Layanan Distribusi Musik Digital Terkini: FreshTunes

FreshTunes, sebuah layanan distribusi musik digital terbaru, mulai diperkenalkan ke pasar umum pada minggu lalu dan diharapkan mampu mendobrak dari layanan sejenis yang sudah ada, khususnya diperuntukkan bagi musisi independen di seluruh dunia – sebuah layanan gratis untuk mendistribusikan lagu-lagu dan karya musik ke hampir semua platform musik streaming yang ada dan hampir ke semua toko digital, yang bisa diakses langsung di www.freshtunes.com.

Beberapa fitur unggulan dari tampilan FreshTunes yang terkesan simpel dan mudah dipergunakan ini adalah sebagai berikut:

  • Pendaftaran secara gratis dan dalam kurun waktu 24 jam lagu-lagu langsung ter upload ke seluruh layanan digital – melalui menu yang mudah diakses artis bisa mengatur dan menyusun lagu-lagu yang ada, artwork, menambahkan deskripsi lagu dan memonitor langsung penjualan serta data statistik.
  • Seluruh lagu akan didistribusikan ke seluruh platform musik yang ada saat ini seperti: Spotify, Apple Music, iTunes, Deezer, GoogleMusic, Amazon music, Shazam, YouTube, SAAVN, Guvera dll.
  • Pihak FreshTunes tidak akan mengambil prosentase atau bagian dari pendapatan yang diperoleh artis, 100% seluruhnya menjadi hak milik artis.
  • Layanan tambahan juga tersedia seperti produksi artwork, produksi video lirik, ringtone, layanan promosi dari video-video milik artis ke dalam channel YouTube FreshTunes, layanan mastering LANDR dan layanan MFiT yang tersedia untuk memenuhi kualitas standar iTunes.

Model bisnis yang ditawarkan FreshTunes adalah transparan, mudah dan unik – karena FreshTunes mengandalkan pendapatan dari layanan tambahan yang ditawarkan dan dari bunga sisa pendapatan yang diperoleh tiap akun, dimana pengguna/artis dapat mengambil revenue yang diperoleh dalam kelipatan £25. Dengan cara ini bisa dipahami bahwa layanan yang tersedia akan selalu gratis untuk selamanya dan bagi siapapun.

FreshTunes mulai masuk ke pasar tepatnya pada musim semi 2016, dan layanan ini langsung melesat melampaui target, dengan pengguna ada di 84 negara, termasuk di Inggris, Amerika Serikat, Rusia, India dan Brazil.

Dalam kurun waktu enam bulan, FreshTunes telah meraih dan mengumpulkan hampir 50.000 lagu. Termasuk membawa salah satu bintang independen hip hop Oxxxymiron menjadi album nomor 1 di tangga lagu Hip Hop versi iTunes Russia, dan juga mendistribusikan karya musik milik Jamala, pemenang Eurovision Song Contest 2016 asal Ukrainia.

FreshTunes didirikan salah satunya oleh Nikolay Okorokov, yang berpusat dan berkantor di Dubai dengan didukung operasional dan teknis yang berkantor di Moskow, sebuah kota yang menjadi penghubung global bagi kepentingan teknologi dan kreatifitas. Startup ini juga telah menyiapkan kantor di Brazil dan Inggris.

Nikolay Okorokov mengatakan “Aku percaya kami telah menciptakan sebuah model bisnis baru yang cukup adil dan memberikan nilai tambah terbaik yang sangat menguntungkan bagi para musisi independen. Ini merupakan satu hal yang kami percaya akan menciptakan satu bentuk baru bagi distribusi musik digital. Begitu banyak artis saat ini memilih untuk menjadi artis independen, bahkan setelah meraih sukses dan popularitas global. Ini merupakan sebuah tren yang tidak akan hilang begitu saja dan FreshTunes secara total memberdayakan dan mendukung komunitas musisi independen di seluruh dunia untuk menjalani karir mereka sesuai dengan yang mereka harapkan.”

Okorokov yang saat ini berusia 38 tahun, dimana telah berkarir hampir lebih dari 20 tahun, memiliki catatan yang sangat mengesankan dalam dunia konten musik digital, teknologi dan bisnis komunikasi melalui beberapa perusahaan beragam yang dimiliki seperti Iricom, Rightscom, Kedoo, Sparrow studio animasi 3D dan label NDA. Pola pendekatan bisnis dari Okorokov yang cukup visioner, jiwa kepemimpinan dan kepekaannya terhadap kemajuan dunia digital, telah membawanya menjadi sosok yang sangat handal di pasar konten digital Rusia.

