Asuransi Musisi

black-and-white-music-headphones-life

Image: Pexels

Asuransi khusus untuk musisi? Ya, kenapa tidak…

Melihat masih belum terangkatnya “nasib” seorang musisi, entah sebagai pencipta lagu, pemain band, vokalis, gitaris, dll. atau bahkan mereka yang bekerja untuk musisi/manajemen artis (orang-orang dibalik layar), kebutuhan akan asuransi bagi musisi itu sendiri semestinya layak untuk dipikirkan mulai sekarang. Meski agenda dari program BPJS tetap berjalan dan gencar, saya yakin tidak serta merta mereka yang terjun dan hidup dari kegiatan bermusik sadar akan kebutuhan (asuransi) ini.

Saat ini kegiatan industri kreatif khususnya dengan sekian belas sub sektor, yang sudah dirancang dan dikerjakan oleh BEKRAF, memang sedang ramai digalakkan dan mendapat sambutan yang antusias dari berbagai kalangan pelakunya, baik komunitas, pebisnis, dan media. Musik sebagai salah satunya, tanpa harus berbicara dalam lingkup “industri” yang sebenarnya, merupakan peluang besar dan kesempatan emas apabila mampu diolah dan di-manage secara serius, transparan dan profesional.

Melihat pengalaman-pengalaman dari musisi senior kita (yang telah berpulang), tentunya agak miris bila melihat dan membaca kisah dulu di saat masa populer dan jayanya, namun di hari tuanya nampak terlunta dan “terbuang”, dan tidak ada hal yang cukup berarti untuk diwariskan kepada anggota keluarganya ataupun hak waris. Kita harus mampu belajar dari sejarah dan kisah-kisah pahit itu.

Bukannya berpromosi, selain memikirkan aset-aset karya kita, saat ini kita sebagai musisi mulai harus memikirkan tiga hal ini: asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dan asuransi kecelakaan, ataupun kebutuhan asuransi lainnya. Mungkin ada startup + venture capital yang berminat untuk handle program/platform terkait ini?

Album Perdana Paduan Suara Dialita “Dunia Milik Kita”

Print

Daftar Lagu:
1. Ujian, diaransemen dan dimainkan bersama Frau
2. Salam Harapan, diaransemen dan dimainkan bersama Cholil Mahmud
3. Di Kaki-Kaki Tangkuban Perahu, diaransemen dan dimainkan bersama Sisir Tanah, Frau dan Lintang Radittya
4. Padi Untuk India, diaransemen dan dimainkan bersama Sisir Tanah
5. Taman Bunga Plantungan, diaransemen dan dimainkan bersama Kroncongan Agawe Santosa
6. Viva GANEFO, diaransemen dan dimainkan bersama Sisir Tanah
7. Lagu Untuk Anakku, diaransemen dan dimainkan bersama Cholil Mahmud
8. Kupandang Langit, diaransemen dan dimainkan bersama Frau dan Lintang Radittya
9. Dunia Milik Kita, diaransemen dan dimainkan bersama Cholil Mahmud dan Lintang Radittya
10. Asia Afrika Bersatu, diaransemen dan dimainkan bersama Nadya Hatta, Prihatmoko Catur dan Lintang Radittya

“Dunia Milik Kita” yang merupakan judul album perdana Paduan Suara Dialita akan dirilis secara digital dan dapat diunduh bebas pada hari peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia, 17 Agustus 2016. Album ini bertujuan sebagai “silent monument tragedi 1965”, yaitu sebuah monumen yang akan mengingatkan kita untuk menyampaikan kepada publik tentang kebenaran sejarah masa lalu dan mencegah terjadinya peristiwa serupa oleh karena ketidaktahuan sejarah. Semangat kemerdekaan bangsa Indonesia dijadikan sebagai momen tepat untuk mendistribusikan lagu-lagu Dialita yang direkam pada bulan Maret lalu dengan dukungan dari Indonesia Visual Art Archive (IVAA).

