Asuransi Musisi

black-and-white-music-headphones-life

Image: Pexels

Asuransi khusus untuk musisi? Ya, kenapa tidak…

Melihat masih belum terangkatnya “nasib” seorang musisi, entah sebagai pencipta lagu, pemain band, vokalis, gitaris, dll. atau bahkan mereka yang bekerja untuk musisi/manajemen artis (orang-orang dibalik layar), kebutuhan akan asuransi bagi musisi itu sendiri semestinya layak untuk dipikirkan mulai sekarang. Meski agenda dari program BPJS tetap berjalan dan gencar, saya yakin tidak serta merta mereka yang terjun dan hidup dari kegiatan bermusik sadar akan kebutuhan (asuransi) ini.

Saat ini kegiatan industri kreatif khususnya dengan sekian belas sub sektor, yang sudah dirancang dan dikerjakan oleh BEKRAF, memang sedang ramai digalakkan dan mendapat sambutan yang antusias dari berbagai kalangan pelakunya, baik komunitas, pebisnis, dan media. Musik sebagai salah satunya, tanpa harus berbicara dalam lingkup “industri” yang sebenarnya, merupakan peluang besar dan kesempatan emas apabila mampu diolah dan di-manage secara serius, transparan dan profesional.

Melihat pengalaman-pengalaman dari musisi senior kita (yang telah berpulang), tentunya agak miris bila melihat dan membaca kisah dulu di saat masa populer dan jayanya, namun di hari tuanya nampak terlunta dan “terbuang”, dan tidak ada hal yang cukup berarti untuk diwariskan kepada anggota keluarganya ataupun hak waris. Kita harus mampu belajar dari sejarah dan kisah-kisah pahit itu.

Bukannya berpromosi, selain memikirkan aset-aset karya kita, saat ini kita sebagai musisi mulai harus memikirkan tiga hal ini: asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dan asuransi kecelakaan, ataupun kebutuhan asuransi lainnya. Mungkin ada startup + venture capital yang berminat untuk handle program/platform terkait ini?

QQ Music

20130824030806183

Image: xiaomi.cn

Mungkin belum banyak dari kita yang mengakses layanan musik streaming QQ Music, tapi tentunya tidak asing bila kita mendengar WeChat yang merupakan sister company milik grup Tencent, yang dalam beberapa hari lalu dinobatkan sebagai the most valuable company in Asia. Tencent/Tencent Holdings Ltd. adalah sebuah perusahaan yang berpusat di kota Shenzhen, perusahaan ‘raksasa’ yang memiliki bisnis portal website, jejaring sosial, online game, aplikasi chat, software antivirus,  online adbrowserentertainment, dll.

Saya ingin sedikit membahas soal QQ Music, dimana model bisnis yang ditawarkan oleh QQ Music adalah kurang lebih sama dengan yang ditawarkan layanan global musik streaming populer lainnya: Spotify, Pandora, dll., yaitu berbayar dan freemium.

Konsumsi musik di dunia saat ini memang sedang mengalami perubahan besar, dari konsep downloading dan kini yang kian marak tentunya adalah streaming, baik gratisan ataupun berbayar (tanpa kita melupakan ‘raksasa’ YouTube, tentunya!). Mungkin jika selama ini kita hanya fokus melihat kreasi berbasis teknologi banyak berasal dari daratan Eropa dan Amerika saja, kini saatnya ‘mewaspadai’ kemajuan dan perkembangan teknologi dari daratan China ini yang memang sudah terbukti established, salah satunya QQ Music ini.