Sebagai tambahan, menurut Okorokov: “Semuanya akan menjadi gratis, karena setiap layanan tersebut mampu menjangkau semua orang, termasuk berkaitan dengan musik. FreshTunes memiliki model ‘freemium’, sementara layanan distribusi musik digital yang ditawarkan adalah gratis, dan jika pengguna menginginkan satu layanan tambahan, cukup mengeluarkan sedikit biaya. Kami memercayai bahwa setiap orang berhak untuk membagi karya seni yang dimiliki, membangun komunitasnya dan menjangkau seluruh audiens global tanpa mengeluarkan biaya.”
Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi: Indy Vidyalankara, indy@indypendentpr.com, 07881 822571

*Setelah melalui beberapa pengalaman langsung, saya memberikan penilaian untuk tidak merekomendasikan layanan distribusi digital ini. (Anton, Nov. 2016)

Spotify Indonesia

15966418065_ca394409ba_b

Selamat datang, Spotify Indonesia

Akhirnya yang ditunggu-tunggu bakal tiba… Begitulah kiranya ungkapan yang paling tepat untuk menyambut kedatangan layanan musik streaming yang berasal dari Swedia, Spotify, yang bakal bisa diakses di Indonesia mulai tanggal 30 Maret 2016.

Pada hari Minggu sore kemarin, kabar tersebut diberitakan melalui akun Twitter @SpotifyID, akun Twitter resmi Spotify Indonesia, akun yang sebenarnya telah dibuat sejak Agustus 2011 jauh sebelum Spotify masuk ke wilayah Asia: Malaysia, Singapura, Hongkong pada Juni 2013, selanjutnya menyusul Taiwan dan Filipina pada April 2014. Demikian juga hal ini diinformasikan melalui akun Facebook Spotify.

Saya sendiri sudah menggunakan layanan musik ini sejak hampir tiga tahun lalu. Awal pertama melakukan akses Spotify, karena belum bisa diakses di Indonesia, dengan menggunakan bantuan VPN baik di desktop ataupun mobile, kemudian baru pada Mei 2014 mulai mencoba sebagai premium subscriber alias pelanggan berbayar US $10 tiap bulannya, dimana saya membeli voucher premium yang bisa di-redeem, sampai dengan sekarang.

Tidak dipungkiri saya langsung jatuh cinta pada akses pertama dengan Spotify. Jauh sekali perbedaan yang saya rasakan saat mengakses platform yang hampir sama seperti: Deezer, Beats Music, bahkan dibandingkan dengan yang terkini Apple Music, sementara Tidal? (hi-fi sound quality? I don’t even care!)Spotify is soundtracking my life! Itu ekspresi yang paling tepat dan agresif terkait layanan musik ini. Mulai dari kita bangun tidur, beraktifitas di kantor, menjelang sore, saat di perjalanan balik ke rumah, hingga saat kita mau beranjak ke tempat tidur, Spotify memberikan pilihan playlist beragam yang bisa disesuaikan dengan mood kita saat itu. Mau berapa puluh juta lagu semuanya ada dan bisa dicari di layanan musik ini. Bahkan kadang saya merasakan lost in the digital era, karena sampai bingung mau mendengarkan lagu apa lagi 😊. Keunggulan bagi pengguna premium salah satunya adalah layanan playlist bisa di-unduh untuk didengarkan secara offline.

Berbagai pengalaman dengan layanan musik yang sudah hadir di lebih 58 negara ini, sering saya share di akun Twitter. Terakhir mengenai fitur Spotify Running, rekomendasi lagu secara medley sesuai dengan tempo saat berlari, yang diakses menggunakan smartphone. Jadi misalnya saat saya berolahraga pagi lari-lari kecil, sambil buka aplikasi Spotify di smartphone, si aplikasi mendeteksi berapa tempo kecepatan lari kita. Nah dari situ, kemudian disesuaikan sajian playlist dari Spotify. Untuk experience & interface saya sudah coba Spotify di semua format mulai iPhone, Android, OS X, hingga Windows PC, tidak ada yang mengecewakan.

Saya berharap semoga layanan ini tidak terkendala dengan syarat-syarat PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik) asing yang buka di Indonesia, seperti halnya yang terjadi pada Netflix, yang digaungkan pihak Kemkominfo beberapa waktu lalu. Juga seperti dikatakan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, yang menyatakan sikap tegas kepada semua penyedia layanan over the top (OTT) yang beroperasi di Indonesia. Semua harus berbentuk usaha tetap (BUT) jika ingin melanjutkan layanannya.

Oiya karena saking ‘cintanya’, terhitung sudah tiga kali saya coba apply pekerjaan di Spotify via Spotify Singapore. Mulai dari Account Manager – Label Relations (Jan. 2014), Music Editor Indonesia (Des. 2015), kemudian Account Manager – Label Relations Southeast Asia (Mar. 2016). Belum ada yang tembus 😄.

