Pariwisata Musik

Pariwisata Musik

Pariwisata Musik

Dalam tulisan di blog kali ini saya berniat membahas mengenai konsep “pariwisata musik”. Satu hal yang ingin fokus saya pelajari dan dalami dalam kurun waktu ke depan, termasuk keinginan untuk bisa hadir di Music Tourism Convention yang akan diselenggarakan di Cologne, Jerman, pada tanggal 29 Agustus 2018 yang akan datang. Kegiatan konvensi pariwisata musik internasional ini akan mengambil tema The Importance of Music Genres in Tourism Identity. Gagasan atau ide “pariwisata musik” ini menurut pengamatan saya baru dibicarakan oleh segelintir orang, namun tanpa disadari di Indonesia sebenarnya sudah berjalan sekian waktu meski tidak memiliki ’embel-embel’ atau label resmi “pariwisata musik”.

Melalui referensi seorang kawan, Fakhri Zakaria, yang banyak menulis soal musik, dan melalui beberapa pencarian di internet, saya juga bisa menemukan satu tesis dari mahasiswa S2 Kajian Pariwisata UGM yang bertemakan “pariwisata musik”. Tesis ditulis oleh Aunurrahman Wibisono sejak akhir tahun 2015, dan beberapa bagian dipublikasikan melalui situs Perpustakaan Pusat UGM.

Berikut mengutip intisari dari tesis berjudul “Potensi Pariwisata Musik Sebagai Alternatif Pariwisata Baru Di Indonesia (Contoh Kasus Java Jazz)” tersebut:


Pariwisata musik termasuk dalam kategori wisata minat khusus. Jenis pariwisata ini tumbuh pesat mulai setidaknya dua dekade terakhir, terutama di kawasan Britania Raya. Indonesia sebagai negara dengan jumlah kelas menengah yang bertumbuh drastis, berpotensi menjadikan pariwisata musik sebagai alternatif pariwisata baru. Saat ini sudah semakin banyak festival musik maupun konser di Indonesia. Hal ini juga didorong oleh kebosanan wisatawan terhadap pariwisata massal di Indonesia.

Sayangnya, hingga saat ini nyaris tidak ada kajian ilmiah terhadap potensi pariwisata musik di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi pariwisata musik di Indonesia. Dalam penelitian ini digunakan beberapa analisis kualitatif dan juga memasukkan beberapa data kuantitatif terkait dengan tingkat okupansi hotel.

Penelitian ini memakai contoh kasus festival Java Jazz. Festival yang pertama kali diadakan pada 2005 ini menjulang jadi salah satu festival jazz terbesar di dunia. Hasil dari penelitian ini adalah festival musik sangat berpotensi untuk jadi alternatif pariwisata baru. Secara konsep pariwisata, festival musik seperti Java Jazz telah memberikan efek terhadap pariwisata. Baik berupa dampak ekonomi, peningkatan okupansi hotel, hingga terciptanya lapangan pekerjaan. Diharapkan di masa depan, akan semakin banyak orang yang mengkaji tentang pariwisata musik. Juga diharapkan para pengampu kepentingan mulai memasukkan festival musik sebagai bentuk pariwisata baru di Indonesia.


Berbicara soal jazz, saya juga teringat dari update status mas Donny Hardono di Facebook pada 11 Maret 2018 lalu. Beliau merupakan pemilik dan vendor tata suara yang banyak menangani kegiatan ataupun event musik nasional/internasional, dan juga merupakan penggerak dan ‘aktivis’ jazz. Saya sendiri bukan merupakan sosok jazz-fanatic, tapi status yang beliau tulis adalah berbagai titel dan event jazz dari berbagai wilayah (yang tidak semuanya saya ketahui šŸ¤©), seperti dibawah ini:

  • Java Jazz Fest
  • Jazz Traffic Fest
  • Jazz Goes To Campus
  • Kampoeng Jazz
  • Malang Jazz Fest
  • Boyjazz Fest
  • Prambanan Jazz Fest
  • Tangsel Jazz
  • Economic Jazz Live
  • Ramadhan Jazz
  • Jazz Gunung
  • Jazz Atas Awan
  • Ijen Summer Jazz
  • Banyuwangi Beach Jazz Fest
  • Ngayogjazz
  • Solo City Jazz
  • Jazz Marker By The Sea
  • ASEAN Jazz Fest
  • Ubud Village Jazz Fest
  • Loenpia Jazz Semarang
  • Makassar Jazz Festival
  • North Sumatra Jazz Festival

Sementara pada akhir Maret 2018 lalu, Christian Rijanto selaku Co-Founder dan Marketing Director Ismaya Group, mengumumkan ekspansi internasional pertamanya ke China yang akan diselenggarakan tahun ini. DWP atau Djakarta Warehouse Project adalah merupakan festival musik elektronik tahunan terbesar di Indonesia, yang tahun ini memasuki tahun ke-10. DWP China ini akan menjadi festival pertama dari rangkaian acara DWP yang diselenggarakan di luar Indonesia, yaitu DWP International.

