Membangun Pabrik Pres Vinyl di Indonesia

Dalam kurun waktu 2-3 hari ini saya lumayan “gelisah”, setelah menerima balasan email secara rinci dari satu pabrikan di benua Eropa sana, kaitannya dengan mesin pres piringan hitam/vinyl¬†dengan teknologi terkini yang saya tanyakan. Biar saya tidak gila memikirkan ide ini, maka saya tulis saja uneg-uneg disini ūü§ó.

Oiya, jika kalian adalah merupakan generasi Y atau generasi Z yang belum terlalu memahami apa itu piringan hitam atau vinyl bisa baca artikel kesatu, kedua dan ketiga ini.

Ya, melalui tulisan di blog ini dan sedikit promo di akun Instagram saya berniat mencari investor atau pengusaha atau siapapun yang sekiranya sangat tertarik untuk berinventasi dengan mendirikan pabrik pres piringan hitam berikut urusan management serta music-business development, yang akan menjadi satu-satunya pabrik pres vinyl yang dibangun di Indonesia pada 2016 ini dan mungkin hanya satu-satunya vinyl pressings yang ada di Asia Tenggara. RIP Lokananta!

Memang semenjak ramainya era digital dan internet, musik download, musik streaming, file-sharing dll., penjualan produk-produk fisik seperti kaset, CD menunjukkan penurunan. Namun tidak demikian dengan vinyl atau piringan hitam, dimana sejak tahun 2010 menunjukkan tren peningkatan. Dan vinyl pun sebenarnya tidak hanya berwarna hitam, tapi multi-color.

Disini saya tidak akan membahas lanjut atau detail mengenai sangkut pautnya dengan industri musik Indonesia. Karena yang saya pikirkan dan saya lihat bahwa format vinyl ini dari dulu belum¬†dianggap sebagai produk yang “jualan” bagi kalangan industri. Saya pribadi bukan merupakan penggila vinyl atau kolektor piringan. Saya hanya melihat ini sebagai satu peluang bisnis dan investasi,¬†bagi mereka yang bermental pengusaha dan memiliki jiwa berkesenian. Sementara bagi musisi atau band-band anak bangsa, yang mandiri dan independen ataupun yang bergabung dengan perusahaan rekaman nasional, tentunya ini merupakan kesempatan bagus untuk mencetak karyanya dalam satu format piringan secara mudah, jika pabrik ini bisa terealisasi untuk dibangun.¬†Tanpa¬†harus jauh-jauh dan repot mencetak vinyl hingga ke Amerika Serikat, Ukraina, Italia, atau Canada.

Jadi adakah yang berniat membangun? Mungkin perlu juga dicari jalan dengan crowdfunding ala Kickstarter atau Indiegogo.

Berikut skema dari proses pres vinyl:

Newbilt

Record extrusion and pressing process

 

Generasi X Y Z

nielsen_heaviest_mobileuser

Tahun lalu saya cukup terkesan dengan grafis yang saya lihat di situs milik Nielsen ini. Detailnya bisa dilihat¬†di artikel Age of Technology…

Sebelumnya dari beberapa artikel lokal tentang marketing yang saya cari dan saya baca, saya belum pernah menemukan kategorisasi atau pengelompokan untuk pembagian per target market atau segmentasi per generasi seperti di atas.

  • Generasi Z,merupakan kelompok umur dibawah 20 tahun
  • Millenials atau Generasi Y,¬†merupakan kelompok umur antara 21¬†– 34¬†tahun
  • Generasi X, merupakan kelompok umur antara 35 – 49 tahun
  • Baby Boomers,¬†merupakan kelompok umur antara 50¬†– 64¬†tahun
  • Generasi Sunyi,¬†merupakan kelompok umur diatas 65 tahun

Kemudian saya hubungkan dengan artikel di Forbes, yang membahas tentang kondisi usaha ataupun bisnis di 2016 ini, bahwa tahun 2016 adalah eranya milik millenials atau Generasi Y. Mereka menguasai hampir seluruh pasar, secara kekuatan spending mereka cukup besar.

Kita yang saat ini sedang mengelola usaha ataupun bisnis, sudah saatnya untuk perlu mempersiapkan dan menciptakan hal-hal yang millenial-friendly serta belajar memahami karakter-karakter orang muda ini. Hal yang berkaitan dengan pelayanan konsumen serta menyangkut kepentingan pelanggan perlu untuk ditingkatkan.

Yang sedikit saya catat, hal-hal yang berbau simpel, mudah dimengerti dan tidak berbelit-belit, adalah sesuatu yang disukai Generasi Y ini.

Kredit Grafis: Nielsen