Musik Ventura

 

24265835812_4bbbb91dda_k

Apple Music

Melalui tulisan ini saya ingin sedikit menyumbang ide berkaitan dengan ‘permodalan’ atau ventura. Beberapa hari lalu melalui Netflix menonton film Something Ventured. Kisah beberapa investor kenamaan yang menanamkan modalnya di Apple, Intel, Atari, Cisco, dll. Kemudian saya berpikir bagaimana jika konsep ala ventura tersebut diterapkan disini, dan berkaitan dengan musik.

Di Indonesia, mengacu kepada Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 1251/1988, perusahaan modal ventura dapat membantu permodalan maupun bantuan teknis yang diperlukan calon pengusaha maupun usaha yang sudah berjalan guna:

  • Pengembangan suatu penemuan baru
  • Pengembangan perusahaan yang pada tahap awal usahanya mengalami kesulitan dana
  • Membantu perusahaan yang berada pada tahap pengembangan
  • Membantu perusahaan yang berada dalam tahap kemunduran usaha
  • Pengembangan projek penelitian dan rekayasa
  • Pengembangan berbagai penggunaan teknologi baru dan alih teknologi baik dari dalam maupun luar negeri
  • Membantu pengalihan pemilikan perusahaan

Mengutip dari situs OJK (Otoritas Jasa Keuangan), yang dimaksud dengan Perusahaan Modal Ventura (Venture Capital Company) adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan/penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan (investee company) untuk jangka waktu tertentu dalam bentuk penyertaan saham, penyertaan melalui pembelian obligasi konversi, dan/atau pembiayaan berdasarkan pembagian atas hasil usaha.

Saya tidak akan membahas detail mengenai PMV ini, kalau ada yang paham dan mengerti dunia PMV secara rinci silahkan menambahkan dan berbagi disini. Dan sepertinya di tahun 2016 ini barangkali bisnis perusahaan modal ventura (PMV) akan lebih gegap gempita.

Disini saya hanya ingin menyinggung konsep sederhana musik ventura, permodalan yang dikhususkan dalam berbagai bentuk usaha di bidang (bisnis) musik. Secara khusus berhubungan dan berkaitan dengan pencipta lagu, music creator, musisi (solois atau band), yang secara lebih spesifik lagi masuk dikategori established. Ini juga bukan sekedar menyebut mereka yang punya uang besar atau investor, terus menganggap dirinya sebagai sosok executive producer saat menginvetasikan dananya bagi artis atau album rekaman tertentu. Ini merupakan usaha musik ventura dimana perusahaannya memang tercatat secara resmi di Otoritas Jasa Keuangan sebagai perusahaan modal ventura.

Selama beberapa belas dan puluhan tahun lalu sepertinya hanya perusahaan-perusahaan rekaman yang berperan dalam (industri) musik Indonesia. Entah apakah konsep musik ventura ini merupakan sesuatu yang baru di Indonesia ataukah sudah ada yang menjalankan sebelumnya? Bakal disruptive? Tapi bagi saya usaha ini lebih masuk akal untuk situasi dan kondisi ‘permusikan’ tanah air saat ini dan untuk menghadapi keadaan ‘industri’ dalam beberapa kurun waktu ke depan.

Disini peran PMV tidak hanya sekadar menanam uang dan menginvestasikannya. Tapi PMV juga berperan secara bisnis untuk membangun karir si artis di lingkup global, misalnya menyiapkan marketing plan yang populer, memberikan arahan strategis kaitannya dengan development, dan memberikan dukungan secara penuh di dalam menghadapi ‘pasar musik’ yang dinamis dan selalu mengalami perubahan.

Untuk menggambarkan wacana yang saya pikirkan ini, saya ingin memberikan contoh. Ada XYZ Band yang merupakan established artis di Indonesia, sebelumnya sudah merilis 5 album di satu major recording company dengan penjualan hingga ratusan ribu kopi baik format digital ataupun fisik. Tahun ini mereka berniat merilis album penuh secara independent dan berencana tour ke ratusan kota hingga luar negara, namun karena keterbatasan dana untuk produksi dan berpromosi akhirnya tertunda beberapa bulan. Kemudian datanglah ABC Kapitalika sebagai PMV. Terjadi diskusi, negosiasi dan berakhir dengan kesepakatan antara XYZ Band dan ABC Kapitalika.