Menurut saya sungguh sangat luar biasa langkah ekspansi internasional ini. Setelah cukup settled dan established di kampung halaman, saatnya ‘menjajah’ dan memperluas pasar ke luar. Oya, mengutip dari Wartakota, bahwa dari kegiatan DWP 2017 lalu, pihak promotor mematok angka Rp 350 miliar untuk pemasukan ke DKI Jakarta dari gelaran acara tersebut. Dengan perhitungan optimis, dari 100 ribu pengunjung, 35 persen atau 35 ribu di antaranya adalah orang asing. Sementara pada gelaran DWP 2016, menurut pihak penyelenggara acara dari event tersebut mampu mendulang devisa wisatawan asing sebesar Rp 200 miliar lewat paket kunjungan mereka ke Jakarta.

Pariwisata Musik

Pariwisata Musik

Nah, kembali lagi berbicara soal konsep “pariwisata musik” tadi, bahwa sesungguhnya kita memiliki potensi dan peluang sangat besar dari berbagai kegiatan ini. Bahkan kini pihak BUMN juga mulai ‘melirik’ menggarap event konser, seperti yang diselenggarakan di De Tjolomadoe, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah pada 24 Maret 2018 lalu. Lokasi bekas pabrik gula yang direvitalisasi oleh Enam Grup BUMN: PT PP (Persero), PT PP Properti, PT Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur, dan Ratu Boko (Persero), dan PT Jasa Marga Properti, disulap menjadi venue yang memiliki nilai komersil, concert hall. Konser perdana di tempat tersebut menghadirkan artis internasional dan nasional: David Foster, Brian McKnight, Anggun, Dira Sugandi, Sandy Sandhoro dan Yura Yunita, dihadiri ribuan orang. Oya berbicara sosok David Foster (sebelum jadi mainstream di Indonesia šŸ˜), kami pernah berjumpa, ngobrol dan makan malam bersama di Jakarta pada 26 Oktober 2010 lalu, fotonya ada disini.

Menengok gelaran artis internasional lainnya, dalam rangkaian tour dunia yang akan datang juga akan hadir sosok diva internasional Mariah Carey yang akan menggelar konser di Taman Lumbini, Candi Borobudur, pada tanggal 6 November 2018. Konser yang dipromotori oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) ini menjual tiket mulai dari harga 1 juta, 2 juta, 3,5 juta, 7 juta, hingga harga khusus kelas Super VVIP. Konsep yang cukup simple: musik dan tempat wisata!

Masih kaitannya dengan “pariwisata musik”, jangan lupa bahkan pemerintah Kabupaten Boyolali juga akan menghadirkan band rock legendaris dunia “Europe” untuk konser pada tanggal 12 Mei 2018 mendatang di Stadion Pandan Arang Sonolayu, Boyolali. Dengan menjual tiket Festival A seharga Rp100.000 dan kelas Festival B seharga Rp75.000. Tiket mulai dijual perdana di Pendapa Alit Rumah Dinas Bupati Boyolali, pada hari Minggu 4 Maret 2018 lalu. Melalui pertunjukan konser band “Europe”, warga Boyolali ingin menunjukkan bahwa Kota Susu ini juga layak dikunjungi sebagai destinasi wisata.

Masa lalu saya yang lebih dari 20 tahun banyak berurusan dengan musik, mulai dari merintis bekerja sebagai freelancer di event panggung musik kecil, kemudian urusan band-management, hingga bisa duduk jadi manajer eksekutif di salah satu perusahan rekaman internasional; membuat saya terus ingin belajar dan berkembang mengikuti kemajuan musik/industri, khususnya memperdalam mengenai konsep “pariwisata musik” ini. Saya berniat belajar kepada seorang kawan lama yang kini bermukim di Amerika Serikat, Robin Malau (veteran musik rock, pengamat teknologi terkini, dosen pengajar, pembicara musik internasional), yang telah banyak melanglang ke luar negeri dan banyak berkutat mengenai “Kota Musik”.

Menurutnya definisi “Kota Musik” yang paling mendasar adalah ā€œtempat di mana ekonomi musik dapat hidup dan berkembangā€œ. Semakin banyak pemerintah dan pemangku kepentingan dari seluruh penjuru dunia yang melihat strategi membuat kota yang ramah musik dapat memberikan keuntungan yang signifikan. Apakah kota Anda ingin dikunjungi turis? Menjadi tempat tinggal anak muda berbakat? Membangun merk kota? Coba gunakan musik.

Strategi apa yang bisa diterapkan kota-kota Indonesia untuk menerapkan strategi “Kota Musik”? Menurut Robin Malau, yang kini menjabat sebagai Asia-Pacific Business Development Consultant – Sound Diplomacy, beberapa strategi mendasar yang bisa diadopsi dan diterapkan di Indonesia, salah satunya adalah “pariwisata musik”.

