam 9 malam saat hendak beristirahat di rumah

Dalam era kemajuan teknologi informasi saat ini, dengan modal data digital tersebut, selain urusan manajemen artis/label rekaman yang dituntut untuk lebih kreatif, menurut saya hal ini juga bisa menjadikan peluang bagi tumbuhnya “boutique agency”, semacam agensi kreatif atau konsultan skala kecil yang akan membantu musisi-musisi yang sudah mapan ataupun pendatang baru untuk menyasar penggemar (segmentasi – IMHO) agar lebih fokus dan untuk memberikan service ataupun content yang lebih pas bagi para penggemar. Hal yang juga penting adalah bagaimana dengan data yang diolah tadi si musisi beserta manajemen-nya tadi bisa menarik calon sponsor ataupun investor. Intinya musisi perlu terus berinovasi dan berkreasi dengan memanfaatkan data digital.

Dari semua hal ini, kesimpulan yang mau saya sampaikan adalah: memanfaatkan dan mengolah data untuk terus “jualan”. Saya bukanlah orang yang merupakan ahli strategi pemasaran ataupun pandai untuk ‘berjualan’, tapi saya mau terus belajar terkait pengelolaan big data ini.

Ayo kita kelola secara baik data yang ‘bertebaran’ ini…

 

Foto: William Krause

Layanan Distribusi Musik Digital Terkini: FreshTunes

FreshTunes, sebuah layanan distribusi musik digital terbaru, mulai diperkenalkan ke pasar umum pada minggu lalu dan diharapkan mampu mendobrak dari layanan sejenis yang sudah ada, khususnya diperuntukkan bagi musisi independen di seluruh dunia – sebuah layanan gratis untuk mendistribusikan lagu-lagu dan karya musik ke hampir semua platform musik streaming yang ada dan hampir ke semua toko digital, yang bisa diakses langsung di www.freshtunes.com.

Beberapa fitur unggulan dari tampilan FreshTunes yang terkesan simpel dan mudah dipergunakan ini adalah sebagai berikut:

  • Pendaftaran secara gratis dan dalam kurun waktu 24 jam lagu-lagu langsung ter upload ke seluruh layanan digital – melalui menu yang mudah diakses artis bisa mengatur dan menyusun lagu-lagu yang ada, artwork, menambahkan deskripsi lagu dan memonitor langsung penjualan serta data statistik.
  • Seluruh lagu akan didistribusikan ke seluruh platform musik yang ada saat ini seperti: Spotify, Apple Music, iTunes, Deezer, GoogleMusic, Amazon music, Shazam, YouTube, SAAVN, Guvera dll.
  • Pihak FreshTunes tidak akan mengambil prosentase atau bagian dari pendapatan yang diperoleh artis, 100% seluruhnya menjadi hak milik artis.
  • Layanan tambahan juga tersedia seperti produksi artwork, produksi video lirik, ringtone, layanan promosi dari video-video milik artis ke dalam channel YouTube FreshTunes, layanan mastering LANDR dan layanan MFiT yang tersedia untuk memenuhi kualitas standar iTunes.

Model bisnis yang ditawarkan FreshTunes adalah transparan, mudah dan unik – karena FreshTunes mengandalkan pendapatan dari layanan tambahan yang ditawarkan dan dari bunga sisa pendapatan yang diperoleh tiap akun, dimana pengguna/artis dapat mengambil revenue yang diperoleh dalam kelipatan £25. Dengan cara ini bisa dipahami bahwa layanan yang tersedia akan selalu gratis untuk selamanya dan bagi siapapun.

FreshTunes mulai masuk ke pasar tepatnya pada musim semi 2016, dan layanan ini langsung melesat melampaui target, dengan pengguna ada di 84 negara, termasuk di Inggris, Amerika Serikat, Rusia, India dan Brazil.

Dalam kurun waktu enam bulan, FreshTunes telah meraih dan mengumpulkan hampir 50.000 lagu. Termasuk membawa salah satu bintang independen hip hop Oxxxymiron menjadi album nomor 1 di tangga lagu Hip Hop versi iTunes Russia, dan juga mendistribusikan karya musik milik Jamala, pemenang Eurovision Song Contest 2016 asal Ukrainia.

FreshTunes didirikan salah satunya oleh Nikolay Okorokov, yang berpusat dan berkantor di Dubai dengan didukung operasional dan teknis yang berkantor di Moskow, sebuah kota yang menjadi penghubung global bagi kepentingan teknologi dan kreatifitas. Startup ini juga telah menyiapkan kantor di Brazil dan Inggris.