Lagu-lagu Dialita diciptakan oleh tahanan politik saat dipenjara dan ada juga yang diciptakan saat sudah bebas di masa rezim Orde Baru. Pada masa Orde Baru situasi politik berada dalam tekanan dan keterbatasan, sehingga para eks-tapol tidak dapat dengan mudah hidup dalam sistem yang seperti itu. Peristiwa-peristiwa politik seperti ini yang dimulai dari penggulingan paksa masa pemerintahan Soekarno pada 1965, pergantian pemerintahan dengan rezim Orde Baru, dan munculnya kekerasan yang menyertai semakin bertumpuk tanpa adanya penyelesaian oleh Negara. Musik sebagai bentuk dari seni budaya popular dipilih untuk menyampaikan peristiwa-peristiwa yang terbatas diceritakan tersebut. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan oleh Paduan Suara Dialita yang terdiri dari para penyintas dan keluarganya. Pilihan lagu yang dinyanyikan Dialita adalah lagu-lagu bersejarah. Getaran syair kehidupan dari lagu yang dinyanyikan, berisi pujaan kepada tanah air Indonesia, kerinduan seorang Ibu di dalam kamp pada anak-anak yang mereka tinggalkan, perjuangan hidup dalam kekangan, semangat keragaman dalam perbedaan, solidaritas hingga impian dan harapan akan kehidupan yang harmonis tanpa penindasan.

Dilita bersama musisi muda berkolaborasi menciptakan aransemen ulang lagu-lagu tersebut dan merekamnya untuk didistribusikan secara gratis melalui situs web http://yesnowave.com/. Musisi tersebut antara lain Frau, Sisir Tanah, Cholil Mahmud, Nadya Hatta, Prihatmoko Catur, Kroncongan Agawe Santosa dan Lintang Radittya. Lagu-lagu yang direkam adalah “Asia Afrika Bersatu”, “Dunia Milik Kita”, “Kupandang Langit”, “Lagu Untuk Anakku”, “Padi Untuk India”, “Di Kaki-kaki Tangkuban Perahu”, “Taman Bunga Plantungan”, “Salam Harapan”, “Viva GANEFO”, dan “Ujian”. Aransemen lagu-lagu tersebut dimaksudkan untuk memberikan nuansa baru yang sesuai dengan selera musik generasi muda di masa sekarang, yakni generasi muda yang tidak mengetahui peristiwa kekerasan 1965 yang jumlah-nya semakin bertambah dan juga memberikan perspektif lain atas korban peristiwa tersebut. Album ini dipublikasikan dengan menggunakan lisensi Creative Commons yang memberikan akses terbuka bagi publik untuk menyebarkan, menyalin, menggunakan dan menggubahnya secara bebas sehingga mampu mengembangkan aset karya seni budaya kita ke bentuk-bentuk baru. Album ini juga dibuat dalam bentuk CD bersama dengan booklet bersisi sejarah dibalik terciptanya lagu-lagu tersebut yang akan dirilis mendatang. Desain sampul album didesain oleh Wok The Rock dengan ilustrasi tanaman pangan liar yang digambar oleh Wedhar Riyadi.

Yes No Wave Music adalah sebuah label rekaman non-profit yang mendistribusikan musik
secara unduh bebas melalui jaringan internet dengan tujuan memberikan akses informasi dan karya seni secara terbuka dengan menggunakan lisensi Creative Commons.

Informasi lanjut: kontak Venti Wijayanti +6285 634 224 30, venti.wijayanti@gmail.com

Ben Sihombing: Set Me Free

Print

Ben Sihombing: Set Me Free

Sudah hampir sebulan lewat mendengarkan via Spotify Premium single baru dari pendatang baru di musik tanah air ini, Ben Sihombing, dengan single perdananya “Set Me Free”.  Saya menyempatkan untuk sedikit menuliskannya di blog ini.

Tidak banyak komentar yang akan saya berikan, tapi gaya pop ballad minimalis ini sedikit ‘menggugah’ hati saya. Ditambah dengan karakter vokal Ben Sihombing yang memang agak ‘unik’ dan memiliki daya tarik, menurut saya.