Di tahun 2015, sektor live musik di kota Bristol-Inggris memberikan kontribusi Ā£123 juta atau hampir 2,5 trilyun rupiah pada ekonomi lokal. Ini sama nilainya dengan nilai industri Indonesia tahun 2013. Sementrara itu di tahun lalu, pariwisata musik menghasilkan Ā£3,2 milyar atau sekitar 60 trilyun ke ekonomi di UK dan memberikan pekerjaan tetap pada setidaknya 50 ribu orang. Aset pariwisata musik kota tidak hanya lokasi live musik, tapi juga bisa termasuk gedung pusat musik, festival, tempat belanja merchandise, hingga lokasi-lokasi musik yang bersejarah.

Mari kita tengok highlight dari tulisan Shain Shapiro, PhD selaku Founder & CEO Sound Diplomacy / Co-Founder Music Cities Convention & Music Tourism Convention, dalam rangka 5 tahun keberadaan Sound Diplomacy, di platform Medium pada 3 April 2018 lalu:

Remember, Music Tourism is a Thing: We created a conference to explore music and tourism last year, weā€™ve since held 2 editions and had over 300 businesses, cities and tour operators attend. Many cities rely on music heritage to entice tourists, but music heritage is everywhere. You donā€™t need to be Nashville, Vienna or New Orleans to capitalise on music tourists. Thereā€™s a Depeche Mode bar in Tallinn that welcomes thousands of tourists a year. Thereā€™s a statue of Frank Zappa in Lithuania that is a tourist attraction. The corner of Winslow, Arizona drives the economy of the town, due to the Eagles. Music is everywhere, more places will begin to recognise their music.

Dan melalui tulisan di blog ini saya juga memiliki satu keinginan untuk menemukan dan melakukan pitching ke beberapa investor potensial yang memiliki ‘jiwa seni dan musikalitas’ terkait dengan konsep “pariwisata musik”. Sudah ada beberapa konsep “pariwisata musik” yang siap untuk diagendakan dan digelar usai Lebaran 2018 nanti hingga masuk menjelang masa kampanye Pilpres 2019. Dimulai dari Lampung dan sekitarnya, kemudian kota-kota lain di pulau Sumatera, dan bahkan berkeinginan untuk menggelar program “pariwisata musik” ini secara nasional.

Mari bersinergi secara positif untuk kemajuan musik Indonesia dan pariwisata Indonesia!

Foto: Hanny Naibaho, Ariel Santos

Membangun Pabrik Pres Vinyl di Indonesia

Dalam kurun waktu 2-3 hari ini saya lumayan “gelisah”, setelah menerima balasan email secara rinci dari satu pabrikan di benua Eropa sana, kaitannya dengan mesin pres piringan hitam/vinylĀ dengan teknologi terkini yang saya tanyakan. Biar saya tidak gila memikirkan ide ini, maka saya tulis saja uneg-uneg disini šŸ¤—.

Oiya, jika kalian adalah merupakan generasi Y atau generasi Z yang belum terlalu memahami apa itu piringan hitam atau vinyl bisa baca artikel kesatu, kedua dan ketiga ini.

Ya, melalui tulisan di blog ini dan sedikit promo di akun Instagram saya berniat mencari investor atau pengusaha atau siapapun yang sekiranya sangat tertarik untuk berinventasi dengan mendirikan pabrik pres piringan hitam berikut urusan management sertaĀ music-business development, yang akan menjadi satu-satunya pabrik pres vinyl yang dibangunĀ di Indonesia pada 2016 ini dan mungkin hanya satu-satunya vinyl pressings yang ada di Asia Tenggara. RIP Lokananta!

Memang semenjak ramainya era digital dan internet, musik download, musik streaming, file-sharingĀ dll., penjualan produk-produk fisik seperti kaset, CD menunjukkan penurunan. Namun tidak demikian dengan vinyl atau piringan hitam, dimana sejak tahun 2010 menunjukkan tren peningkatan. Dan vinyl pun sebenarnya tidak hanya berwarna hitam, tapi multi-color.

Disini saya tidak akan membahas lanjut atau detail mengenai sangkut pautnya dengan industri musik Indonesia. Karena yang saya pikirkan dan saya lihat bahwa format vinyl ini dari dulu belumĀ dianggap sebagai produk yang “jualan” bagi kalangan industri. Saya pribadi bukan merupakan penggila vinyl atau kolektor piringan. Saya hanya melihat ini sebagai satu peluang bisnis dan investasi,Ā bagi mereka yang bermental pengusaha dan memiliki jiwa berkesenian. Sementara bagi musisi atau band-band anak bangsa, yang mandiri dan independen ataupun yang bergabung dengan perusahaan rekaman nasional, tentunya ini merupakan kesempatan bagus untuk mencetak karyanya dalam satu format piringan secara mudah, jika pabrik ini bisa terealisasi untuk dibangun.Ā TanpaĀ harus jauh-jauh dan repot mencetak vinyl hingga ke Amerika Serikat, Ukraina, Italia, atau Canada.

Jadi adakah yang berniat membangun?Ā Mungkin perlu juga dicari jalan dengan crowdfunding ala Kickstarter atau Indiegogo.

Berikut skema dari proses pres vinyl:

Newbilt

Record extrusion and pressing process