Nikolay Okorokov mengatakan “Aku percaya kami telah menciptakan sebuah model bisnis baru yang cukup adil dan memberikan nilai tambah terbaik yang sangat menguntungkan bagi para musisi independen. Ini merupakan satu hal yang kami percaya akan menciptakan satu bentuk baru bagi distribusi musik digital. Begitu banyak artis saat ini memilih untuk menjadi artis independen, bahkan setelah meraih sukses dan popularitas global. Ini merupakan sebuah tren yang tidak akan hilang begitu saja dan FreshTunes secara total memberdayakan dan mendukung komunitas musisi independen di seluruh dunia untuk menjalani karir mereka sesuai dengan yang mereka harapkan.”

Okorokov yang saat ini berusia 38 tahun, dimana telah berkarir hampir lebih dari 20 tahun, memiliki catatan yang sangat mengesankan dalam dunia konten musik digital, teknologi dan bisnis komunikasi melalui beberapa perusahaan beragam yang dimiliki seperti Iricom, Rightscom, Kedoo, Sparrow studio animasi 3D dan label NDA. Pola pendekatan bisnis dari Okorokov yang cukup visioner, jiwa kepemimpinan dan kepekaannya terhadap kemajuan dunia digital, telah membawanya menjadi sosok yang sangat handal di pasar konten digital Rusia.

Sebagai tambahan, menurut Okorokov: “Semuanya akan menjadi gratis, karena setiap layanan tersebut mampu menjangkau semua orang, termasuk berkaitan dengan musik. FreshTunes memiliki model ‘freemium’, sementara layanan distribusi musik digital yang ditawarkan adalah gratis, dan jika pengguna menginginkan satu layanan tambahan, cukup mengeluarkan sedikit biaya. Kami memercayai bahwa setiap orang berhak untuk membagi karya seni yang dimiliki, membangun komunitasnya dan menjangkau seluruh audiens global tanpa mengeluarkan biaya.”
Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi: Indy Vidyalankara, indy@indypendentpr.com, 07881 822571

*Setelah melalui beberapa pengalaman langsung, saya memberikan penilaian untuk tidak merekomendasikan layanan distribusi digital ini. (Anton, Nov. 2016)

Asuransi Musisi

black-and-white-music-headphones-life

Image: Pexels

Asuransi khusus untuk musisi? Ya, kenapa tidak…

Melihat masih belum terangkatnya “nasib” seorang musisi, entah sebagai pencipta lagu, pemain band, vokalis, gitaris, dll. atau bahkan mereka yang bekerja untuk musisi/manajemen artis (orang-orang dibalik layar), kebutuhan akan asuransi bagi musisi itu sendiri semestinya layak untuk dipikirkan mulai sekarang. Meski agenda dari program BPJS tetap berjalan dan gencar, saya yakin tidak serta merta mereka yang terjun dan hidup dari kegiatan bermusik sadar akan kebutuhan (asuransi) ini.

Saat ini kegiatan industri kreatif khususnya dengan sekian belas sub sektor, yang sudah dirancang dan dikerjakan oleh BEKRAF, memang sedang ramai digalakkan dan mendapat sambutan yang antusias dari berbagai kalangan pelakunya, baik komunitas, pebisnis, dan media. Musik sebagai salah satunya, tanpa harus berbicara dalam lingkup “industri” yang sebenarnya, merupakan peluang besar dan kesempatan emas apabila mampu diolah dan di-manage secara serius, transparan dan profesional.

Melihat pengalaman-pengalaman dari musisi senior kita (yang telah berpulang), tentunya agak miris bila melihat dan membaca kisah dulu di saat masa populer dan jayanya, namun di hari tuanya nampak terlunta dan “terbuang”, dan tidak ada hal yang cukup berarti untuk diwariskan kepada anggota keluarganya ataupun hak waris. Kita harus mampu belajar dari sejarah dan kisah-kisah pahit itu.

Bukannya berpromosi, selain memikirkan aset-aset karya kita, saat ini kita sebagai musisi mulai harus memikirkan tiga hal ini: asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dan asuransi kecelakaan, ataupun kebutuhan asuransi lainnya. Mungkin ada startup + venture capital yang berminat untuk handle program/platform terkait ini?

QQ Music

20130824030806183

Image: xiaomi.cn

Mungkin belum banyak dari kita yang mengakses layanan musik streaming QQ Music, tapi tentunya tidak asing bila kita mendengar WeChat yang merupakan sister company milik grup Tencent, yang dalam beberapa hari lalu dinobatkan sebagai the most valuable company in Asia. Tencent/Tencent Holdings Ltd. adalah sebuah perusahaan yang berpusat di kota Shenzhen, perusahaan ‘raksasa’ yang memiliki bisnis portal website, jejaring sosial, online game, aplikasi chat, software antivirus,  online adbrowserentertainment, dll.

Saya ingin sedikit membahas soal QQ Music, dimana model bisnis yang ditawarkan oleh QQ Music adalah kurang lebih sama dengan yang ditawarkan layanan global musik streaming populer lainnya: Spotify, Pandora, dll., yaitu berbayar dan freemium.