QQ Music telah mengklaim sebagai perusahaan music streaming yang telah menangguk untung dari layanannya. Sementara Spotify yang telah eksis sejak September 2008 , saat ini pun masih “berdarah-darah”, bahkan terancam rugi. Lebih dari 70% revenue Spotify digunakan untuk membayar royalti kepada pihak perusahaan rekaman dan copyright owner. Dari laporan yang saya baca ini dalam bahasa China ini kemudian di Google Translate kan, semoga saja saya tidak salah menangkap hal-hal yang dimaksud. Ada beberapa hal yang menarik untuk disampaikan dan perlu kita lihat, yaitu sebagai berikut:

  • Menurut beberapa data yang terpublikasikan, tanpa adanya pernyataan resmi, QQ Music dinyatakan telah meraih keuntungan. Dalam satu pertemuan QQ Music Industry Forum Media Sharing, menurut Wu Wei Lin selaku General Manager of Digital Music Banquet Tencent kepada media menyatakan “ya telah untung”.
  • Hal ini merupakan kejadian yang sangat luar biasa, karena dalam sejarah industri musik dunia, karena baru QQ Music yang menjadi satu-satunya perusahaan yang berhasil mengumumkan keuntungan atas layanan musik streaming.
  •  Model bisnis QQ Music adalah sama dengan kombinasi antara Spotify + iTunes Store, freemium dan berbayar untuk men-download.
  • Konsep digital album menjadi satu inovasi khususnya bagi platform musik di China. Meski konsep digital album ini hampir sama dengan konsep iTunes Store yaitu pengguna membayar kemudian men-download file dalam format MP3 ke komputernya, ternyata digital album lagu-lagu China lebih disukai karena memiliki lebih banyak value-added service.
  • Dengan memiliki WeChat dimana di dalamnya terdapat 762 juta pengguna aktif, Tencent secara mudah mampu meyakinkan dan bernegosiasi dengan perusahaan-perusahaan rekaman besar yang ada seperti Sony, Warner Music, dan YG Entertainment dari Korea Selatan. Konsep kerjasama distribusi secara eksklusif bisa dilakukan. Dan rata-rata user di China sudah sadar akan kemudahan ec0mmerce system, mereka membeli tiket konser dan memesan taxi cukup dari aplikasi WeChat.
  • Jumlah pengguna yang terus bertambah membuat posisi QQ Music terus meroket. Setiap harinya terdapat 100 juta pengguna aktif dan 400 juta pengguna aktif tiap bulannya. Dibandingkan dengan pengguna Spotify yang berjumlah 30 juta subsciber dan 100 juta pengguna aktif tiap bulannya.
  • Perusahaan analis iResearch dari China menyatakan bahwa, meski porsi pengguna QQ Music masih ‘sedikit’, mereka meramalkan bahwa separo user di China akan mau membayar apapun melalui aplikasi musiknya tahun ini. Baik untuk membeli digital album secara satuan/bukan berlangganan, ataupun membeli tiket konser. Kemauan untuk membayar adalah merupakan kunci utama.

Sebagai kesimpulan, pada bulan Juli 2016 lalu Tencent mengakuisisi mayoritas saham China Music Corporation, dan bermaksud menggabungkan layanan musik populer yang dimiliki China Music Corporation yaitu Kugou dan Kuwo. Penggabungan ini dimaksudkan untuk memperkuat dan memperluas layanan QQ Music tentunya. Dari penggabungan tiga unit ini akan menargetkan hampir lebih dari 800 juta pengguna.

Sungguh kita berbicara menyangkut angka-angka yang fantastik! Dan dalam lingkup ‘industri musik’ ini saya menanti gebrakan dari kompetitor terdekat Tencent, yaitu Alibaba, dimana sang big boss-nya telah ‘diminta’ untuk menjadi advisor dalam steering committee e-commerce Indonesia, yang disampaikan saat kedatangan Presiden Jokowi ke China untuk menghadiri pertemuan negara G20 beberapa waktu lalu.

Ref.: Mashable

Rest In Prince

IMG_2115

Rest In Prince

Kabar duka datang lagi dari dunia musik. Kali ini musisi legendaris Prince yang populer dengan lagu Purple Rain. Prince yang berusia 57 tahun ditemukan dalam keadaan tidak sadar di dalam lift, di rumahnya Paisley Park Studios di Chanhassen, Minnesota.

