Selamat Hari Musik Nasional 2016

IMG_1840

Analog atau digital? Selamat Hari Musik Nasional

Hari ini 9 Maret 2016, bertepatan dengan datangnya Gerhana Matahari Total di beberapa wilayah Indonesia, bertepatan juga dengan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1938, dan pastinya 9 Maret adalah merupakan Hari Musik Nasional yang oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013, dan Hari Musik Nasional bukan merupakan Hari Libur Nasional.

Dalam Keppres tersebut menyebutkan, penetapan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional mempertimbangkan bahwa musik adalah ekspresi budaya yang bersifat universal dan multi dimensional, yang mempresentasikan nilai-nilai luhur kemanusiaan, serta memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Tulisan kecil saya yang agak berbeda dalam rangka Hari Musik Nasional 2012 lalu, ada di tautan blog berikut ini.

Dalam konteks HMN, hari ini saya juga baru tahu ada gagasan Bank Musik, sekilas melihat update twit dari akun pak Menteri Pemuda dan Olah Raga, Imam Nahrawi. Mengutip dari situs Antara penjabaran soal bank musik tersebut: Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) berencana mendirikan bank musik pertama Indonesia, yang akan menjadi wadah untuk mengumpulkan, melestarikan, dan mengembangkan musik dan lagu yang ada di seluruh Tanah Air. Konsep ala “gudang lagu” tersebut kelak akan dilengkapi dengan fasilitas digital yang turut memberikan kemudahan kepada seluruh masyarakat untuk dapat mengakses musik, dengan terjaga hak ciptanya dan terhindar dari pembajakan. Fasilitas penyedia musik ini juga akan didukung dengan sistem transaksi.

Saya sendiri belum terlalu memahami bagaimana arah dari inisiasi bank musik versi Kemenpora ini, namun kalau boleh saya sedikit tebak-tebak sebenarnya konsep ini tidak jauh berbeda dengan membangun DSP (Digital Service Provider), apalagi jelas disitu disebutkan bahwa ‘fasilitas penyedia musik’, ‘sistem transaksi’ dan juga bicara soal ‘akses’. Entah seperti apa nanti bentuk atau jenis platform yang akan dibuat, trus bagaimana juga dengan model bisnis yang ditawarkan, kita tunggu saja realisasi DSP versi ‘pemerintah’ ini.

Melihat konteks Hari Musik Nasional (HMN), menurut saya, tidak perlu secara muluk-muluk. Berbicara soal pembajakan mungkin sudah agak basi untuk selalu dijadikan kambing hitam. Kita sudah pahami bersama situasi ‘industri musik’ kita beberapa tahun terakhir memang seperti ini. Coba kita berpikir secara sederhana dan mandiri. Yang diperlukan sekarang adalah kreatifitas tanpa batas, karya musik yang bagus, dan peran komunitas/ekosistem. Misal kalau melihat movement ala Record Store Day Indonesia tahun 2015 yang sudah menyebar ke berbagai kota: Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Solo, Malang, dll. Belum lagi susulan event ala Cassette Store Day yang juga merambah beberapa kota, pastinya bisa menjadikan dan memotivasi ekosistem musik di tiap daerah untuk terus tumbuh dan berkembang. Saya membayangkan di tiap kota di Indonesia ada ekosistem musik yang kreatif (baik secara analog maupun digital), saling membangun dan mendukung, itulah wujud HMN yang sebenarnya dan bisa dirayakan kapanpun!

Di era presiden Jokowi saat ini kita juga sudah melihat adanya gerakan dan gebrakan untuk melindungi para pemangku kepentingan. Seperti Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly melantik 10 orang yang antara lain merupakan musisi dan pencipta lagu sebagai komisioner Lembaga Manajemen Kolektif Nasional Pencipta dan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional Hak Terkait untuk menetapkan cara pendistribusian dan besaran royalti. (Kita tunggu hasil kerja LMKN). Kemudian ada juga penutupan situs download lagu ilegal oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia. Belum lagi adanya Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang dikepalai Triawan Munaf, musik juga dijadikan fokus utama. Mungkin, dengan adanya kerjasama lintas kementerian terkait dengan satu misi yang sama, bisa jadi akan menjadi satu bentuk ‘penyelamatan’ nyata bagi musik dan musisi Indonesia.

Memang sepertinya permasalahan soal ‘musik’ ini cukup pelik dan rumit. Tapi inilah dunia musik, yang merupakan ‘bisnis besar’, seperti twit saya hari ini. Kita belum melihat sisi lain dari bisnis musik ini, misalnya: artist agency, music promoter, publishing, artist management, musik ventura, merchandising, touring dan masih banyak bisnis kreatif lainnya yang berkaitan.

Oya, minggu ini saya baru update ke beberapa manajemen artis hingga recording company mengenai harga dan budget artis yang dinaungi untuk satu kali penampilan/konser, wuihhh ruarr biyasaaa semuanya… (larang kabeh) 🐒 !! Itulah mengapa saya selalu suka ungkapan berikut ini: “There’s No Business Like Music Business”. 🤑

Kredit Foto: Adobe Post