Konsumsi musik di dunia saat ini memang sedang mengalami perubahan besar, dari konsep downloading dan kini yang kian marak tentunya adalah streaming, baik gratisan ataupun berbayar (tanpa kita melupakan ‘raksasa’ YouTube, tentunya!). Mungkin jika selama ini kita hanya fokus melihat kreasi berbasis teknologi banyak berasal dari daratan Eropa dan Amerika saja, kini saatnya ‘mewaspadai’ kemajuan dan perkembangan teknologi dari daratan China ini yang memang sudah terbukti established, salah satunya QQ Music ini.

QQ Music telah mengklaim sebagai perusahaan music streaming yang telah menangguk untung dari layanannya. Sementara Spotify yang telah eksis sejak September 2008 , saat ini pun masih “berdarah-darah”, bahkan terancam rugi. Lebih dari 70% revenue Spotify digunakan untuk membayar royalti kepada pihak perusahaan rekaman dan copyright owner. Dari laporan yang saya baca ini dalam bahasa China ini kemudian di Google Translate kan, semoga saja saya tidak salah menangkap hal-hal yang dimaksud. Ada beberapa hal yang menarik untuk disampaikan dan perlu kita lihat, yaitu sebagai berikut:

  • Menurut beberapa data yang terpublikasikan, tanpa adanya pernyataan resmi, QQ Music dinyatakan telah meraih keuntungan. Dalam satu pertemuan QQ Music Industry Forum Media Sharing, menurut Wu Wei Lin selaku General Manager of Digital Music Banquet Tencent kepada media menyatakan “ya telah untung”.
  • Hal ini merupakan kejadian yang sangat luar biasa, karena dalam sejarah industri musik dunia, karena baru QQ Music yang menjadi satu-satunya perusahaan yang berhasil mengumumkan keuntungan atas layanan musik streaming.
  •  Model bisnis QQ Music adalah sama dengan kombinasi antara Spotify + iTunes Store, freemium dan berbayar untuk men-download.
  • Konsep digital album menjadi satu inovasi khususnya bagi platform musik di China. Meski konsep digital album ini hampir sama dengan konsep iTunes Store yaitu pengguna membayar kemudian men-download file dalam format MP3 ke komputernya, ternyata digital album lagu-lagu China lebih disukai karena memiliki lebih banyak value-added service.
  • Dengan memiliki WeChat dimana di dalamnya terdapat 762 juta pengguna aktif, Tencent secara mudah mampu meyakinkan dan bernegosiasi dengan perusahaan-perusahaan rekaman besar yang ada seperti Sony, Warner Music, dan YG Entertainment dari Korea Selatan. Konsep kerjasama distribusi secara eksklusif bisa dilakukan. Dan rata-rata user di China sudah sadar akan kemudahan ec0mmerce system, mereka membeli tiket konser dan memesan taxi cukup dari aplikasi WeChat.
  • Jumlah pengguna yang terus bertambah membuat posisi QQ Music terus meroket. Setiap harinya terdapat 100 juta pengguna aktif dan 400 juta pengguna aktif tiap bulannya. Dibandingkan dengan pengguna Spotify yang berjumlah 30 juta subsciber dan 100 juta pengguna aktif tiap bulannya.
  • Perusahaan analis iResearch dari China menyatakan bahwa, meski porsi pengguna QQ Music masih ‘sedikit’, mereka meramalkan bahwa separo user di China akan mau membayar apapun melalui aplikasi musiknya tahun ini. Baik untuk membeli digital album secara satuan/bukan berlangganan, ataupun membeli tiket konser. Kemauan untuk membayar adalah merupakan kunci utama.

Sebagai kesimpulan, pada bulan Juli 2016 lalu Tencent mengakuisisi mayoritas saham China Music Corporation, dan bermaksud menggabungkan layanan musik populer yang dimiliki China Music Corporation yaitu Kugou dan Kuwo. Penggabungan ini dimaksudkan untuk memperkuat dan memperluas layanan QQ Music tentunya. Dari penggabungan tiga unit ini akan menargetkan hampir lebih dari 800 juta pengguna.

Sungguh kita berbicara menyangkut angka-angka yang fantastik! Dan dalam lingkup ‘industri musik’ ini saya menanti gebrakan dari kompetitor terdekat Tencent, yaitu Alibaba, dimana sang big boss-nya telah ‘diminta’ untuk menjadi advisor dalam steering committee e-commerce Indonesia, yang disampaikan saat kedatangan Presiden Jokowi ke China untuk menghadiri pertemuan negara G20 beberapa waktu lalu.