Lagu “Set Me Free” meski berbahasa asing, cukup hanya diperdengarkan 2-3 kali langsung bisa nyantol di kepala. Materi yang cukup simpel tapi berbobot. Kalau pihak label rekamannya jeli dan jitu, materi ‘kuat’ ini bisa memiliki peluang untuk diekspansi dan dieskpor ke negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand bahkan Filipina. Ohhh, kenapa tiba-tiba saya langsung teringat dengan lagu yang lumayan populer 20 tahun lalu ini ya: Nice Stupid Playground – Bedroom Window, hi… hi… hi…

Saya berharap nantinya ada (banyak) lagu Ben Sihombing yang berlirik bahasa (Indonesia). Supaya karakter, positioning dan brand-nya bisa lebih terbangun. Selamat datang Ben Sihombing di musik tanah air, Sabang sampai Merauke siap menyambutmu…

 

Ben Sihombing: Set Me Free (Media Release)

Indonesia kini memiliki penyanyi solo pendatang baru bertalenta tinggi bernama Ben Sihombing. Pemilik nama lengkap Christopher Ben Joshua Sihombing merilis single perdana bertajuk ‘Set Me Free’ yang menceritakan tentang arti sebuah ikatan yang di interpretasikan sebagai pernyataan atas sebuah hubungan kuat di dalam kehidupan manusia yang hanya relatif singkat.

Di single ini Ben menyajikan suatu warna pop folk ballad yang tidak banyak menggunakan instrumen. Hanya gitar yang ia mainkan yang mengiringi suara emas Ben dalam lagu yang bernuansa sendu ini. Single ini nantinya yang akan merepresentasikan bagaimana Ben akan mengambil jalur musik yang akan dimainkan dan ditawarkan kepada pencinta musik Tanah Air.

Dalam single tersebut, Ben yang juga adik kandung dari musisi Petra Sihombing tersebut ingin menciptakan kesan easy on ears dan lights, serta direct statement yang menjadi tujuan dari lagu ini dijadikan single perdana dari Ben Sihombing yang dipersembahkan kepada seluruh pencinta musik tanah air Indonesia demi terciptanya apresiasi personality terhadap musik Indonesia yang lebih signifikan di masa yang akan datang.

Ben, yang juga kerap terlibat dalam pembuatan lagu-lagu sang kakak Petra Sihombing, mengatakan bahwa tema simplicity ia bawa dalam menciptakan lagu-lagu dengan memberikan sentuhan yang bersifat hidup dan natural pada setiap bagian lagu yang dianggap inti dari suasana lagu.

“Gue ingin orang enggak hanya mendengarkan lagunya doang tapi juga ingin mereka merasakan perasaan gue saat itu yang coba disampaikan lewat lagu,” ujar Ben tentang single-nya tersebut.

Info: E-Motion Entertainment

Bisnis Penerbit Musik

Refe_56a4d763571cd_HX6YSHGXRB

Music + Publishing

Sudah ada rencana beberapa waktu lalu untuk menulis soal music publishing alias penerbit musik. Hingga akhirnya pada tanggal 15 Maret kemarin membaca tautan artikel dari PR Newswire dan majalah Forbes yang memberitakan Michael Jackson (almarhum) melalui The Estate of Michael Jackson (The Estate) dan Sony Corporation telah bersepakat untuk menjual separuh (50%) hak kepemilikan Michael Jackson di Sony/ATV Music Publishing untuk diberikan secara penuh kepada Sony Corporation. Perjanjian ini senilai 750 juta dollar Amerika yang pastinya akan diterima oleh ahli waris Michael Jackson. Berapa rupiahkah nilai tersebut? Mungkin sekitar 9.825.000.000.000 rupiah atau pastinya bisa dihitung disini.

Saya pernah membaca kisah awal mengenai Michael Jackson yang pada waktu itu mulai naik daun ‘booming’ saat album Thriller mulai menghangat, belum paham mengenai apapun soal konsep music publishing, hingga akhirnya Michael bertemu Paul McCartney pada tahun 1982 di London saat keduanya melakukan rekaman untuk duet lagu Say, Say, Say. Paul menunjukkan kepada Michael satu buku yang berisi catatan mengenai hak/kuasa atas lagu-lagu yang dia beli dalam dekade sebelumnya, dan dia juga menunjukkan serta meyakinkan Michael hasil perolehan royaltinya hanya dalam kurun waktu setahun mampu meraup hampir 40 juta dollar (saat itu).