Dari kesepakatan di atas bisa dijabarkan sebagai berikut:

  • ABC Kapitalika memberikan dana total sekitar 10 milyar untuk mendukung album terbaru XYZ Band dengan jangka waktu kerjasama 4 tahun. Dana ini untuk membiayai produksi album, marketing, branding, promosi, tour dll.
  • Selain dana, XYZ Band akan mendapatkan support secara total berkaitan dengan artist development, konsultasi bisnis, entrepreneurship, dan sebagainya.
  • ABC Kapitalika memperoleh keuntungan 15% dari semua pendapatan yang diperoleh XYZ Band, mulai dari penjualan album/single, penjualan merchandise, kontrak sponsor atau brand, pendapatan dari lisensi & synchronization, pendapatan dari kontrak tour, pendapatan dari penjualan tiket.
  • Karena merupakan PMV resmi yang tercatat di Otoritas Jasa Keuangan, maka kerjasama antara ABC Kapitalika & XYZ Band ini adalah merupakan kerjasama yang tercatat dan dimonitor oleh negara.

Jadi, siap-siap ber-ventura kita? 🤑

Kredit Foto: freestocks.org

 

Membangun Pabrik Pres Vinyl di Indonesia

Dalam kurun waktu 2-3 hari ini saya lumayan “gelisah”, setelah menerima balasan email secara rinci dari satu pabrikan di benua Eropa sana, kaitannya dengan mesin pres piringan hitam/vinyl dengan teknologi terkini yang saya tanyakan. Biar saya tidak gila memikirkan ide ini, maka saya tulis saja uneg-uneg disini 🤗.

Oiya, jika kalian adalah merupakan generasi Y atau generasi Z yang belum terlalu memahami apa itu piringan hitam atau vinyl bisa baca artikel kesatu, kedua dan ketiga ini.

Ya, melalui tulisan di blog ini dan sedikit promo di akun Instagram saya berniat mencari investor atau pengusaha atau siapapun yang sekiranya sangat tertarik untuk berinventasi dengan mendirikan pabrik pres piringan hitam berikut urusan management serta music-business development, yang akan menjadi satu-satunya pabrik pres vinyl yang dibangun di Indonesia pada 2016 ini dan mungkin hanya satu-satunya vinyl pressings yang ada di Asia Tenggara. RIP Lokananta!

Memang semenjak ramainya era digital dan internet, musik download, musik streaming, file-sharing dll., penjualan produk-produk fisik seperti kaset, CD menunjukkan penurunan. Namun tidak demikian dengan vinyl atau piringan hitam, dimana sejak tahun 2010 menunjukkan tren peningkatan. Dan vinyl pun sebenarnya tidak hanya berwarna hitam, tapi multi-color.

Disini saya tidak akan membahas lanjut atau detail mengenai sangkut pautnya dengan industri musik Indonesia. Karena yang saya pikirkan dan saya lihat bahwa format vinyl ini dari dulu belum dianggap sebagai produk yang “jualan” bagi kalangan industri. Saya pribadi bukan merupakan penggila vinyl atau kolektor piringan. Saya hanya melihat ini sebagai satu peluang bisnis dan investasi, bagi mereka yang bermental pengusaha dan memiliki jiwa berkesenian. Sementara bagi musisi atau band-band anak bangsa, yang mandiri dan independen ataupun yang bergabung dengan perusahaan rekaman nasional, tentunya ini merupakan kesempatan bagus untuk mencetak karyanya dalam satu format piringan secara mudah, jika pabrik ini bisa terealisasi untuk dibangun. Tanpa harus jauh-jauh dan repot mencetak vinyl hingga ke Amerika Serikat, Ukraina, Italia, atau Canada.

Jadi adakah yang berniat membangun? Mungkin perlu juga dicari jalan dengan crowdfunding ala Kickstarter atau Indiegogo.

Berikut skema dari proses pres vinyl:

Newbilt

Record extrusion and pressing process