Ref.: Mashable

Koperasi Digital Indonesia Mandiri

mastel-20160520

Koperasi Digital Indonesia Mandiri

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, MASTEL dan APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) hari ini (20/5) mengadakan Public Expose Koperasi Digital Indonesia Mandiri (Koperasi Digital) dengan tema “Membangun Ekonomi Digital Yang Mandiri dan Berdaulat Melalui Koperasi, di Auditorium lt.2 Gedung Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI (Kemenkop UKM). Disamping mendapat dukungan dari Kemenkop UKM, acara ini turut mendapat atensi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Acara diawali dengan introduction speech dari Hermawan Kartajaya yang merupakan co-founder Koperasi Digital dan sekaligus Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM RI, dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Umum MASTEL Kristiono. Pada sambutannya Kristiono menjelaskan latar belakang dibentuknya Koperasi Digital. Dimana berawal dari pembicaraan antara MASTEL dan APJII pada saat MASTEL roadshow ke berbagai asosiasi yang menjadi anggota MASTEL. Dalam roadshow tersebut, tercetuslah ajakan mengenai pembentukan koperasi digital dari APJII. Dengan semakin maraknya produk asing yang menguasai industri di Indonesia MASTEL dan APJII sepakat untuk mendorong hadirnya Koperasi Digital sebagai solusi untuk mencapai kebangkitan kedaulatan ekonomi digital Indonesia.

Kristiono menambahkan bahwa pembentukan koperasi ini tidak lepas dari tiga pilar yaitu pasar, talenta, dan entrepreneurship. Untuk pasar Indonesia memiliki potensi yang dapat dijadikan sebuah kekuatan. Sementara untuk talenta Indonesia masih memiliki kekurangan tenaga yang dapat membantu merealisasikannya. Entrepreneurship sendiri saat ini pertumbuhannya di Indonesia sedang berkembang dengan pesat.

Kepala Balitbang SDM Kemkominfo Basuki Yusuf Iskandar dalam sambutannya mewakili Menkominfo menjelaskan bahwa program satu juta domain dari Kemkominfo akan membantu para UKM mendapatkan lebih banyak peluang untuk usaha mereka. Program ini akan diluncurkan secara bersamaan dengan publikasi Koperasi Digital secara nasional pada tanggal 12 Juli 2016.

“Kenapa harus koperasi digital?” tegas Sekretaris Menteri Koperasi dan UKM Agus Muharam. “Karena saat ini Indonesia telah memasuki era informasi namun masih tertinggal. Untuk itu perlu diadakan revolusi mental koperasi, dimana koperasi harus didukung oleh teknologi digital”, lanjutnya. Ia menambahkan, “pengembangan koperasi menggunakan teknologi akan membuat proses kerjanya lebih efektif dan efisien”. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Menteri Koperasi dan UKM Agus Muharam pada sambutannya mewakili Menteri Koperasi dan UKM.

Sebagaimana diketahui, pengguna internet di Indonesia terus bertambah. Indonesia adalah merupakan pangsa pasar yang besar. Sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan oleh para pelaku usaha lokal. Banyak startup yang berhasil dalam mengembangkan dirinya, sehingga mampu memanfaatkan pengguna internet lokal. Namun, tidak banyak investor lokal yang mau mendukung para startup yang berhasil, sehingga para investor asing memanfaatkan kesempatan itu.

Sumber: MASTEL

Spotify Indonesia

15966418065_ca394409ba_b

Selamat datang, Spotify Indonesia

Akhirnya yang ditunggu-tunggu bakal tiba… Begitulah kiranya ungkapan yang paling tepat untuk menyambut kedatangan layanan musik streaming yang berasal dari Swedia, Spotify, yang bakal bisa diakses di Indonesia mulai tanggal 30 Maret 2016.

Pada hari Minggu sore kemarin, kabar tersebut diberitakan melalui akun Twitter @SpotifyID, akun Twitter resmi Spotify Indonesia, akun yang sebenarnya telah dibuat sejak Agustus 2011 jauh sebelum Spotify masuk ke wilayah Asia: Malaysia, Singapura, Hongkong pada Juni 2013, selanjutnya menyusul Taiwan dan Filipina pada April 2014. Demikian juga hal ini diinformasikan melalui akun Facebook Spotify.

Saya sendiri sudah menggunakan layanan musik ini sejak hampir tiga tahun lalu. Awal pertama melakukan akses Spotify, karena belum bisa diakses di Indonesia, dengan menggunakan bantuan VPN baik di desktop ataupun mobile, kemudian baru pada Mei 2014 mulai mencoba sebagai premium subscriber alias pelanggan berbayar US $10 tiap bulannya, dimana saya membeli voucher premium yang bisa di-redeem, sampai dengan sekarang.