Begitu Paul selesai berbicara menjelaskan mengenai music publishing ini, Michael pun memandang ke arah Paul dan mengungkapkan: “Some day I’m gonna own your songs”. Paul pun tertawa dan berkomentar: “Great, good joke!”. Dan bagaimana juga kisah Michael Jackson yang mampu mengakuisisi ATV, memiliki hak penuh atas katalog lagu-lagu The Beatles dan kemudian akhirnya berkongsi dengan Sony membentuk Sony/ATV? Laporan lengkapnya ditulis oleh situs Celebrity Net Worth.

Oya, berkisah soal Sony/ATV yang memiliki kontrol atas lagu-lagu terbaik yang pernah ditulis, seperti: “New York, New York”, “Hallelujah”, “All You Need Is Love”, “You’ve Got a Friend”, “Moon River”, “Jailhouse Rock”, “The Mission Impossible Theme”, “Ain’t No Mountain High Enough”, “Over the Rainbow”, “Stand By Me”, “I Heard It Through The Grapevine” dan “Singin’ in the Rain.”

Sebagai tambahan, Sony/ATV juga mewakili kuasa hak cipta atas artis-artis legendaris  seperti: The Beatles, Leonard Cohen, Bob Dylan, Marvin Gaye, Michael Jackson, Carole King, Kraftwerk, Joni Mitchell, Willie Nelson, Roy Orbison, Queen, The Rolling Stones, Richie Sambora, Sting, The Supremes, Wyclef Jean, Hank Williams dan Stevie Wonder. Termasuk mereka juga yang sering merajai tangga lagu dunia, penulis lagu dan produser: Akon, Avicii, Calvin Harris, Jessie J, Alicia Keys, Lady Gaga, P!nk, RedOne, Shakira, Ed Sheeran, Sam Smith, Stargate, Taylor Swift, Kanye West dan Pharrell Williams.

Di tulisan ini saya tidak akan menjelaskan detail mengenai apakah itu sebenarnya penerbit musik atau publisher. Bagaimana juga soal perjalanan ataupun kisah sepak terjang para penerbit musik di Indonesia dari dulu hingga sekarang, dan mulai kapan istilah music publishing ini dikenal di Indonesia? Silahkan cari sendiri via Google atau Bing.

Bisnis yang masih ‘awam’ ini, bahkan bagi kalangan dan pelaku musik-nya sendiri, merupakan bisnis yang sangat menjanjikan dan investasi besar/jangka panjang (IMHO). Mungkin ke depan saya juga ada niatan untuk membangun satu bentuk usaha music publishing ini. Dengan gaya serta konsep yang lebih simpel dan sistem administrasi yang transparan, untuk menjembatani para pencipta lagu dan mereka yang memiliki keterlibatan langsung dengan bidang usaha ini.

Keinginan dan cita-citanya sih ingin mengumpulkan semua katalog dari berbagai artis ataupun musisi independen (pop, rock, metal, dangdut, keroncong, lagu daerah, dll.) mulai dari era tahun 1990’an sampai dengan era saat ini. Tidak muluk-muluk untuk membangun dan berkeinginan untuk menjadi besar. Namun dengan rencana konsep small business ini mudah-mudahan mampu memberikan solusi, alternatif pilihan dan bisa menyesuaikan dengan era kemajuan teknologi sekarang. Namun masih banyak hal yang masih harus saya pelajari dan persiapkan. Dan hal ini pastinya banyak berkaitan dengan aspek legal/hukum. Apakah ada entertainment lawyer maupun advokat/konsultan HKI yang mau berpartner dengan saya? 😉

Kredit Foto: Refe

Referensi: PR Newswire, Forbes

Teknologi Blockchain untuk Industri Musik

10211902263_495d100503_b

Dalam satu artikel di situs WEF (World Economic Forum) pada 23 Februari 2016 lalu, ada ulasan menarik mengenai teknologi blockchain yang bakal dianggap mampu merevolusi industri musik. Blockchain ataupun bitcoin semuanya adalah hal yang saling berkaitan.