Pihak berwajib telah memastikan bahwa pria tersebut adalah Prince Rogers Nelson, yang lebih dikenal dengan Prince. Mengenai penyebab kematian Prince akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Dalam tulisan yang berbeda nanti, saya akan sedikit mengulas sepak terjang Prince yang kerap melakukan ‘perlawanan’ dengan industri musik yang ada selama ini. Misalnya dengan melakukan kontrol atas lagu-lagu yang dia ciptakan. Kemudian tentang bagaimana sikap Prince dalam mengantisipasi kemajuan teknologi, internet.

Selamat jalan, Prince…

Could you be
The most beautiful girl in the world
It’s plain to see
You’re the reason that God made a girl
(Alb. The Gold Experience, 1995)

Sumber: CNN

Spotify Indonesia

15966418065_ca394409ba_b

Selamat datang, Spotify Indonesia

Akhirnya yang ditunggu-tunggu bakal tiba… Begitulah kiranya ungkapan yang paling tepat untuk menyambut kedatangan layanan musik streaming yang berasal dari Swedia, Spotify, yang bakal bisa diakses di Indonesia mulai tanggal 30 Maret 2016.

Pada hari Minggu sore kemarin, kabar tersebut diberitakan melalui akun Twitter @SpotifyID, akun Twitter resmi Spotify Indonesia, akun yang sebenarnya telah dibuat sejak Agustus 2011 jauh sebelum Spotify masuk ke wilayah Asia: Malaysia, Singapura, Hongkong pada Juni 2013, selanjutnya menyusul Taiwan dan Filipina pada April 2014. Demikian juga hal ini diinformasikan melalui akun Facebook Spotify.

Saya sendiri sudah menggunakan layanan musik ini sejak hampir tiga tahun lalu. Awal pertama melakukan akses Spotify, karena belum bisa diakses di Indonesia, dengan menggunakan bantuan VPN baik di desktop ataupun mobile, kemudian baru pada Mei 2014 mulai mencoba sebagai premium subscriber alias pelanggan berbayar US $10 tiap bulannya, dimana saya membeli voucher premium yang bisa di-redeem, sampai dengan sekarang.

Tidak dipungkiri saya langsung jatuh cinta pada akses pertama dengan Spotify. Jauh sekali perbedaan yang saya rasakan saat mengakses platform yang hampir sama seperti: Deezer, Beats Music, bahkan dibandingkan dengan yang terkini Apple Music, sementara Tidal? (hi-fi sound quality? I don’t even care!)Spotify is soundtracking my life! Itu ekspresi yang paling tepat dan agresif terkait layanan musik ini. Mulai dari kita bangun tidur, beraktifitas di kantor, menjelang sore, saat di perjalanan balik ke rumah, hingga saat kita mau beranjak ke tempat tidur, Spotify memberikan pilihan playlist beragam yang bisa disesuaikan dengan mood kita saat itu. Mau berapa puluh juta lagu semuanya ada dan bisa dicari di layanan musik ini. Bahkan kadang saya merasakan lost in the digital era, karena sampai bingung mau mendengarkan lagu apa lagi 😊. Keunggulan bagi pengguna premium salah satunya adalah layanan playlist bisa di-unduh untuk didengarkan secara offline.

Berbagai pengalaman dengan layanan musik yang sudah hadir di lebih 58 negara ini, sering saya share di akun Twitter. Terakhir mengenai fitur Spotify Running, rekomendasi lagu secara medley sesuai dengan tempo saat berlari, yang diakses menggunakan smartphone. Jadi misalnya saat saya berolahraga pagi lari-lari kecil, sambil buka aplikasi Spotify di smartphone, si aplikasi mendeteksi berapa tempo kecepatan lari kita. Nah dari situ, kemudian disesuaikan sajian playlist dari Spotify. Untuk experience & interface saya sudah coba Spotify di semua format mulai iPhone, Android, OS X, hingga Windows PC, tidak ada yang mengecewakan.