Tidak dipungkiri saya langsung jatuh cinta pada akses pertama dengan Spotify. Jauh sekali perbedaan yang saya rasakan saat mengakses platform yang hampir sama seperti: Deezer, Beats Music, bahkan dibandingkan dengan yang terkini Apple Music, sementara Tidal? (hi-fi sound quality? I don’t even care!)Spotify is soundtracking my life! Itu ekspresi yang paling tepat dan agresif terkait layanan musik ini. Mulai dari kita bangun tidur, beraktifitas di kantor, menjelang sore, saat di perjalanan balik ke rumah, hingga saat kita mau beranjak ke tempat tidur, Spotify memberikan pilihan playlist beragam yang bisa disesuaikan dengan mood kita saat itu. Mau berapa puluh juta lagu semuanya ada dan bisa dicari di layanan musik ini. Bahkan kadang saya merasakan lost in the digital era, karena sampai bingung mau mendengarkan lagu apa lagi 😊. Keunggulan bagi pengguna premium salah satunya adalah layanan playlist bisa di-unduh untuk didengarkan secara offline.

Berbagai pengalaman dengan layanan musik yang sudah hadir di lebih 58 negara ini, sering saya share di akun Twitter. Terakhir mengenai fitur Spotify Running, rekomendasi lagu secara medley sesuai dengan tempo saat berlari, yang diakses menggunakan smartphone. Jadi misalnya saat saya berolahraga pagi lari-lari kecil, sambil buka aplikasi Spotify di smartphone, si aplikasi mendeteksi berapa tempo kecepatan lari kita. Nah dari situ, kemudian disesuaikan sajian playlist dari Spotify. Untuk experience & interface saya sudah coba Spotify di semua format mulai iPhone, Android, OS X, hingga Windows PC, tidak ada yang mengecewakan.

Saya berharap semoga layanan ini tidak terkendala dengan syarat-syarat PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik) asing yang buka di Indonesia, seperti halnya yang terjadi pada Netflix, yang digaungkan pihak Kemkominfo beberapa waktu lalu. Juga seperti dikatakan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, yang menyatakan sikap tegas kepada semua penyedia layanan over the top (OTT) yang beroperasi di Indonesia. Semua harus berbentuk usaha tetap (BUT) jika ingin melanjutkan layanannya.

Oiya karena saking ‘cintanya’, terhitung sudah tiga kali saya coba apply pekerjaan di Spotify via Spotify Singapore. Mulai dari Account Manager – Label Relations (Jan. 2014), Music Editor Indonesia (Des. 2015), kemudian Account Manager – Label Relations Southeast Asia (Mar. 2016). Belum ada yang tembus 😄.

Goodluck, Spotify Indonesia!

Kredit foto: PhotoPin

Selamat Hari Musik Nasional 2016

IMG_1840

Analog atau digital? Selamat Hari Musik Nasional

Hari ini 9 Maret 2016, bertepatan dengan datangnya Gerhana Matahari Total di beberapa wilayah Indonesia, bertepatan juga dengan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1938, dan pastinya 9 Maret adalah merupakan Hari Musik Nasional yang oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013, dan Hari Musik Nasional bukan merupakan Hari Libur Nasional.

Dalam Keppres tersebut menyebutkan, penetapan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional mempertimbangkan bahwa musik adalah ekspresi budaya yang bersifat universal dan multi dimensional, yang mempresentasikan nilai-nilai luhur kemanusiaan, serta memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Tulisan kecil saya yang agak berbeda dalam rangka Hari Musik Nasional 2012 lalu, ada di tautan blog berikut ini.

Dalam konteks HMN, hari ini saya juga baru tahu ada gagasan Bank Musik, sekilas melihat update twit dari akun pak Menteri Pemuda dan Olah Raga, Imam Nahrawi. Mengutip dari situs Antara penjabaran soal bank musik tersebut: Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) berencana mendirikan bank musik pertama Indonesia, yang akan menjadi wadah untuk mengumpulkan, melestarikan, dan mengembangkan musik dan lagu yang ada di seluruh Tanah Air. Konsep ala “gudang lagu” tersebut kelak akan dilengkapi dengan fasilitas digital yang turut memberikan kemudahan kepada seluruh masyarakat untuk dapat mengakses musik, dengan terjaga hak ciptanya dan terhindar dari pembajakan. Fasilitas penyedia musik ini juga akan didukung dengan sistem transaksi.

Saya sendiri belum terlalu memahami bagaimana arah dari inisiasi bank musik versi Kemenpora ini, namun kalau boleh saya sedikit tebak-tebak sebenarnya konsep ini tidak jauh berbeda dengan membangun DSP (Digital Service Provider), apalagi jelas disitu disebutkan bahwa ‘fasilitas penyedia musik’, ‘sistem transaksi’ dan juga bicara soal ‘akses’. Entah seperti apa nanti bentuk atau jenis platform yang akan dibuat, trus bagaimana juga dengan model bisnis yang ditawarkan, kita tunggu saja realisasi DSP versi ‘pemerintah’ ini.