Mengutip penjelasan dari blog Bitcoin Indonesia: “Bitcoin telah melahirkan sebuah metode unik untuk mencatat semua transaksi keuangan yang terjadi tanpa perlu mengandalkan sistem perbankan yang ada. Teknologi tersebut dikenal dengan nama ‘Blockchain’. Tidak peduli seberapa berhasilnya mata uang digital ini, teknologi yang menggerakkannya itulah yang sangat penting. Salah satu menteri di dunia bahkan menyatakan bahwa Blockchain dapat membuat bank sentral dianggap sebagai sesuatu yang kuno atau tidak dibutuhkan lagi.”

Apakah blockchain itu? Berikut penjelasannya… Bank mencatat semua transaksi finansial yang mereka lakukan di dalam sebuah ‘buku besar’ (atau ‘ledger’). Berpuluh-puluh tahun yang lalu, buku besar ini mungkin berbentuk ratusan buku tua yang sudah berdebu. Setiap kalimat baru yang muncul di dalam buku besar merupakan catatan transaksi yang baru terjadi. Catatan-catatan ini sekarang sudah didigitalkan, namun buku besar tersebut masih dimiliki dan dikontrol oleh suatu bank.

Blockchain itu unik karena buku besar yang ini tidak dikelola oleh satu organisasi atau pihak tertentu. Sebaliknya, catatan buku besar ini disebarluaskan secara publik dan dikelola oleh ribuan komputer di dunia dalam waktu yang bersamaan. Anda dapat melihat seluruh catatan transaksinya disini — coba cek, isinya sangat menakjubkan.

Buku besar yang dapat diakses dan dikelola oleh publik ini adalah kekuatan utama Blockchain. Setiap komputer yang terdapat di dalam jaringan dapat membuat catatan baru tentang transaksi yang baru terjadi, jelas Oscar Darmawan, Direktur Utama dari Bitcoin Indonesia. Ketika transaksi sudah dicatat di dalam buku besar global ini, sangat mustahil bagi siapapun untuk menghapus catatan transaksi tersebut.

Dan mengapa blockchain itu dianggap hal penting? Berikut rinciannya… Blockchain membuat transaksi pembayaran dapat terjadi dan tercatat tanpa menggunakan buku besar yang dikelola oleh sebuah bank. Awalnya, hal ini memang penting bagi Bitcoin (mata uang pertama yang beredar menggunakan teknologi tersebut) saja, namun kini teknologi buku besar tersebut mulai dapat digunakan dan diaplikasikan untuk apapun.

Seperti yang ditulis oleh seorang venture capitalist terkenal yang bernama Marc Andreessen: “Untuk pertama kalinya, Blockchain memberikan kesempatan kepada seorang pengguna Internet untuk mengirimkan sebuah properti digital yang unik ke pengguna internet yang lain. Transaksi yang terjadi dapat dijamin aman, dan semua orang dapat mengetahui bahwa suatu transaksi telah terjadi dan tidak ada seorangpun yang dapat melawan fakta tersebut.”

Kembali merujuk pada artikel di situs World Economic Forum tadi, penyanyi pop dan penulis lagu asal Inggris Imogen Heap sedang merintis konsep “fair trade” yang ditujukan bagi industri musik yang bertujuan untuk ‘menyingkirkan’ media perantara semacam iTunes dan Spotify, dengan memberikan hak kepemilikan yang lebih bagi musisi terkait dengan uang dan data yang tercipta dari hasil karya.

Single terkini Imogen Heap berjudul “Tiny Human”, yang dirilis tahun lalu melalui situs Ujo Music, dimana konsumen dapat membeli lagu tersebut, berikut data lagu secara lengkap, menggunakan cryptocurrency yang dinamakan Ether. Hasil penjualan lagu langsung didistribusikan kepada produser, pencipta lagu dan engineer yang terlibat di dalam produksi lagu tersebut.