Saya berharap semoga layanan ini tidak terkendala dengan syarat-syarat PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik) asing yang buka di Indonesia, seperti halnya yang terjadi pada Netflix, yang digaungkan pihak Kemkominfo beberapa waktu lalu. Juga seperti dikatakan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, yang menyatakan sikap tegas kepada semua penyedia layanan over the top (OTT) yang beroperasi di Indonesia. Semua harus berbentuk usaha tetap (BUT) jika ingin melanjutkan layanannya.

Oiya karena saking ‘cintanya’, terhitung sudah tiga kali saya coba apply pekerjaan di Spotify via Spotify Singapore. Mulai dari Account Manager – Label Relations (Jan. 2014), Music Editor Indonesia (Des. 2015), kemudian Account Manager – Label Relations Southeast Asia (Mar. 2016). Belum ada yang tembus 😄.

Goodluck, Spotify Indonesia!

Kredit foto: PhotoPin

Selamat Hari Musik Nasional 2016

IMG_1840

Analog atau digital? Selamat Hari Musik Nasional

Hari ini 9 Maret 2016, bertepatan dengan datangnya Gerhana Matahari Total di beberapa wilayah Indonesia, bertepatan juga dengan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1938, dan pastinya 9 Maret adalah merupakan Hari Musik Nasional yang oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013, dan Hari Musik Nasional bukan merupakan Hari Libur Nasional.

Dalam Keppres tersebut menyebutkan, penetapan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional mempertimbangkan bahwa musik adalah ekspresi budaya yang bersifat universal dan multi dimensional, yang mempresentasikan nilai-nilai luhur kemanusiaan, serta memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Tulisan kecil saya yang agak berbeda dalam rangka Hari Musik Nasional 2012 lalu, ada di tautan blog berikut ini.

Dalam konteks HMN, hari ini saya juga baru tahu ada gagasan Bank Musik, sekilas melihat update twit dari akun pak Menteri Pemuda dan Olah Raga, Imam Nahrawi. Mengutip dari situs Antara penjabaran soal bank musik tersebut: Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) berencana mendirikan bank musik pertama Indonesia, yang akan menjadi wadah untuk mengumpulkan, melestarikan, dan mengembangkan musik dan lagu yang ada di seluruh Tanah Air. Konsep ala “gudang lagu” tersebut kelak akan dilengkapi dengan fasilitas digital yang turut memberikan kemudahan kepada seluruh masyarakat untuk dapat mengakses musik, dengan terjaga hak ciptanya dan terhindar dari pembajakan. Fasilitas penyedia musik ini juga akan didukung dengan sistem transaksi.

Saya sendiri belum terlalu memahami bagaimana arah dari inisiasi bank musik versi Kemenpora ini, namun kalau boleh saya sedikit tebak-tebak sebenarnya konsep ini tidak jauh berbeda dengan membangun DSP (Digital Service Provider), apalagi jelas disitu disebutkan bahwa ‘fasilitas penyedia musik’, ‘sistem transaksi’ dan juga bicara soal ‘akses’. Entah seperti apa nanti bentuk atau jenis platform yang akan dibuat, trus bagaimana juga dengan model bisnis yang ditawarkan, kita tunggu saja realisasi DSP versi ‘pemerintah’ ini.

Melihat konteks Hari Musik Nasional (HMN), menurut saya, tidak perlu secara muluk-muluk. Berbicara soal pembajakan mungkin sudah agak basi untuk selalu dijadikan kambing hitam. Kita sudah pahami bersama situasi ‘industri musik’ kita beberapa tahun terakhir memang seperti ini. Coba kita berpikir secara sederhana dan mandiri. Yang diperlukan sekarang adalah kreatifitas tanpa batas, karya musik yang bagus, dan peran komunitas/ekosistem. Misal kalau melihat movement ala Record Store Day Indonesia tahun 2015 yang sudah menyebar ke berbagai kota: Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Solo, Malang, dll. Belum lagi susulan event ala Cassette Store Day yang juga merambah beberapa kota, pastinya bisa menjadikan dan memotivasi ekosistem musik di tiap daerah untuk terus tumbuh dan berkembang. Saya membayangkan di tiap kota di Indonesia ada ekosistem musik yang kreatif (baik secara analog maupun digital), saling membangun dan mendukung, itulah wujud HMN yang sebenarnya dan bisa dirayakan kapanpun!