Melihat konteks Hari Musik Nasional (HMN), menurut saya, tidak perlu secara muluk-muluk. Berbicara soal pembajakan mungkin sudah agak basi untuk selalu dijadikan kambing hitam. Kita sudah pahami bersama situasi ‘industri musik’ kita beberapa tahun terakhir memang seperti ini. Coba kita berpikir secara sederhana dan mandiri. Yang diperlukan sekarang adalah kreatifitas tanpa batas, karya musik yang bagus, dan peran komunitas/ekosistem. Misal kalau melihat movement ala Record Store Day Indonesia tahun 2015 yang sudah menyebar ke berbagai kota: Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Solo, Malang, dll. Belum lagi susulan event ala Cassette Store Day yang juga merambah beberapa kota, pastinya bisa menjadikan dan memotivasi ekosistem musik di tiap daerah untuk terus tumbuh dan berkembang. Saya membayangkan di tiap kota di Indonesia ada ekosistem musik yang kreatif (baik secara analog maupun digital), saling membangun dan mendukung, itulah wujud HMN yang sebenarnya dan bisa dirayakan kapanpun!

Di era presiden Jokowi saat ini kita juga sudah melihat adanya gerakan dan gebrakan untuk melindungi para pemangku kepentingan. Seperti Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly melantik 10 orang yang antara lain merupakan musisi dan pencipta lagu sebagai komisioner Lembaga Manajemen Kolektif Nasional Pencipta dan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional Hak Terkait untuk menetapkan cara pendistribusian dan besaran royalti. (Kita tunggu hasil kerja LMKN). Kemudian ada juga penutupan situs download lagu ilegal oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia. Belum lagi adanya Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang dikepalai Triawan Munaf, musik juga dijadikan fokus utama. Mungkin, dengan adanya kerjasama lintas kementerian terkait dengan satu misi yang sama, bisa jadi akan menjadi satu bentuk ‘penyelamatan’ nyata bagi musik dan musisi Indonesia.

Memang sepertinya permasalahan soal ‘musik’ ini cukup pelik dan rumit. Tapi inilah dunia musik, yang merupakan ‘bisnis besar’, seperti twit saya hari ini. Kita belum melihat sisi lain dari bisnis musik ini, misalnya: artist agency, music promoter, publishing, artist management, musik ventura, merchandising, touring dan masih banyak bisnis kreatif lainnya yang berkaitan.

Oya, minggu ini saya baru update ke beberapa manajemen artis hingga recording company mengenai harga dan budget artis yang dinaungi untuk satu kali penampilan/konser, wuihhh ruarr biyasaaa semuanya… (larang kabeh) 🐒 !! Itulah mengapa saya selalu suka ungkapan berikut ini: “There’s No Business Like Music Business”. 🤑

Kredit Foto: Adobe Post

Teknologi Blockchain untuk Industri Musik

10211902263_495d100503_b

Dalam satu artikel di situs WEF (World Economic Forum) pada 23 Februari 2016 lalu, ada ulasan menarik mengenai teknologi blockchain yang bakal dianggap mampu merevolusi industri musik. Blockchain ataupun bitcoin semuanya adalah hal yang saling berkaitan.

Mengutip penjelasan dari blog Bitcoin Indonesia: “Bitcoin telah melahirkan sebuah metode unik untuk mencatat semua transaksi keuangan yang terjadi tanpa perlu mengandalkan sistem perbankan yang ada. Teknologi tersebut dikenal dengan nama ‘Blockchain’. Tidak peduli seberapa berhasilnya mata uang digital ini, teknologi yang menggerakkannya itulah yang sangat penting. Salah satu menteri di dunia bahkan menyatakan bahwa Blockchain dapat membuat bank sentral dianggap sebagai sesuatu yang kuno atau tidak dibutuhkan lagi.”

Apakah blockchain itu? Berikut penjelasannya… Bank mencatat semua transaksi finansial yang mereka lakukan di dalam sebuah ‘buku besar’ (atau ‘ledger’). Berpuluh-puluh tahun yang lalu, buku besar ini mungkin berbentuk ratusan buku tua yang sudah berdebu. Setiap kalimat baru yang muncul di dalam buku besar merupakan catatan transaksi yang baru terjadi. Catatan-catatan ini sekarang sudah didigitalkan, namun buku besar tersebut masih dimiliki dan dikontrol oleh suatu bank.

Blockchain itu unik karena buku besar yang ini tidak dikelola oleh satu organisasi atau pihak tertentu. Sebaliknya, catatan buku besar ini disebarluaskan secara publik dan dikelola oleh ribuan komputer di dunia dalam waktu yang bersamaan. Anda dapat melihat seluruh catatan transaksinya disini — coba cek, isinya sangat menakjubkan.