Goodluck, Spotify Indonesia!

Kredit foto: PhotoPin

Integrasi Layanan Musik Streaming di Mobil

spotoyo

Spotify + Toyota

Tanggal 7 Januari 2016 pagi kemarin hampir secara bersamaaan netizen nampak ramai dengan ‘hebohnya’ layanan Netflix yang mulai bisa diakses di Indonesia. Netflix adalah layanan streaming dari Amerika untuk film dan serial TV.

Saya tidak akan membahas soal Netflix ini, tapi saya ingin sedikit menulis soal konsep layanan musik streaming yang bisa terintegrasi dengan kendaraan roda empat alias mobil. Semenjak saya menggunakan dan mencoba beberapa layanan musik streaming internasional beberapa tahun lalu (mobile & desktop), mulai dari Spotify, Deezer, Rdio (RIP), Guvera, dll., saya berwacana kira-kira bagaimana bila layanan model ini bisa ‘ditanam’ di dalam satu jenis kendaraan pribadi. Saya pikir mereka yang sedang berkendaraan di jalan, di saat macet ataupun sedang berpacu, mungkin sudah jenuh dengan konsep radio FM saat ini. Memutar kepingan audio CD di mobil pun sudah jarang dilakukan bagi sebagian orang.

Saya berharap bahwa ada pengembang ataupun startup lokal yang memiliki konsep membuat layanan musik streaming dengan jumlah katalog lagu yang besar (puluhan juta lagu) dan bisa menciptakan satu perangkat yang built-in di dalam mobil, katakanlah perangkat itu terpasang di mobil kebanggaan nasional dan idaman semua kelas menengah kita, yaitu Toyota Avanza.

Berbicara mengenai platform, bisa menjadi pertimbangan: daripada harus memulai dari awal membangun sistem dan harus merintis kerjasama dengan perusahaan-perusahaan rekaman ataupun publisher karena berkaitan dengan konten dan katalog lagu, mungkin akan lebih mudah jika kita bisa langsung bekerjasama dengan penyedia layanan tersebut yang memang sudah established. Misal bekerjasama langsung dengan pihak Deezer, Spotify atau Guvera sebagai penyedia layanan konten.

Menyebut Toyota Avanza disini bukan tanpa alasan. Seperti kita semua ketahui bahwa mobil ini ‘merajai’ dari waktu ke waktu. Sepanjang Januari-September 2015, Toyota Avanza terjual sebanyak 91.828 unit atau menyumbang 38,9 persen pada penjualan Toyota Astra. Belum kita melihat varian lainnya seperti Toyota Kijang Innova yang terjual 36.512 unit. Bagi pihak Astra, layanan musik streaming ini mungkin bisa dijadikan sebagai add-on untuk tiap varian-nya.

Berbicara soal model bisnis yang ditawarkan adalah si startup tadi bekerjasama dengan satu produsen mobil nasional. Di dalam setiap penjualan unit mobil baru, sudah tersedia perangkat layanan musik streaming ini dimana bisa ditawarkan layanan tersebut gratis/trial selama 1 bulan sampai dengan 3 bulan. Untuk selanjutnya setelah masa trial tersebut habis, pembeli unit mobil tersebut bisa berlangganan setiap bulannya baik melalui berlangganan secara online, transfer bank ataupun membeli kode voucher melalui diler atau tempat layanan purna jual kendaraan tersebut yang ada hampir di setiap kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Atau bisa juga dibuat opsi layanan musik streaming dengan model freemium alias beriklan. Konsep ini juga bisa ditawarkan ke para pemilik mobil sejenis yang beredar sebelumnya.

Layanan musik ini belum termasuk paket data tentunya, jadi harus dijalin juga kerjasama dengan pihak penyedia layanan/provider internet yang sudah memiliki jaringan mumpuni dan mobile di seluruh nusantara untuk akses streaming.

Mungkin kita bisa hitung dengan berandai-andai dari hasil kerjasama tersebut, diluar biaya layanan data. Sebagai permulaan katakanlah ada 40% pembeli unit mobil Avanza baru tertarik untuk berlangganan. Jadi bisa dikatakan ada hampir 35.000 pengguna disini, dengan membayar biaya langganan musik streaming per bulan Rp 100.000,- misalnya, bisa mengakses dan memutar sekian puluh juta lagu. Dengan ‘jualan’ total sekitar Rp 3.500.000.000,- tiap bulannya, silahkan berhitung sendiri bagaimana untuk breakdown-nya 🤑.

Yang utama, jangan lupakan hak-hak musisi, para pencipta lagu dan para pemilik hak cipta yang ada di katalog tersebut tentunya ✌🏼.