Di era presiden Jokowi saat ini kita juga sudah melihat adanya gerakan dan gebrakan untuk melindungi para pemangku kepentingan. Seperti Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly melantik 10 orang yang antara lain merupakan musisi dan pencipta lagu sebagai komisioner Lembaga Manajemen Kolektif Nasional Pencipta dan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional Hak Terkait untuk menetapkan cara pendistribusian dan besaran royalti. (Kita tunggu hasil kerja LMKN). Kemudian ada juga penutupan situs download lagu ilegal oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia. Belum lagi adanya Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang dikepalai Triawan Munaf, musik juga dijadikan fokus utama. Mungkin, dengan adanya kerjasama lintas kementerian terkait dengan satu misi yang sama, bisa jadi akan menjadi satu bentuk ‘penyelamatan’ nyata bagi musik dan musisi Indonesia.

Memang sepertinya permasalahan soal ‘musik’ ini cukup pelik dan rumit. Tapi inilah dunia musik, yang merupakan ‘bisnis besar’, seperti twit saya hari ini. Kita belum melihat sisi lain dari bisnis musik ini, misalnya: artist agency, music promoter, publishing, artist management, musik ventura, merchandising, touring dan masih banyak bisnis kreatif lainnya yang berkaitan.

Oya, minggu ini saya baru update ke beberapa manajemen artis hingga recording company mengenai harga dan budget artis yang dinaungi untuk satu kali penampilan/konser, wuihhh ruarr biyasaaa semuanya… (larang kabeh) 🐒 !! Itulah mengapa saya selalu suka ungkapan berikut ini: “There’s No Business Like Music Business”. 🤑

Kredit Foto: Adobe Post

Teknologi Blockchain untuk Industri Musik

10211902263_495d100503_b

Dalam satu artikel di situs WEF (World Economic Forum) pada 23 Februari 2016 lalu, ada ulasan menarik mengenai teknologi blockchain yang bakal dianggap mampu merevolusi industri musik. Blockchain ataupun bitcoin semuanya adalah hal yang saling berkaitan.

Mengutip penjelasan dari blog Bitcoin Indonesia: “Bitcoin telah melahirkan sebuah metode unik untuk mencatat semua transaksi keuangan yang terjadi tanpa perlu mengandalkan sistem perbankan yang ada. Teknologi tersebut dikenal dengan nama ‘Blockchain’. Tidak peduli seberapa berhasilnya mata uang digital ini, teknologi yang menggerakkannya itulah yang sangat penting. Salah satu menteri di dunia bahkan menyatakan bahwa Blockchain dapat membuat bank sentral dianggap sebagai sesuatu yang kuno atau tidak dibutuhkan lagi.”

Apakah blockchain itu? Berikut penjelasannya… Bank mencatat semua transaksi finansial yang mereka lakukan di dalam sebuah ‘buku besar’ (atau ‘ledger’). Berpuluh-puluh tahun yang lalu, buku besar ini mungkin berbentuk ratusan buku tua yang sudah berdebu. Setiap kalimat baru yang muncul di dalam buku besar merupakan catatan transaksi yang baru terjadi. Catatan-catatan ini sekarang sudah didigitalkan, namun buku besar tersebut masih dimiliki dan dikontrol oleh suatu bank.