Buku besar yang dapat diakses dan dikelola oleh publik ini adalah kekuatan utama Blockchain. Setiap komputer yang terdapat di dalam jaringan dapat membuat catatan baru tentang transaksi yang baru terjadi, jelas Oscar Darmawan, Direktur Utama dari Bitcoin Indonesia. Ketika transaksi sudah dicatat di dalam buku besar global ini, sangat mustahil bagi siapapun untuk menghapus catatan transaksi tersebut.

Dan mengapa blockchain itu dianggap hal penting? Berikut rinciannya… Blockchain membuat transaksi pembayaran dapat terjadi dan tercatat tanpa menggunakan buku besar yang dikelola oleh sebuah bank. Awalnya, hal ini memang penting bagi Bitcoin (mata uang pertama yang beredar menggunakan teknologi tersebut) saja, namun kini teknologi buku besar tersebut mulai dapat digunakan dan diaplikasikan untuk apapun.

Seperti yang ditulis oleh seorang venture capitalist terkenal yang bernama Marc Andreessen: “Untuk pertama kalinya, Blockchain memberikan kesempatan kepada seorang pengguna Internet untuk mengirimkan sebuah properti digital yang unik ke pengguna internet yang lain. Transaksi yang terjadi dapat dijamin aman, dan semua orang dapat mengetahui bahwa suatu transaksi telah terjadi dan tidak ada seorangpun yang dapat melawan fakta tersebut.”

Kembali merujuk pada artikel di situs World Economic Forum tadi, penyanyi pop dan penulis lagu asal Inggris Imogen Heap sedang merintis konsep “fair trade” yang ditujukan bagi industri musik yang bertujuan untuk ‘menyingkirkan’ media perantara semacam iTunes dan Spotify, dengan memberikan hak kepemilikan yang lebih bagi musisi terkait dengan uang dan data yang tercipta dari hasil karya.

Single terkini Imogen Heap berjudul “Tiny Human”, yang dirilis tahun lalu melalui situs Ujo Music, dimana konsumen dapat membeli lagu tersebut, berikut data lagu secara lengkap, menggunakan cryptocurrency yang dinamakan Ether. Hasil penjualan lagu langsung didistribusikan kepada produser, pencipta lagu dan engineer yang terlibat di dalam produksi lagu tersebut.

Melalui single “Tiny Human” adalah merupakan awal mula bagi Imogen Heap yang sebenarnya sedang melakukan eksperimen, yaitu dengan membangun sebuah ekosistem musik secara menyeluruh yang disebut “Mycelia”. Heap ingin menciptakan satu platform gratis dimana musisi mampu melakukan kontrol terhadap data dari lagu-lagu mereka, dimana lagu tersebut beredar diantara penggemar dan musisi lain, termasuk berkaitan dengan kredit lagu, kapan dan dimana lagu itu diputar, dan transaksi apapun yang berkaitan dengan lagu tersebut. Semua informasi ini terlacak dengan menggunakan teknologi blockchain.

blockchain

Infografis yang menjelaskan cara kerja Blockchain

Bagi saya pribadi yang bukan merupakan ahli ekonomi dan keuangan serta bukan pengamat teknologi terkini, kesimpulan sederhana dari semua bahasan ini adalah bahwa satu kemajuan teknologi ala blockchain pada dasarnya adalah bertujuan untuk mengurangi atau menghapus keterlibatan pihak ketiga, keempat dst. Musisi atau pencipta lagu akan lebih diuntungkan serta memiliki lebih banyak kontrol, dan konsumen akan secara lebih mudah mengakses dan mendapatkan musik yang diinginkan. Mungkinkah model bisnis ini bisa diterapkan disini? Dan mampukah industri musik kita untuk mengadopsi? 💤💤💤

Oiya, saya juga baru tahu kalau saat ini nilai 1 BTC adalah sama dengan Rp 5.797.700,- (per 29 Februari 2016). Sewaktu awal-awal dulu baca artikel seputar Bitcoin sepertinya masih senilai sekian ratus/ribu rupiah saja… mungkin saya agak terlambat untuk mengenal dan memahami Bitcoin 🤑.

Dan masih panjang perjalanan dan kisah untuk Bitcoin… di Indonesia.

 

Kredit Foto: Photopin

Referensi: Bitcoin Indonesia, World Economic Forum, Financial Times

Musik Ventura

 

24265835812_4bbbb91dda_k

Apple Music

Melalui tulisan ini saya ingin sedikit menyumbang ide berkaitan dengan ‘permodalan’ atau ventura. Beberapa hari lalu melalui Netflix menonton film Something Ventured. Kisah beberapa investor kenamaan yang menanamkan modalnya di Apple, Intel, Atari, Cisco, dll. Kemudian saya berpikir bagaimana jika konsep ala ventura tersebut diterapkan disini, dan berkaitan dengan musik.