Melalui single “Tiny Human” adalah merupakan awal mula bagi Imogen Heap yang sebenarnya sedang melakukan eksperimen, yaitu dengan membangun sebuah ekosistem musik secara menyeluruh yang disebut “Mycelia”. Heap ingin menciptakan satu platform gratis dimana musisi mampu melakukan kontrol terhadap data dari lagu-lagu mereka, dimana lagu tersebut beredar diantara penggemar dan musisi lain, termasuk berkaitan dengan kredit lagu, kapan dan dimana lagu itu diputar, dan transaksi apapun yang berkaitan dengan lagu tersebut. Semua informasi ini terlacak dengan menggunakan teknologi blockchain.

blockchain

Infografis yang menjelaskan cara kerja Blockchain

Bagi saya pribadi yang bukan merupakan ahli ekonomi dan keuangan serta bukan pengamat teknologi terkini, kesimpulan sederhana dari semua bahasan ini adalah bahwa satu kemajuan teknologi ala blockchain pada dasarnya adalah bertujuan untuk mengurangi atau menghapus keterlibatan pihak ketiga, keempat dst. Musisi atau pencipta lagu akan lebih diuntungkan serta memiliki lebih banyak kontrol, dan konsumen akan secara lebih mudah mengakses dan mendapatkan musik yang diinginkan. Mungkinkah model bisnis ini bisa diterapkan disini? Dan mampukah industri musik kita untuk mengadopsi? 💤💤💤

Oiya, saya juga baru tahu kalau saat ini nilai 1 BTC adalah sama dengan Rp 5.797.700,- (per 29 Februari 2016). Sewaktu awal-awal dulu baca artikel seputar Bitcoin sepertinya masih senilai sekian ratus/ribu rupiah saja… mungkin saya agak terlambat untuk mengenal dan memahami Bitcoin 🤑.

Dan masih panjang perjalanan dan kisah untuk Bitcoin… di Indonesia.

 

Kredit Foto: Photopin

Referensi: Bitcoin Indonesia, World Economic Forum, Financial Times

Joey Alexander: Post-Grammy

joey

Joey Alexander bersama kedua orang tuanya, Denny Sila & Fara Urbach, di backstage Grammy Awards ke-58

Era riuh dan ‘hura-hura’ kabar pemberitaan Joey Alexander di Grammy Awards ke-58 masih nampak ramai dan bergaung disana-sini. Soal Joey tidak memenangkan award itu sama sekali bukan masalah besar, karena ajang Grammy ini menjadi titik mula bagi Joey & his journey untuk lebih melesat dan bersinar ke depannya. Saya yakin akan hal ini. Sebelumnya di akhir tahun 2015 lalu saya sedikit berkisah tentang Joey Alexander di blog ini.

Motéma Music selaku record company yang menaungi Joey Alexander, merupakan perusahaan rekaman independen dengan spesialisasi jazz dan world music, dengan segala pemberitaan dan ekspos tentang Joey Alexander mulai dari pra-Grammy, saat acara berlangsung ataupun paska-Grammy, tentunya akan ‘panen’! Saya tidak tahu bagaimana detail kontrak kerjasama antara Motéma Music dengan Joey Alexander (yang pastinya diwakili oleh orang tuanya), namun saya berharap perusahaan rekaman ‘kecil’ ini mampu membesarkan, me-manage, mendandani dan mendukung karir Joey dalam jangka panjang nanti hingga saat pensiun :D. Melihat jadwal pentas Joey Alexander atau agenda tour-nya yang sudah mulai merayap hingga 2017 membuat saya geleng-geleng gembira.

Oya, saya baru menyadari kemarin, bahwa keponakan Nafa Urbach ini adalah menjadi orang pertama Indonesia yang dinominasikan menerima Grammy Awards dan merupakan orang pertama Indonesia yang tampil di panggung Grammy. Dan tidak berlebihan pula presiden Jokowi yang pada saat bersamaan sedang berada di Amerika Serikat memberikan twit dukungannya. Dan saya, kami, atas nama musik, mewakili masyarakat Indonesia tentu bakal selalu memberikan dukungan untuk Joey Alexander.

Kredit Foto: Apple Music