Blockchain itu unik karena buku besar yang ini tidak dikelola oleh satu organisasi atau pihak tertentu. Sebaliknya, catatan buku besar ini disebarluaskan secara publik dan dikelola oleh ribuan komputer di dunia dalam waktu yang bersamaan. Anda dapat melihat seluruh catatan transaksinya disini — coba cek, isinya sangat menakjubkan.

Buku besar yang dapat diakses dan dikelola oleh publik ini adalah kekuatan utama Blockchain. Setiap komputer yang terdapat di dalam jaringan dapat membuat catatan baru tentang transaksi yang baru terjadi, jelas Oscar Darmawan, Direktur Utama dari Bitcoin Indonesia. Ketika transaksi sudah dicatat di dalam buku besar global ini, sangat mustahil bagi siapapun untuk menghapus catatan transaksi tersebut.

Dan mengapa blockchain itu dianggap hal penting? Berikut rinciannya… Blockchain membuat transaksi pembayaran dapat terjadi dan tercatat tanpa menggunakan buku besar yang dikelola oleh sebuah bank. Awalnya, hal ini memang penting bagi Bitcoin (mata uang pertama yang beredar menggunakan teknologi tersebut) saja, namun kini teknologi buku besar tersebut mulai dapat digunakan dan diaplikasikan untuk apapun.

Seperti yang ditulis oleh seorang venture capitalist terkenal yang bernama Marc Andreessen: “Untuk pertama kalinya, Blockchain memberikan kesempatan kepada seorang pengguna Internet untuk mengirimkan sebuah properti digital yang unik ke pengguna internet yang lain. Transaksi yang terjadi dapat dijamin aman, dan semua orang dapat mengetahui bahwa suatu transaksi telah terjadi dan tidak ada seorangpun yang dapat melawan fakta tersebut.”

Kembali merujuk pada artikel di situs World Economic Forum tadi, penyanyi pop dan penulis lagu asal Inggris Imogen Heap sedang merintis konsep “fair trade” yang ditujukan bagi industri musik yang bertujuan untuk ‘menyingkirkan’ media perantara semacam iTunes dan Spotify, dengan memberikan hak kepemilikan yang lebih bagi musisi terkait dengan uang dan data yang tercipta dari hasil karya.

Single terkini Imogen Heap berjudul “Tiny Human”, yang dirilis tahun lalu melalui situs Ujo Music, dimana konsumen dapat membeli lagu tersebut, berikut data lagu secara lengkap, menggunakan cryptocurrency yang dinamakan Ether. Hasil penjualan lagu langsung didistribusikan kepada produser, pencipta lagu dan engineer yang terlibat di dalam produksi lagu tersebut.

Melalui single “Tiny Human” adalah merupakan awal mula bagi Imogen Heap yang sebenarnya sedang melakukan eksperimen, yaitu dengan membangun sebuah ekosistem musik secara menyeluruh yang disebut “Mycelia”. Heap ingin menciptakan satu platform gratis dimana musisi mampu melakukan kontrol terhadap data dari lagu-lagu mereka, dimana lagu tersebut beredar diantara penggemar dan musisi lain, termasuk berkaitan dengan kredit lagu, kapan dan dimana lagu itu diputar, dan transaksi apapun yang berkaitan dengan lagu tersebut. Semua informasi ini terlacak dengan menggunakan teknologi blockchain.

blockchain

Infografis yang menjelaskan cara kerja Blockchain

Bagi saya pribadi yang bukan merupakan ahli ekonomi dan keuangan serta bukan pengamat teknologi terkini, kesimpulan sederhana dari semua bahasan ini adalah bahwa satu kemajuan teknologi ala blockchain pada dasarnya adalah bertujuan untuk mengurangi atau menghapus keterlibatan pihak ketiga, keempat dst. Musisi atau pencipta lagu akan lebih diuntungkan serta memiliki lebih banyak kontrol, dan konsumen akan secara lebih mudah mengakses dan mendapatkan musik yang diinginkan. Mungkinkah model bisnis ini bisa diterapkan disini? Dan mampukah industri musik kita untuk mengadopsi? 💤💤💤

Oiya, saya juga baru tahu kalau saat ini nilai 1 BTC adalah sama dengan Rp 5.797.700,- (per 29 Februari 2016). Sewaktu awal-awal dulu baca artikel seputar Bitcoin sepertinya masih senilai sekian ratus/ribu rupiah saja… mungkin saya agak terlambat untuk mengenal dan memahami Bitcoin 🤑.