Di Indonesia, mengacu kepada Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 1251/1988, perusahaan modal ventura dapat membantu permodalan maupun bantuan teknis yang diperlukan calon pengusaha maupun usaha yang sudah berjalan guna:

  • Pengembangan suatu penemuan baru
  • Pengembangan perusahaan yang pada tahap awal usahanya mengalami kesulitan dana
  • Membantu perusahaan yang berada pada tahap pengembangan
  • Membantu perusahaan yang berada dalam tahap kemunduran usaha
  • Pengembangan projek penelitian dan rekayasa
  • Pengembangan berbagai penggunaan teknologi baru dan alih teknologi baik dari dalam maupun luar negeri
  • Membantu pengalihan pemilikan perusahaan

Mengutip dari situs OJK (Otoritas Jasa Keuangan), yang dimaksud dengan Perusahaan Modal Ventura (Venture Capital Company) adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan/penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan (investee company) untuk jangka waktu tertentu dalam bentuk penyertaan saham, penyertaan melalui pembelian obligasi konversi, dan/atau pembiayaan berdasarkan pembagian atas hasil usaha.

Saya tidak akan membahas detail mengenai PMV ini, kalau ada yang paham dan mengerti dunia PMV secara rinci silahkan menambahkan dan berbagi disini. Dan sepertinya di tahun 2016 ini barangkali bisnis perusahaan modal ventura (PMV) akan lebih gegap gempita.

Disini saya hanya ingin menyinggung konsep sederhana musik ventura, permodalan yang dikhususkan dalam berbagai bentuk usaha di bidang (bisnis) musik. Secara khusus berhubungan dan berkaitan dengan pencipta lagu, music creator, musisi (solois atau band), yang secara lebih spesifik lagi masuk dikategori established. Ini juga bukan sekedar menyebut mereka yang punya uang besar atau investor, terus menganggap dirinya sebagai sosok executive producer saat menginvetasikan dananya bagi artis atau album rekaman tertentu. Ini merupakan usaha musik ventura dimana perusahaannya memang tercatat secara resmi di Otoritas Jasa Keuangan sebagai perusahaan modal ventura.

Selama beberapa belas dan puluhan tahun lalu sepertinya hanya perusahaan-perusahaan rekaman yang berperan dalam (industri) musik Indonesia. Entah apakah konsep musik ventura ini merupakan sesuatu yang baru di Indonesia ataukah sudah ada yang menjalankan sebelumnya? Bakal disruptive? Tapi bagi saya usaha ini lebih masuk akal untuk situasi dan kondisi ‘permusikan’ tanah air saat ini dan untuk menghadapi keadaan ‘industri’ dalam beberapa kurun waktu ke depan.

Disini peran PMV tidak hanya sekadar menanam uang dan menginvestasikannya. Tapi PMV juga berperan secara bisnis untuk membangun karir si artis di lingkup global, misalnya menyiapkan marketing plan yang populer, memberikan arahan strategis kaitannya dengan development, dan memberikan dukungan secara penuh di dalam menghadapi ‘pasar musik’ yang dinamis dan selalu mengalami perubahan.

Untuk menggambarkan wacana yang saya pikirkan ini, saya ingin memberikan contoh. Ada XYZ Band yang merupakan established artis di Indonesia, sebelumnya sudah merilis 5 album di satu major recording company dengan penjualan hingga ratusan ribu kopi baik format digital ataupun fisik. Tahun ini mereka berniat merilis album penuh secara independent dan berencana tour ke ratusan kota hingga luar negara, namun karena keterbatasan dana untuk produksi dan berpromosi akhirnya tertunda beberapa bulan. Kemudian datanglah ABC Kapitalika sebagai PMV. Terjadi diskusi, negosiasi dan berakhir dengan kesepakatan antara XYZ Band dan ABC Kapitalika.

Dari kesepakatan di atas bisa dijabarkan sebagai berikut:

  • ABC Kapitalika memberikan dana total sekitar 10 milyar untuk mendukung album terbaru XYZ Band dengan jangka waktu kerjasama 4 tahun. Dana ini untuk membiayai produksi album, marketing, branding, promosi, tour dll.
  • Selain dana, XYZ Band akan mendapatkan support secara total berkaitan dengan artist development, konsultasi bisnis, entrepreneurship, dan sebagainya.
  • ABC Kapitalika memperoleh keuntungan 15% dari semua pendapatan yang diperoleh XYZ Band, mulai dari penjualan album/single, penjualan merchandise, kontrak sponsor atau brand, pendapatan dari lisensi & synchronization, pendapatan dari kontrak tour, pendapatan dari penjualan tiket.
  • Karena merupakan PMV resmi yang tercatat di Otoritas Jasa Keuangan, maka kerjasama antara ABC Kapitalika & XYZ Band ini adalah merupakan kerjasama yang tercatat dan dimonitor oleh negara.

Jadi, siap-siap ber-ventura kita? 🤑

Kredit Foto: freestocks.org