Dan masih panjang perjalanan dan kisah untuk Bitcoin… di Indonesia.

 

Kredit Foto: Photopin

Referensi: Bitcoin Indonesia, World Economic Forum, Financial Times

Membangun Pabrik Pres Vinyl di Indonesia

Dalam kurun waktu 2-3 hari ini saya lumayan “gelisah”, setelah menerima balasan email secara rinci dari satu pabrikan di benua Eropa sana, kaitannya dengan mesin pres piringan hitam/vinyl dengan teknologi terkini yang saya tanyakan. Biar saya tidak gila memikirkan ide ini, maka saya tulis saja uneg-uneg disini 🤗.

Oiya, jika kalian adalah merupakan generasi Y atau generasi Z yang belum terlalu memahami apa itu piringan hitam atau vinyl bisa baca artikel kesatu, kedua dan ketiga ini.

Ya, melalui tulisan di blog ini dan sedikit promo di akun Instagram saya berniat mencari investor atau pengusaha atau siapapun yang sekiranya sangat tertarik untuk berinventasi dengan mendirikan pabrik pres piringan hitam berikut urusan management serta music-business development, yang akan menjadi satu-satunya pabrik pres vinyl yang dibangun di Indonesia pada 2016 ini dan mungkin hanya satu-satunya vinyl pressings yang ada di Asia Tenggara. RIP Lokananta!

Memang semenjak ramainya era digital dan internet, musik download, musik streaming, file-sharing dll., penjualan produk-produk fisik seperti kaset, CD menunjukkan penurunan. Namun tidak demikian dengan vinyl atau piringan hitam, dimana sejak tahun 2010 menunjukkan tren peningkatan. Dan vinyl pun sebenarnya tidak hanya berwarna hitam, tapi multi-color.

Disini saya tidak akan membahas lanjut atau detail mengenai sangkut pautnya dengan industri musik Indonesia. Karena yang saya pikirkan dan saya lihat bahwa format vinyl ini dari dulu belum dianggap sebagai produk yang “jualan” bagi kalangan industri. Saya pribadi bukan merupakan penggila vinyl atau kolektor piringan. Saya hanya melihat ini sebagai satu peluang bisnis dan investasi, bagi mereka yang bermental pengusaha dan memiliki jiwa berkesenian. Sementara bagi musisi atau band-band anak bangsa, yang mandiri dan independen ataupun yang bergabung dengan perusahaan rekaman nasional, tentunya ini merupakan kesempatan bagus untuk mencetak karyanya dalam satu format piringan secara mudah, jika pabrik ini bisa terealisasi untuk dibangun. Tanpa harus jauh-jauh dan repot mencetak vinyl hingga ke Amerika Serikat, Ukraina, Italia, atau Canada.

Jadi adakah yang berniat membangun? Mungkin perlu juga dicari jalan dengan crowdfunding ala Kickstarter atau Indiegogo.

Berikut skema dari proses pres vinyl:

Newbilt

Record extrusion and pressing process

 

David Bowie: Music Itself Is Going To Become Like Running Water Or Electricity…

Kemarin sekilas baca artikel tentang David Bowie yang merilis album baru The Next Day, terus teringat satu artikel di New York Times beberapa tahun yang lalu tepatnya di bulan Juni 2002.

Pada saat itu (2002) David Bowie ‘memprediksi’ keadaan 10 tahun kedepan tentang bagaimana bakal kondisi musik dan industrinya. Terbukti? Hampir mendekati menurut saya.

Davidbowie